October 6, 2007
Tumor di Rongga Dada Bayi
Masalah :
Dokter Waldi yang terhormat,
Sebenarnya, bayi saya sudah meninggal dunia. Berat lahirnya 2,6 kg, lahir normal. Walaupun saya sudah mengikhlaskannya, saya ingin menanyakan lebih jelas lagi tentang penyebab penyakitnya. Saya melahirkan di sebuah RS swasta terkenal. Berhubung bayi saya sudah punya kelainan pada paru-parunya, ia pun langsung dirawat di unit rawat intensif. Kelainan ini sudah diketahui semenjak masih dalam kandungan tujuh bulan, dengan ciri-ciri air ketuban kebanyakan. Oleh dokter kandungan, saya disarankan melahirkan di rumah sakit, karena bayi harus segera ditangani oleh dokter spesialis anak apabila ia ingin selamat.
Setelah lahir, pernapasannya dibantu mesin dan dilakukan pemotretan dengan foto komputer. Hasilnya, di dalam tubuhnya terdapat kista/tumor yang tepatnya berada di tempat paru-paru sebelah kanan. Paru-paru kanannya kempes dan kista tersebut sudah mendesak ke jantung dan paru-paru sebelah kiri. Kista tersebut harus diangkat, waktu itu umur anak saya baru seminggu. Operasi harus dilakukan, dengan harapan, paru-paru yang kempes tadi dapat berkembang dan normal seperti biasa. Operasi berjalan lancar, tinggal menunggu pemulihan, tetapi ia tetap dirawat di ruang intensif dengan napas masih dibantu mesin.
Kenapa ia tidak cepat-cepat lepas dari mesin, sedangkan perkiraan dokter kemungkinan ia bisa lepas dari mesin seminggu setelah operasi? Sampai meninggal pun anak saya masih dibantu mesin. Selama perawatan, kadar oksigen bayi saya selalu turun di bawah normal, kadang-kadang bagus, kadang-kadang jelek. Selain itu, setiap kali selesai diberi susu, oksigennya selalu menurun, bahkan kadang-kadang sampai muntah, sehingga kekurangan protein. ASI saya juga tidak keluar. Apakah kurangnya protein pada bayi bisa terjadi karena kekurangan ASI?
Pada hari ke-43, sempat pula bayi saya sampai kekurangan darah, sehingga harus menjalani transfusi, karena ia kelihatan pucat dan lemas. Setelah transfusi, ia kelihatan sehat dan aktif. Oksigennya pun bagus. Setelah usianya menginjak hari ke-46, ia kekurangan protein lagi. Badannya bengkak. Setelah dokter memberi obat, alhamdulillah kondisinya membaik dan oksigennya bagus.
Namun, takdir tak bisa dihindari. Esoknya, tepatnya perawatan hari ke-47, bayi saya meninggal. Kata perawat, anak saya mulai tidak bereaksi tiga jam sebelumnya, padahal hari sebelumnya kondisinya masih bagus dan aktif seperti biasa. Pada saat ia tidak bereaksi, dilakukan rontgen, dan hasilnya paru-paru sebelah kanan tadi yang sudah mulai mengembang baik sudah rusak seperti sarang lebah (bolong-bolong). Kata dokter, mungkin tidak kuat terlalu lama memakai alat bantu mesin, sehingga paru-paru tidak dapat berfungsi lagi dan tidak ada harapan untuk hidup.
Dok, apa tidak ada cara lain untuk membantu napas bayi selain dengan mesin pernapasan, sehingga terjadi kerusakan pada paru-parunya? Apakah penyakit ini sering atau pernah terjadi, karena menurut dokter di rumah sakit, penyakit begini sangat jarang, sehingga cara perawatannya pun seperti masih diraba-raba dan seperti penyakit yang baru. Padahal, rumah sakit tempat bayi saya ini paling baik di kota saya.
Ny. IS di B
Jawaban :
Ibu IS di B,
Mudah-mudahan, hari ini Ibu dalam keadaan baik-baik saja. Bagaimanapun, kematian anak kita, walau baru berumur sebulan, tetap saja meninggalkan duka. Saya ikut berduka-cita atas kepergiannya.
Tumor di paru atau di rongga dada sangat jarang, apalagi pada bayi. Biasanya, dokter akan mengirimkan tumor yang telah diangkat dari dada anak itu ke laboratorium tertentu (dikenal sebagai laboratorium patologi anatomi) untuk diperiksa jenisnya. Dan mestinya, Ibu diberitahu setelah pemeriksaan itu selesai, terlebih bayi Ibu masih dalam perawatan intensif berminggu-minggu setelah operasi. Rasanya, Ibu tidak menyebut-nyebut tumor gerangan apakah yang dioperasi tersebut. Ibu tidak memintanya? Rumah sakit tersohor mestinya memberitahukannya kepada Ibu.
Menjadi masalah besar di Indonesia untuk operasi bayi kecil, terutama segi perawatannya. Operasi bisa saja berhasil, tetapi bagaimana perawatan pasca-operasi sering justru lebih sulit. Bayi baru lahir belum punya kemampuan seperti anak atau dewasa. Pertahanan tubuhnya masih lemah, fungsi bagian-bagian tubuhnya (otak, paru, ginjal, hati) masih dalam tahap penyempurnaan. Menghilangkan tumor dari rongga dadanya memang betul harus dilakukan, tetapi paru yang tergencet berbulan-bulan di situ belum tentu mampu menjalankan fungsinya setelah gencetan dilepas.
Penggunaan mesin pernapasan tidak semudah menggunakan pompa air. Mesin akan menyudahi pekerjaannya, kalau paru dapat menjalankan tugasnya dengan normal. Tampaknya, paru bayi Ibu tidak demikian. Ia tak juga bisa mencapai fungsi normalnya, sehingga masih harus dibantu dengan mesin.
Perawatan yang lama di rumah sakit juga membawa konsekuensi tertularnya dengan kuman yang bermukim di rumah sakit. Konon, kuman di rumah sakit amatlah berbahaya dan lebih buas daripada kuman rumah-tangga. Infeksi karena kuman ini dikenal dengan infeksi nosokomial. Tenaga kesehatan amat takut dengan kuman-kuman ini, dan bila saja ia sampai menyerang orang sakit yang dirawat, sungguh perjuangan yang lebih berat yang harus dihadapi
oleh si sakit.
Sangat mungkin bayi Ibu akhirnya kena serang kuman ini setelah beberapa minggu dirawat. Kondisinya yang naik-turun (perlu transfusi, oksigen tidak bagus, atau protein kurang) memperlihatkan bahwa keadaannya belum stabil. Infeksi sangat mungkin menyelusup, terlebih kalau banyak pipa-pipa tambahan (infus, pipa napas) menghubungkan dunia luar dengan dunia dalam. Mungkin obat-obatan yang diberikan mula-mula masih sanggup membantu membasmi kuman, tetapi akhirnya tidak.
Saya pikir, kerusakan pada paru bukan lantaran ulah mesin pernapasan itu, tapi memang kondisi parunya memburuk, sehingga tak mungkin lagi melakukan tugasnya dengan baik. Perawatan yang demikian lama dengan kondisi yang naik-turun begitu bukannya tak mungkin membawa kecacatan di kemudian hari. Barangkali memang lebih baik bayi Ibu relakan pergi.
Rumah sakit terbaik di kota Ibu (bahkan mungkin di Indonesia) tidak menjamin perawatan yang sempurna untuk sebuah penyakit yang amat langka dijumpai. Malah, terkadang penyakit yang tidak langka pun bisa salah urus. Maklum, Indonesia, Bu. Kiranya, rumah sakit tetap perlu konsultasi ke tempat lain kalau kasus yang dirawatnya mengalami jalan buntu. Dunia komunikasi masa kini jauh lebih canggih dan baik daripada 2 - 5 tahun yang lalu, tetapi mungkin belum demikian untuk rumah sakit negeri di tempat Ibu - walau di ibukotanya sekali pun.
Dr. Waldi Nurhamzah, Sp.A
Sumber : Nova








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.