January 4, 2008
Bakterial Vaginalis Gara-Gara Pembersih!!!
Masalah :
Dokter Rifka,
Saya sekarang was-was sekali. Air seni saya bau anyir, kemudian jika buang air kecil saya sama sekali tidak bisa menahan, kemudian terasa seperti kembung dan penuh di perut saya. Kejadian ini kerap terjadi setelah saya berhubungan dengan suami. Maklum saya baru satu tahun menikah, mau tanya ke orang lain malu. Apakah karena hubungan atau lainnya. Saya kerap memperhatikan sanitasi bagian intim saya dengan baik, pake produk untuk mengurangi keputihan. Kemudian saya mengkonsumsi antibiotik, tapi rasa perih dan kembung tidak hilang, atau hilangnya lama. Apa yang terjadi dengan saya dok?
(Melati,_Pontianak)
Jawaban :
Hallo Melati, saya mengerti kegelisahan kamu saat ini. Berbagai permasalahan yang dapat terjadi pada organ reproduksi kita. Jika kita tidak mengerti dan paham betul dengan organ reproduksi kita sehingga akan membuat kita lalai dan ceroboh dalam menjaganya. Hal ini ditambah dengan organ reproduksi perempuan yang sangat kompleks yang kadang membuat kita tidak menyadari bahwa sedang terjadi masalah pada organ reproduksi kita.
Rata-rata 80% perempuan tidak mengalami gejala kalau terjadi infeksi pada organ reproduksinya. Sebenarnya untuk memastikan penyebab infeksi terjadi pada Miss V Melati adalah dengan dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan mengambil cairan dari vagina dan dilihat di bawah mickroskop untuk melihat kuman atau bakteri apa yang tampak sehingga dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. Karena tidak mudah untuk mendiagnosis keputihan dialami disebabkan oleh jamur, bakterial vaginosis, trikomonasis atau yang disebabkan oleh Infeksi Menular Seksual lainnya (IMS). Karena bisa saja disebabkan dari campuran lebih dari satu penyakit, sehingga harus tepat pengobatannya.
Berdasarkan ciri-ciri yang Melati sebutkan ada kemungkinan terinfeksi trikomonasis yaitu cairan vagina encer dan sakit saat kencing dan ketika berhubungan seksual. Ciri-ciri yang lain juga adalah vulva (bibir vagina) agak bengkak, merah dan gatal. Kemudian ada keputihan yang kekuningan atau kehijauan.
Dari riwayat yang Melati sebutkan melakukan usaha pengobatan sendiri bukanlah tindakan yang tepat. Justru akan memperparah keadaan, karena salah-salah obat akan membuat penyakit tersebut resisten (kebal terhadap obat) sehingga obat untuk pengobatan penyakit ini harus dalam pengawasan dokter.
Kemudian sangat disayangkan usaha yang Melati lakukan dengan menggunakan produk untuk mengurangi keputihan atau pembersih vagina. Karena justru akan menyebabkan bakterial vaginalis. Dimana sebenarnya di dalam vagina terdapat bakteri lactobacillus yang menguntungkan dan bertugas menjaga vagina dari masuknya bakteri yang merugikan. Jika menggunakan produk tersebut akan membunuh bakteri lactobacillus dan menjadi bakteri anaerob. Bakteri anaerob yang muncul karena sering menggunakan produk-produk pembersih vagina adalah gardnerella vaginalis. Ada juga bakteri anaerob yang disebabkan karena salah dalam membersihkan diri setelah buang air besar sehingga kuman E.coli bisa masuk ke dalam vagina. Ada pun ciri-ciri yang ditimbulkan dari bakterial vaginalis adalah keputihan yang berwarna putih dan keabu-abuan serta bau yang khas dan amis. Jika terlah terjadi campuran lebih dari satu penyakit sangat sulit untuk mendiagnosisnya sehingga harus dilakukan pemeriksaan laboratorium sederhana.
Saya sarankan Melati tidak melakukan usaha pengobatan sendiri dan harus pergi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat. Serta membawa pasangan untuk mendapatkan pemeriksaan yang sama. Karena jika tidak dan pasangan juga terinfeksi akan saling menularkan dan tidak akan pernah tuntas. Baiklah Melati semoga informasi ini dapat membantu kamu, jika masih ada yang kurang jelas silahkan hubungi kami langsung. Salam!!!
dr. Rifka
Sumber : Pontianak Post
Tags: Bakterial Vaginalis, Dr. Rifka, Pontianak Post Online







Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.