October 18, 2007
Persepsi Salah pada Penanganan Patah Tulang
Masalah :
Dokter yth.
Assalamualaikum wr. wbr.
DOK, anak saya laki-laki umur 4 tahun, dua minggu yang lalu jatuh dari kursi dan tangan kirinya membentur lantai. Akibat menahan tubuhnya, sikut kirinya bengkak dan ia mengeluh nyeri. Kemudian ia dibawa ke tukang urut, dan dikatakan ada tulang yang bergeser. Anak saya diurut kemudian tangannya digantung dengan kain. Sampai dua minggu anak saya masih mengeluh nyeri dan bengkaknya masih ada.
Pertanyaan saya:
1. Apakah benar anak saya menderita patah tulang? Berat atau tidak?
2. Kenapa sikutnya masih bengkak dan nyeri, padahal sudah diurut?
3. Bagaimana pengobatan patah tulang pada anak-anak, apakah harus dioperasi?
4. Apakah benar kalau patah tulang terjadi pada anak-anak bisa pulih lagi?
5. Apa yang harus saya lakukan untuk mengobati anak saya selanjutnya?
6. Bagaimana pertolongan pertama pada patah tulang?
Demikian pertanyaan saya, terima kasih.
Wassalamualaikum wr. wb.
Mamah M. Kavin Ziyanulhaq di Cianjur
Jawaban :
Yth. Ibu M.Kavin, waalaikumsalam wr.wb.
MENURUT saya, putra Ibu kemungkinan besar mengalami patah pada tulang lengan atas kiri (fraktur supracondylar humerus), karena patah tulang seperti ini secara statistik sering terjadi pada anak dengan posisi jatuh seperti itu.
Kenapa masih bengkak dan nyeri? Saya kira nyeri masih ada karena penanganannya tidak benar, sehingga proses penyembuhan tidak berjalan dengan sempurna. Benar bahwa patah tulang pada anak-anak (masa pertumbuhan) dapat kembali sembuh dengan fungsi yang sempurna dan umumnya tidak memerlukan tindakan operasi. Untuk dapat sembuh dengan fungsi yang sempurna harus ditangani dengan benar dan tepat. Untuk itu seperti pepatah dalam agama, mintalah pertolongan pada ahlinya.
Memang masyarakat umumnya menyangka jika patah tulang cukup diurut, dan berobat ke rumah sakit atau dokter harus operasi atau dipotong. Itu semua anggapan yang keliru. Yang benar, setiap patah tulang harus ditolong ahlinya supaya sembuh sempurna. Prasyarat utama pada suatu patah tulang adalah tidak boleh ada pergerakan yang membahayakan organ sekitarnya (urutan, pijitan, tarikan) dan penyembuhan akan terjadi jika posisi patahan baik dan difiksasi dengan benar (adekuat). Pengobatan oleh dokter atau di rumah sakit bertujuan untuk penyembuhan tulang dengan fungsi yang optimal dan tidak harus dengan operasi, bisa tanpa tindakan operasi.
Kenapa manipulasi pada daerah yang patah berbahaya? Karena pada patah tulang akan terjadi pecahnya pembuluh darah sekitarnya dan terjadi perdarahan, terlihat dengan adanya bengkak. Kemudian juga ada cedera jaringan lunak yang juga bisa menyebabkan bengkak. Tindakan awal adalah mengistirahatkan (immobilisasi) daerah yang patah supaya tidak banyak bergerak. Setiap manipulasi pada daerah yang patah memungkinkan terjadi gerakan patahan tulang yang akan menyebabkan luka baru, karena ujung patahan yang menusuk atau menggores jaringan di sekitarnya. Ini dapat menimbulkan penyulit (komplikasi) yang berbahaya misalnya saraf terjepit atau urat darah besar putus.
Pada urutan atau pijitan tidak hanya tulang yang bergerak, juga ada trauma pada jaringan lunak yang sudah cedera karena pijitan/tekanan secara langsung.
Jika setelah dua minggu masih bengkak dan nyeri, itu dimungkinkan karena selama itu lengan putra ibu hanya digantung sehingga masih ada gerakan-gerakan yang menyebabkan luka dan cedera baru pada daerah patahan. Hal ini menyebabkan proses penyembuhan tidak berjalan, sehingga memungkinkan komplikasi cacat atau tidak sembuh.
Biasanya mengoreksi penanganan yang salah memerlukan tindakan lebih sulit. Jika proses penyembuhan berjalan baik dalam waktu seminggu nyeri sudah sangat berkurang dan bengkak menyusut. Rasa nyeri ini hilang karena proses penyembuhan terjadi dan sudah tidak ada pergerakan tulang lagi karena sudah ada tulang lunak yang memegang patahan tulang. Bengkaknya pun menyusut karena sudah ada proses penyerapan oleh tubuh.
Untuk selanjutnya, saya sarankan secepatnya diperiksa oleh ahli bedah orthopaedi (SpBO/SpOT), supaya dapat ditentukan apakah posisi patah tulang putra Ibu baik (acceptable), perlu diperbaiki lagi, dan dikelola dengan cara yang benar sehingga bisa kembali normal.
Penanganan awal patah tulang, yaitu dengan memasang bidai/spalk atau apapun benda yang keras dan lurus pada tulang yang patah. Panjang bidai ini harus dapat memegang dua sendi sehingga gerakan akan dapat dicegah . Kemudian penderita dibawa ke rumah sakit.
Dr.H.Dadang Rukanta M.Kes., Sp.O.T., Bagian Bedah RS Al Islam Bandung, daeng_rs@yahoo.com.
Sumber : Pikiran Rakyat Online
Tags: Dr.H.Dadang Rukanta, Pikiran Rakyat Onlline, tulang







Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.