November 10, 2007
Apakah Rokok `Mild' Lebih Aman?
Masalah :
Assalamu'alaikum wr.wb.
Yth. Dr. Zubairi,
Suami saya, 40 tahun, adalah seorang perokok, dalam sehari dia bisa menghabiskan 1-2 bungkus rokok. Sekitar 2 bulan lalu, saat menjalani check up, diketahui kalau kadar gula darahnya tinggi. Kemudian suami saya mendapatkan penjelasan dari dokter bahwa penyakit diabetes dan kebiasaan merokoknya dapat menyebabkan ia terkena sakit jantung. Untuk menurunkan gulanya, dokter memberi obat serta menganjurkan suami diet. Masalahnya, ia sangat sulit menghentikan kebiasaan merokoknya.
Untungnya, ia mau memenuhi permintaan saya, sejak kami punya anak, untuk tidak merokok di dalam rumah. Namun untuk menghentikannya sama sekali tampaknya sulit sekali. Untuk itu, saat ini suami beralih ke rokok mild yang menurutnya lebih ringan sehingga risiko penyakitnya lebih rendah dan untuk membiasakan diri dengan kadar nikotin yang rendah sehingga lebih mudah berhenti.
Apakah pendapatnya tersebut benar? Apakah setelah beralih ke rokok mild ia akan lebih mudah berhenti merokok, karena saya lihat sampai sekarang ia belum juga berhasil mengurangi apalagi menghentikan kebiasaannya.
Lina, Yogyakarta
Jawaban :
Assalamu'alaikum wr.wb.
Rokok, memang memiliki dampak yang membahayakan, baik bagi yang merokok maupun orang yang mengisap asap yang dikeluarkan si perokok. Rokok dapat meningkatkan risiko kanker (tidak hanya kanker paru), sakit jantung, stroke, infertilitas, sampai impotensi. Polusi akibat rokok juga sama berbahayanya dengan polusi akibat pembakaran BBM.
Jika melihat iklan rokok di televisi, memang kelihatannya rokok-rokok yang berlabel mild atau light mempunyai efek yang lebih "ringan" dari rokok biasa. Biasanya digambarkan orang-orang yang mengisapnya akan terlihat lebih ceria dan selalu bergembira. Sementara rokok biasa mengesankan kejantanan dan terlihat lebih berat. Ini memang citra yang ingin ditampilkan oleh perusahaan rokok dalam memasarkan produknya.
Tapi, apakah benar rokok mild "kurang" berbahaya dibandingkan sigaret biasa? Analisis dari empat penelitian besar di Inggris memang menyimpulkan bahwa kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan merokok akan berkurang sebanyak 23% dengan mengurangi tar sampai 15 mg per batang rokok. Kematian karena penyakit jantung berkurang sampai 23% dan kematian karena kanker paru berkurang sampai 25%. Walaupun kelihatannya berkurang, namun sebenarnya pengurangannya kurang bermakna.
Analisis dari penelitian lain menyimpulkan bahwa rokok menyebabkan serangan jantung pada 4/5 perokok berusia 30-49, 2/3 pada usia 50-59, dan separuhnya pada usia 60-79. Risiko ini akan sedikit berkurang bila kadar tar per batang rokok dikurangi, namun perbedaannya tidak bermakna. Perbedaan yang bermakna baru ditemukan bila membandingkan risiko serangan jantung antara perokok dan bukan perokok.
Untuk diketahui, tar meliputi istilah yang luas, yaitu semua bahan-bahan kimia yang ada di asap rokok, tidak termasuk air dan senyawa alkaloid seperti nikotin. Tar diukur dengan protokol yang telah terstandarisasi menggunakan mesin khusus. Rokok yang termasuk ultra light adalah yang mengandung tar 1-6 mg, light 6-15 mg, dan regular atau full-flavor lebih dari 15 mg.
Survey di AS melaporkan bahwa angka kematian yang berhubungan dengan merokok tidak turun selama 30 tahun terakhir ini di mana konsumsi rokok mild semakin meningkat dan meluas.
Mengapa ini terjadi? Padahal jika dilihat dari kemasannya, kandungan tar pada rokok mild bahkan ultra-light sangat jauh dibandingkan rokok biasa. Hal ini terjadi karena perokok melakukan kompensasi dalam menghisap rokoknya yaitu menghisap rokoknya lebih dalam dan seringkali menjadi lebih banyak.
Sebuah penelitian di Jepang melaporkan bahwa kadar kotinin di urin (hasil metabolisme nikotin) hanya separuh lebih rendah pada perokok rokok mild (kadar nikotin 0,1 mg) dan perokok dengan rokok yang mengandung nikotin 0,9-2,4 mg (rata-rata 1,1 mg). Jadi, ternyata kandungan nikotin yang tertera pada kemasan (diukur dengan mesin) tidak menggambarkan paparan nikotin pada tubuh.
Jadi, mengganti rokok dengan rokok mild bukanlah solusi, karena secara keseluruhan bahayanya tidak berkurang, tidak mengurangi efek adiksi terhadap rokok serta tidak menyebabkan seorang perokok berhenti merokok atau mengurangi jumlah rokoknya. Tindakan yang paling aman, tentu saja berhenti merokok, apalagi suami ibu sudah terdeteksi menderita diabetes di usia yang relatif muda.
Memang diperlukan tekad yang kuat untuk berhenti merokok. Jika tidak bisa berhenti mendadak, dapat dikurangi secara bertahap. Buatlah rencana sendiri dengan target tertentu. Misalnya, bulan ini dari 2 bungkus sehari menjadi 1 « bungkus, bulan berikutnya dikurangi lagi « bungkus, dst. Target yang dibuat jangan terlalu berat sehingga dapat ditaati. Untuk motivasi, sebenarnya saya melihat bahwa suami ibu sangat menyayangi anak-anak sehingga bersedia tidak merokok di dalam rumah. Mungkin dengan modal tersebut dapat diingatkan bahwa dengan berhenti merokok maka kesempatannya lebih besar untuk melihat anak-anak tumbuh besar, lulus sekolah, bekerja, dan menikah.
Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM
Sumber : Republika Online
Tags: Dr Zubairi Djoerban, Republika Online, rokok








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.