September 17, 2007
Osteoporosis
Osteoporosis Pada Pria
Masalah :
Saya adalah seorang pensiunan pegawai negeri berusia 64 tahun. Beberapa waktu yang lalu kebetulan saya mengikuti reuni SMA dan bertemu dengan teman-teman lama. Beberapa teman pria saya tersebut ada yang sekarang sedang menderita osteoporosis. Setahu saya osteoporosis hanya menyerang wanita. Saya baru tahu kalau osteoporosis juga bisa menyerang pria. Bagaimana cara pencegahannya, Dok. Apakah belum terlambat jika saya minum suplemen kalsium sekarang?
Prianto, Jogjakarta
Jawab:
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Memang masih banyak yang beranggapan kalau osteoporosis itu hanya menyerang wanita. Padahal osteoporosis bisa juga menyerang pria. Hanya memang jumlah penderita wanita lebih besar. Perbandingannya adalah 6 wanita berbanding 1 pria untuk osteoporosis yang terkait dengan hormon dan 2 banding 1 untuk osteoporosis yang terkait dengan usia.
Namun pada usia muda, kurang dari 40 tahun, rasio penderita pria lebih banyak dibanding wanita. Osteoporosis adalah suatu keadaan dimana densitas (kekerasan) tulang berkurang sehingga tulang menjadi keropos. Pada osteoporosis, mineral tulang yang utama kurang, yaitu kalsium dan fosfor, dan juga protein kolagen.
Kalsium dan fosfor merupakan faktor yang menentukan kekakuan tulang, sementara kolagen membuat tulang menjadi kuat. Tulang yang keropos akan menjadi rapuh dan mudah patah. Osteoporosis yang berkaitan dengan proses menua biasanya terjadi pada pria pada umur di atas 70 tahun. Sementara osteoporosis yang terkait hormon, berhubungan dengan kekurangan hormon testosteron. Biasanya menyerang usia yang lebih muda, 51-70 tahun.
Ada beberapa alasan mengapa pria lebih jarang atau lebih lambat mengalami osteoporosis. Secara alamiah, akumulasi massa tulang pada masa pertumbuhan lebih tinggi pada pria sehingga tulangnya lebih kuat. Selain itu pria juga tidak mengalami menopause sehingga tidak terjadi penurunan hormon secara tajam dan mendadak.
Terdapat beberapa perbedaan yang menonjol antara osteoporosis pada pria dibandingkan wanita. Pertama, angka kesakitan dan kematian pada pria osteoporosis dengan patah tulang paha lebih tinggi dibandingkan wanita. Kedua, jika pada wanita sebagian besar penyebabnya tidak diketahui, maka pada pria 50-70% terjadi karena kondisi/penyakit lain.
Kondisi/penyakit yang berhubungan dengan terjadinya osteoporosis misalnya penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang (misalnya pada asma),
pasien kanker prostat yang mendapat terapi hormonal, orang dengan penyakit usus kronis, kelumpuhan, sehingga pasien harus tiduran jangka panjang, serta penyakit-penyakit yang menyebabkan hormon testosteron berkurang, dll. Resiko juga akan meningkat pada orang dengan asupan makanan yang kurang gizi, jarang berolahraga, dan peminum alkohol serta perokok berat.
Pencegahannya pada prinsipnya sama dengan wanita, yaitu menjalankan gaya hidup sehat. Boleh saja jika mau mengkonsumsi suplemen kalsium. Perlu diingat, bahwa kalsium juga bisa didapatkan dari makanan seperti keju, susu, sayuran hijau, makanan dari gandum, dan buah-buahan yang dikeringkan. Jika bapak merokok, berhentilah merokok. Olahraga yang dilakukan harus bersifat ‘weight-bearing’, di mana tulang dan otot bekerja melawan gravitasi. Contohnya adalah jalan cepat, jogging, naik tangga.
Bisa juga dengan latihan tertentu seperti mendorong benda yang tidak bergerak atau mengangkat beban. Namun untuk melakukan ini sebaiknya berkonsultasi dahulu dengan ahli rehabilitasi medik. Anda juga dapat mencari kelompok-kelompok yang mengadakan senam osteoporosis. Saya kurang tahu di mana Anda bisa menemukannya di Yogya. Informasinya mungkin bisa didapatkan di Unit Rehabilitasi Medik RS di Yogya.
Dr. Zubairi Djoerban
Sumber : Republika Online
Menghindari Osteoporosis (Keropos Tulang)
Pertanyaan :
Pengasuh yang terhormat, saya seorang Ibu berusia 52 tahun dan sudah menopause. Saya mendengar wanita yang sudah menopause mudah mengalami keropos tulang atau osteoporosis. Mohon penjelasan, bagaimana gejala-gejala osteoporosis itu dan bagaimana menghindarinya? Makanan apa yang harus dipantang dan yang baik dikonsumsi untuk menghindari osteoporosis? Demikian pertanyaan saya, terima kasih sebelumnya atas penjelasan pengasuh.
Ny Sumartini Achyar, Depok Timur
Jawaban:
Ibu Sumartini, terima kasih atas pertanyaannya.
Osteoporosis atau keropos tulang adalah keadaan dimana tulang menjadi keropos, rapuh dan mudah patah. Penderita osteoporosis dicirikan dengan tubuh yang bungkuk atau bengkok. Namun sebenarnya tidak selalu demikian, banyak orang yang sudah mulai menderita osteoporosis tetapi tidak terlihat dari luar.
Makin lanjut usia makin besar kemungkinannya seseorang menderita keropos tulang. Kekeroposan tulang juga lebih sering diderita oleh perempuan, terutama yang sudah mengalami menopause, dibandingkan laki-laki. Oleh sebab itu, wanita seusia Ibu dan sudah menopause memang sudah seharusnya mewaspadai penyakit ini.
Masyarakat Indonesia terutama kaum perempuannya nampaknya lebih rentan terkena osteoporosis lebih awal, karena penetapan konsumsi kalsium orang Indonesia jauh lebih rendah dibanding standar international.
Angka kejadian osteoporosis di Indonesia memang belum diketahui secara pasti. Namun, diperkirakan masih banyak orang yang tidak terlalu peduli sehingga osteoporosis dapat dikatakan silent disease yang baru dapat diketahui setelah penderita atau pasien sakit parah.
Istilah osteoporosis pertama kali dikemukakan oleh seorang patologis yang bernama Jean Georges Lobstein pada tahun 1929 di Strasbourg. Beliau memberi nama 'osteoporosis' untuk penyakit ini karena bentuk tulang penderitanya yang menjadi berlubang-lubang atau berpori-pori (osteo=tulang dan porosis=berpori/berlubang-lubang) akibat berkurangnya mineral kalsium yang terdapat pada tulang.
Sebagaimana diketahui salah satu mineral utama penyusun tulang adalah kalsium. Kurangnya konsumsi kalsium akan mengakibatkan berkurangnya kalsium yang terdapat pada tulang, sehingga lama kelamaan akan terjadi perubahan pada mikroarstektur tulang dan tulang menjadi keropos. Akibatnya tulang menjadi kehilangan kepadatan dan kekuatannya, sehingga mudah retak/patah.
Penderita osteoporosis biasanya merasakan linu-linu dan sakit terutama ketika melakukan pergerakan anggota tubuhnya. Itu sebabnya gejala-gejala yang harus diwaspadai sebagai awal osteoporosis adalah rasa pegal, linu-linu dan nyeri tulang terutama pada bagian punggung dan pinggang. Akibat dari osteoporosis, orang akan mudah mengalami fraktur atau patah tulang spontan, terutama pada pergelangan tangan, pinggul dan tulang belakang.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan osteoporosis. Kekurangan kalsium terutama di masa kecil dan remaja saat di mana terjadi pembentukan massa tulang yang maksimal, merupakan penyebab utama osteoporosis. Konsumsi kalsium yang rendah atau menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium yang umumnya terjadi pada orang tua, dapat menyebabkan osteoporosis.
Kekurangan magnesium juga dinyatakan sebagai salah satu penyebab osteoporosis. Magnesium terlibat dalam 300 lebih fungsi tubuh. Selain untuk membantu metabolisme kalsium dan vitamin D3, magnesium juga berperan langsung dalam mencegah pengeroposan tulang. Kekurangan vitamin D juga dapat menyebabkan osteoporosis, walau di Indonesia sangat jarang terjadi karena kita selalu mendapat sinar matahari sepanjang tahun. Perlu diketahui, pembentukan vitamin D dari provitamin D terjadi di dalam tubuh kita dengan bantuan sinar matahari. Vitamin D sangat penting untuk membantu penyerapan kalsium dari makanan yang terjadi dalam usus kecil manusia.
Menopause memang sangat berhubungan dengan terjadinya osteoporosis. Pada perempuan yang sudah menopause terjadi penurunan produksi hormon estrogen. Perubahan hormonal ini menurunkan kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium secara drastis, sehingga penyerapan kalsium menjadi tidak efisien. Berkurangnya hormon estrogen pada wanita yang sudah menopause dapat diatasi dengan pemberian hormon tersebut.
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli diketahui bahwa terapi hormon estrogen dapat menurunkan kejadian patah tulang sampai 60 persen. Namun demikian, terapi hormon ini ternyata dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara, oleh sebab itu harus benar-benar dipertimbangkan sebelum menjalaninya.
Faktor genetik atau keturunan juga berpengaruh pada risiko osteoporosis sebab faktor genetik berperan dalam penentuan massa tulang. Jika ada salah satu anggota keluarga Anda, kakek, nenek atau ibu anda menderita osteoporosis, maka lebih dari 50 persen kemungkinannya Anda akan terkena osteoporosis. Gangguan pada pankreas, hati dan usus kecil juga dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan tulang untuk menyerap kalsium. Demikian juga, konsumsi minuman beralkohol, minuman berkafein dan merokok, dapat meningkatkan risiko terkena osteoporosis.
Salah satu langkah yang paling sering disarankan oleh para ahli kesehatan untuk mencegah osteoporosis adalah mengonsumsi kalsium yang cukup setiap hari. Kebutuhan kalsium harian bagi orang dewasa sekitar 1000 mg/hari. Kebutuhan ini makin meningkat pada wanita hamil dan menyusui. Mencukupi kebutuhan kalsium dapat dengan mudah dilakukan melalui konsumsi makanan-makanan yang banyak mengandung kalsium seperti susu, yoghurt, keju, daging, buah-buahan, sayur-sayuran dan biji-bijian.
Uraian yang lebih lengkap mengenai bagaimana mencukupi kebutuhan kalsium setiap hari dapat Ibu baca pada rubrik Konsultasi Kesehatan dan Kefarmasian yang terbit pada tanggal 8 Oktober 2002 yang lalu. Kami dapat mengirimkan arsipnya jika Ibu memerlukan. Guna membantu pembentukan dan pemeliharaan tulang yang kuat, pastikan agar Ibu mengonsumsi kalsium yang cukup setiap hari. Selain sebagai bahan pembentuk tulang, kalsium juga penting untuk beberapa fungsi tubuh lain.
Begitu pentingnya kalsium sehingga jika Anda tidak mengkonsumsi kalsium yang cukup setiap hari, dan agar fungsi tubuh tetap berjalan sebagaimana mestinya, maka tubuh anda akan "mencuri" kalsium yang dibutuhkan dari tulang. Hal inilah yang akan menyebabkan osteoporosis. Di samping konsumsi kalsium yang cukup, tubuh juga memerlukan vitamin D3 yang cukup pula agar penyerapan kalsium dapat berlangsung optimal.
Kegiatan olahraga seperti jalan kaki, lari pagi, senam aerobik serta latihan fisik dengan beban, dapat mencegah oteoporosis. Selain dibutuhkan oleh mereka yang sudah terkena osteoporosis karena dapat memperlambat pengeroposan tulang lebih parah lagi, olahraga juga dapat memberikan rangsangan mekanik berupa kontraksi pada otot tulang belakang dan bagian lain yang akan menstimulasi proses pembentukan tulang.
Kurang bergerak dapat mempercepat dan memperparah terjadinya osteoporosis. Namun, bagi penderita osteoporosis dianjurkan untuk tidak berolahraga secara berlebihan untuk menghindari terjadinya patah tulang. Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat.
Dra Astri Rozanah (Biolog Pemerhati masalah Kesehatan dan Lingkungan)
Sumber : Republika Online
Tags: Dr Zubairi Djoerban, osteoporosis, Republika Online








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.