October 27, 2007
Exantem dan Drug Hipersensitivity Syndrome
Tanya:
1. Bu dokter yang terhormat, saya wanita 40 tahun, beberapa waktu yang lalu satu minggu setelah minum obat sejenis penghilang nyeri yang diresepkan oleh seorang dokter, badan saya timbul bintik-bintik kemerahan, gatal, bahkan tenggorokan dan bibir sayapun perih dan nyeri. Saya dinyatakan alergi obat tersebut. Sejak saat itu saya takut minum obat apapun, karena reaksi dari alergi obat tersebut sangat mengganggu saya, penyembuhannya memerlukan waktu agak lama. Bagaimana obat tersebut dapat menyebabkan alergi bu dokter? Yang saya tahu obat kan untuk menyembuhkan kok malahan menimbulkan penyakit lain. Apakah obat yang lain juga dapat menimbulkan reaksi alergi juga? Langkah apa yang harus dilakukan bila kita alergi terhadap obat tersebut?
(Wida, Sanggau).
2. Bu dokter yang terhormat, saya ingin menanyakan penyakit yang diderita ayah saya, beliau penderita sakit paru-paru yang telah menjalani pengobatan obat di Puskesmas selama satu bulan, namun menginjak bulan ke dua untuk pengobatan tersebut, mendadak ayah saya demam tinggi, timbul bintik-bintik kemerahan di seluruh badan, bahkan harus di rawat di rumah sakit. Bagaimana hal ini bisa terjadi bu dokter, semula saya mengira bahwa sakit ayah saya bertambah parah, karena setelah diperiksa laboratorium ternyata banyak hasil laborat yang tidak normal. Namun dikatakan oleh dokter yang merawat bahwa ayah saya sakit akibat alergi obat, apakah obat yang diberikan sebelumnya itu salah ya bu dokter? Saya baru menyadari bahwa sakit akibat reaksi alergi ini lebih parah dibanding dari sakit yang diderita ayah saya yang sebelumnya. Untuk kasus seperti ini apa yang harus dilakukan bu dokter?
Terimakasih
(Zaky, Mempawah)
Jawab:
Saudara Wida dan Zaky, dari kedua pertanyaan yang anda sampaikan memang menunjukkan pada suatu kondisi reaksi akibat obat yang diinginkan atau secara mudah dikatakan sebagai alergi obat. Obat itu merupakan bahan kimia yang masuk ke tubuh ibarat pisau bermata dua, pada satu sisi dapat menyembuhkan penyakit, namun disisi yang lain juga dapat menyebabkan suatu reaksi yang tidak diinginkan seperti yang menimpa anda berdua. Kasus alergi obat tidak saja membuat pasien menderita karena harus mengeluarkan biaya dan waktu ekstra untuk pengobatan, namun kami sebagai dokterpun juga sering terkena dampaknya dengan tuduhan malpraktek. Dengan demikian perlu pemahaman juga di masyarakat bahwa kasus alergi obat dapat menimpa siapa saja karena kasus alergi obat unpredictable/tidak dapat diprediksi pada orang tertentu maupun obat tertentu, karena reseptor alergen di tubuh seseorang dengan orang yang lain berbeda-beda..
Alergi obat disebabkan terutama oleh obat-obat sistemik seperti golongan NSAID (obat penghilang rasa nyeri), berbagai jenis antibiotik, beberapa jenis obat anti hipertensi.
Manifestasi alergi obat dapat ringan sampai yang berat, berupa kulit kemerahan, bentol-bentol sam (SJS) dan toksik epidermal nekrolising (TEN). Dewasa ini banyak penggunaan obat-obatan di masyarakat baik yang melalui resep maupun tidak yang berakibat reaksi alergi obat ini banyak terjadi dari yang ringan sampai yang berat sehingga perlu pengetahuan di masyarakat mengenai alergi obat/ reaksi obat yang tidak dikehendaki. .
Secara klinis erupsi alergi obat dapat muncul dalam berbagai bentuk, alergi terhadap satu macam obat dapat memberi gambaran klinis yang beraneka ragam, sebaliknya gambaran klinis yang sama dapat disebabkan oleh alergi berbagai macam obat. Berbagai bentuk alergi obat antara lain:
1. tipe urtikaria atau biduran yang ditandai dengan kemerahan dan edema pada kulit yang disertai rasa gatal dan panas.
2. tipe exantem atau makulopapular yang ditandai dengan kemerahan pada kulit yang tersebar pada seluruh badan dengan berbagai ukuran
3. tipe fixed drug eruption dengan kelainan kulit berupa kulit kemerahan, vesikel atau bula yang terjadi pada tempat yang sama bila terjadi alergi obat
4. eritroderma yang ditandai dengan kemerahan seluruh badan disertai pengelupasan kulit berbentuk sisik.
5. Syndrome Steven Johson
6. Toksik epidermal nekrolisis
Pada kasus yang terjadi pada saudara Wida merupakan tipe makulopapular, akibat pemberian obat penghilang rasa sakit /NSAID. Anda harus hati-hati terhadap penggunaan obat-obat penghilang rasa sakit, banyak jenis dan merk obat analgesik, untuk obat yang isinya sama seperti saat anda menderita sudah tidak boleh diminum lagi dan bila anda harus berobat harus memberitahu dokter bahwa saya alergi obat golongan ini agar tidak terjadi pemberian obat yang sama atau terjadi reaksi silang karena pemberian obat dengan gugusan kimia yang hampir sama. Alergi obat tipe makulopapular merupakan kasus alergi obat yang paling sering terjadi, reaksi ini biasanya muncul 1-3 minggu setelah minum obat atau beberapa hari minum obat yang sama yang pernah menimbulkan alergi, sehingga pada pasien yang hobi shopping obat kadang tidak ketahuan karena justru yang dicurigai obat yang baru saja diminum sementara reaksi baru muncul 1-3 minggu kemudian setelah penderita tidak minum obat tersebut. Obat-obat penyebab alergi tipe ini dengan probabilitas tinggi: golongan penisilin dan derivatnya, karbamasepin, alopurinol. Probalilitas medium: golongan sulfonamide (antibiotic, antidiabetes, diuretic), NSAID, INH, kloramfenikol, eritromisin Probalilitas rendah: barbiturate, benzodiazepine, fenitoin, tetrasiklin.
Untuk ayah saudara Zaky alergi obat kemungkinan timbul akibat obat rifamfisin pada obat paket untuk pengobatan paru. Perlu diketahui reaksi serupa akibat pemberian obat ini sudah sering terjadi, kondisi ini bukan akibat salah obat, namun karena penderita tertentu tubuhnya tidak dapat menerima obat jenis ini sehingga perlu diganti regimen lain untuk pengobatan selanjutnya karena penyakit parunya juga harus diobati. Reaksi obat pada ayah saudara Zaky merupakan drug hipersensivity syndrome (DHS) yang ditandai dengan munculnya kulit kemerahan, demam tinggi, limfadenopati, dan gangguan pada organ dalam yang ditandai dengan abnormalitas hasil laboratorium dan pemeriksaan fisik diagnostik. Untuk kasus di atas perlu pengobatan rawat inap, karena perlu monitoring dan pemberian obat untuk mengatasi alergi obat tersebut. Obat-obat yang lain yang kemungkinan besar dapat menimbulkan DHS terutama antibiotik rifamfisin, obat untuk kejang seperti fenitoin, fenobarbital dan karbamasepin. Obat yang kemungkinan kecil penyebab DHS: golongan sulfonamide (antibiotik, dapson, antidiabetes), minosiklin, alopurinol.
Berdasarkan hal di atas berhati-hatilah dalam pemakaian obat, karena obat dapat menjadi bumerang tidak menyembuhkan namun dapat meracuni. Ingat bahwa obat hanyalah sarana membantu penyembuhan, yang penting jagalah kesehatan dengan gaya hidup yang sehat dan benar karena pepatah bijak mengatakan hati yang gembira adalah obat, tetapi semangat yang patah keringkan tulang. Demikianlah bila kurang jelas atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah kulit dan kelamin dapat menghubungi:hp 0818464018 atau pontianak post atau poli Kulit dan Kelamin RS Soedarso/ RS Antonius atau apotek Mitra jl Jend Urip.
Dr Retno Mustikaningsih M.Kes., SpKK
Sumber : Pontianak Post
Tags: Dr Retno Mustikaningsih MKes SpKK, obat, Pontianak Post Online







Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.