January 15, 2008
Penyakit Ginjal Tanpa Gejala Sama Sekali
Tanya:
Saya berumur 41 tahun, sudah enam bulan lebih kontrol ke dokter dekat rumah. Tahun yang lalu pada saat check up kesehatan di kantor, hasil pemeriksaan laboratorium dan rontgen dada semuanya baik, kecuali pada air seni saya terdapat sel darah merah dalam jumlah sedikit, kalau tidak salah 6-8 buah. Oleh kantor saya diminta memeriksakan diri lebih lanjut, saya pikir cukup ke dokter umum dekat rumah saja.
Dokter memeriksakan hal-hal sebagai berikut: laboratorium, foto ginjal dan hasilnya ternyata semua normal kecuali lagi-lagi terdapat sel darah merah pada air seni. Dari pemeriksaan tersebut dokter menyatakan tidak ditemukan hal-hal yang dapat menyebabkan ke-lainan tersebut, misalnya batu, tumor atau infeksi. Pemeriksaan air seni saya diulang sampai empat kali selang waktu satu bulan selalu terdapat sel darah merah dalam jumlah sedikit antara 4 sampai 8 buah, lain-lainnya tetap normal termasuk protein dalam air seni negatif.
Saya merasa sehat dan tidak terdapat gejala-gejala lain yang mencurigakan seperti bengkak, sakit di pinggang, dsb.
Pertanyaan saya: Apakah hal ini merupakan suatu penyakit? Apakah dapat berkembang menjadi serius atau parah? Apa yang dapat saya lakukan? Terima kasih atas jawaban Dokter.
Tatang N. Bogor
Jawab:
Sdr. Tatang yth, adanya sel eritrosit (sel darah merah) di urin di atas normal (Normal = 0 – 1 buah/LPB Lapang Pandang Besar) dan konsisten pada beberapa pemeriksaan menandakan adanya kelainan pada sistem saluran kemih Sdr. Sistem saluran kemih terdiri dari ginjal, ureter (penghubung ginjal dan kandung kemih), kandung kemih dan uretra. Kelainan tersebut di atas bisa pada ginjal atau pada bagian-bagian di bawah ginjal: ureter, kandung kemih, dsb.
Penyebab. Secara teoretis beberapa penyebab yang serius adalah sbb:
1. Kanker: dapat terjadi pada ginjal, kandung kemih dan prostat
2. Batu ginjal atau saluran kemih lainnya
3. Penyakit pada saringan darah ginjal (glomerulonefritis)
4. Penyakit ginjal polikistik: terdapat banyak kista (gelembung berisi cairan)
5. Infeksi-infeksi pada ginjal, ureter, kandung kemih, uretra, prostat: baik infeksi biasa, juga infeksi TBC (tuberkulosis saluran kemih), jamur, dsb.
6. Penyumbatan ureter
7. Benturan /trauma pada ginjal
8. Akibat obat-obatan ”pengencer” darah
Selain itu: penyebab lain misalnya setelah berlari jarak jauh, berolahraga berat, dan pada kehamilan.
Pemeriksaan. Dari data yang Sdr. berikan, maka saran saya, hal pertama yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan sederhana yaitu pemeriksaan sel eritrosit pada urin untuk menentukan apakah berasal dari ginjal (misalnya dari saringan /Glomerulus) atau berasal dari bagian-bagian di bawah ginjal. Selain itu diperiksa juga ”kebocoran” protein yang halus di urin yaitu mikroalbuminuria. Bila hasilnya di atas normal (Normal = 30 mg/24 jam) dan menetap pada beberapa kali pemeriksaan, maka ini berarti suatu kelainan pada Glomerulus, disebut Glomerulonefritis.
Penyakit ini sesungguhnya terbagi lagi dalam beberapa jenis. Bila misalnya kebocoran protein makin banyak, misalnya di atas 1 gr / 24 jam, maka sebaiknya dilakukan biopsi ginjal dan jaringannya diperiksa di bawah mikroskop maupun pemeriksaan imunologi lainnya, dan biasanya dapat dipastikan secara akurat jenis Glomerulonefritis-nya. Penentuan jenis ini akan dapat memperkirakan apakah penyakit ini akan mudah sembuh atau berjalan dalam kondisi ringan saja ataukah berjalan ke arah yang progresif makin meningkat dari waktu ke waktu sampai menjadi parah sehingga fungsi ginjal melorot rendah dan diperlukan cuci darah atau transplantasi.
Contoh kasus. Ada seorang pasien saya umur 37 tahun dengan keadaan mirip dengan Sdr. Tatang. Yang bersangkutan berobat pada tahun 2001 (sampai sekarang). Mula-mula ybs. datang dengan keluhan sudah setahun urin-nya pada pemeriksaan berkali-kali selalu ada eritrosit sekitar 10.
Saya segera minta dilakukan pemeriksaan lengkap: laboratorium, USG dan rontgen ginjal, dan hasilnya data-data penting adalah sbb: fungsi ginjal normal, kreatinin 0,8 mg/dl, urin protein negatif, eritrosit 10-15 buah per LPB, tetapi pengukuran mikroalbuminuri menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu : 614 mg/24 jam.
Saya berkesimpulan pasien ini menderita Glomerulonefritis Kronik dengan presentasi klinik Hematuri dan Proteinuri Asimtomatik. Pengobatan dilakukan dengan memberikan obat-obat yang bersifat antiproteinuria, yang juga menekan peradangan (inflamasi) di Glomerulus, tidak digunakan obat steroid. Pasien ini dimonitor cukup intensif, mula-mula dua bulan sekali, lama-lama 4-5 bulan sekali. Pasien ini tidak dibiopsi ginjal karena kebocoran proteinnya minim / tidak parah.
Setelah pengobatan berlangsung empat tahun, pada akhir 2004 hasilnya cukup memuaskan, proteinuria tetap negatif, kreatinin 1,0 mg/dl , mikroalbuminuria berkisar sekitar 150 mg/24 jam, lain-lainnya tetap normal.
Tentang Sdr. Tatang, kalau pemeriksaan-pemeriksaan menghasilkan data-data yang mirip dengan gambaran di atas, maka penyakit Sdr. dapat disebut Glomerulonefritis Kronik (ringan). Saya sarankan Sdr. berobat secara periodik dan teratur agar dapat dimonitor secara kontinu. Sekali-sekali berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Ginjal-Hipertensi. Mudah-mudahan penyakit Sdr dapat sembuh atau paling tidak terpelihara dalam kondisi yang ringan. Demikian jawaban saya, mudah-mudahan dapat bermanfaat.
Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro-Konsultan Ginjal-Hipertensi RS Mediros
Sumber : Sinar Harapan








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.