September 28, 2007
Si Kecil Malas Mengunyah
Masalah :
Dokter Waldi yang baik,
Saya punya seorang anak umur 2,5 tahun, berat 13 kg tinggi 83 cm. Banyak sekali masalah yang ingin saya ceritakan pada Dokter. Pertama, di usianya yang sekarang ini, anak saya belum bisa makan apa-apa. Makan nasi dan sayur pun masih harus diblender (diulek pun tidak mau). Katanya masih kasar. Kalau diperhatikan, dia tidak bisa mengunyah. Kalau makan kerupuk, roti, dan sebagainya, dia menggigit sedikit dan mengunyahnya dengan gigi depan saja (padahal gerahamnya ada, lho). Sampai saya harus ceriwis memberi pengertian agar ia mengunyah dengan gigi gerahamnya. Tetapi, kalau ada benda yang agak besar masuk ke mulutnya, dia selalu muntah.
Hal ini sudah saya konsultasikan pada dokter anak di kota saya. Dokter itu bilang, tidak apa-apa, mungkin anak saya hanya malas mengunyah. Nanti kalau sudah besar juga bisa dengan sendirinya. Jangan dipaksakan. Tapi, anak seusianya, kan sudah tergolong besar, Dok? Dokter itu juga bilang, tidak ada masalah dengan pencernaannya. Apa betul, Dok?
Sebulan lalu, ia sakit panas dan mencret. Setelah diberi obat (serbuk dan sirup), kok masih mencret, meski panasnya sudah turun. Beraknya pagi dua-tiga kali. Saran dokter waktu itu, disuruh ganti susu. Tetapi, anak saya tidak mau dan ia muntahkan. Jadi, saya tetap minumkan susu bubuk tetapi encer, karena biasanya kental dan manis.
Dok, apa yang harus saya lakukan? Kembali periksa ke dokter anak itu lagi dengan resep yang sama atau langsung beli ke apotek? Bagaimana dengan cara makan anak saya? Saya betul-betul putus asa, dan sampai saat ini tidak berani pergi ke luar kota, karena kondisi makan anak yang sangat susah itu. Oh ya, tahun depan ia akan mulai sekolah TK.
Ny. Maharani - Patebon
Jawaban :
Ibu Rani di Kendal,
Sejak kapan Ibu mulai mengetahui bahwa anak Ibu tak mau makan makanan biasa? Biasanya, orangtua mulai mengeluh tatkala tiba saatnya anak memasuki usia 1 tahun. Di usia setahun, diharapkan anak mampu makan seperti laiknya orang dewasa, yakni makan makanan keluarga. Dokter Ibu mengatakan tidak apa-apa itu pada usia anak Ibu yang mana, ya?
Umumnya, pelajaran mengunyah dan menelan makanan itu diperoleh pada usia 6-12 bulan. Inilah fase serius untuk membelajarkan bayi mencoba menguasai cara menelan makanan (setengah) padat - berupa nasi tim, bubur susu dan buah. Pada saat ini, pengasuh bayi (ibu, ayah, nenek, babysitter, pembantu) amat diuji kesabarannya, dan tidak menyerah lalu menyodorkan susu/makanan cair sebagai kompensasi. Sayang, Ibu tidak cerita apa-apa tentang pembelajaran menjelang usia setahun itu.
Pada usia-usia selanjutnya, anak belajar dengan meniru. Di usia ini, memberi contoh merupakan resep manjur. Artinya, kalau ingin mengajar anak makan, kita harus memperlihatkan kepadanya bagaimana cara kita makan. Sama halnya kalau kita fanatik menonton televisi, maka balita pun akan belajar memahami bahwa televisi itu bagian penting dari kehidupannya. Tak mungkin kita menyuruh anak makan sepiring, sementara kita sendiri pantang makan (karena kurang langsing, misalnya). Tak mungkin minta anak mencintai buku, kalau kita menyediakan waktu untuk membaca pun tidak.
Berat badannya tidak terlampau buruk, ya? Sangat sering hal ini merupakan kompensasi pemberian susu. Soalnya, mana mungkin beratnya naik, kalau ia tak mau makan sedikit pun? Juga Ibu harus pahami bahwa makanan utama tidak harus nasi; bisa singkong, gandum, mi, spageti, makaroni. Apakah ini juga macet? Bagaimana ketika ia makan buah (pisang, pepaya)? Juga tak dikunyahnya, bahkan dimuntahkannya? Bagaimana dengan giginya? Tak ada yang rusak? Biasanya kebiasaan minum susu manis berlebihan, khususnya malam hari ketika anak tidur, sering membuat gigi rusak.
Kalau ia tak bisa menelan makanan padat apa pun, bahkan muntah bila porsi di mulutnya terlalu besar, barangkali ada sesuatu yang terdapat di jalan pencernaannya, sehingga ia tak mampu menelan dengan baik. Mungkin diperlukan pemeriksaan untuk melihat keadaan saluran pencernaannya. Yang sering dilakukan adalah pemeriksaan minum barium. Anak diminta minum barium oleh dokter, lalu melalui alat tertentu dapat terlihat, bagaimana keadaan saluran pencernaannya, khususnya apakah terdapat penyempitan yang membuat ia tak pernah bisa menelan makanan padat.
Soal mencret, tak usah terlalu pusing. Walaupun mungkin surat balasan ini telah sangat kadaluarsa bagi Ibu, dan anak Ibu tentu tidak lagi mencret saat ini, tetapi penjelasan tentang mencret saya pikir masih berguna buat pembaca NOVA lainnya. Mencret pada umumnya tidak perlu pengobatan khusus, cukup dijaga jangan sampai kekurangan cairan. Dengan demikian, pemberian cairan lebih penting daripada pil, sirup atau bubuk obat.
Hanya, pada mencret yang berdarah, kita perlu lebih waspada dan sangat mungkin perlu pengobatan (bahkan kadang-kadang operasi!). Penggantian dengan susu rendah laktosa (terlebih susu bebas laktosa) tidak selalu perlu pada anak mencret, kecuali bila mencretnya telah berhari-hari dan dokter menduga telah ada kerusakan permukaan usus cukup luas yang bertugas mencernakan laktosa. Kerusakan ringan permukaan usus akibat serangan kuman tidak otomatis berarti jenis susu harus diganti.
Sumber : Nova








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.