October 13, 2007
Asma pada Remaja
Kasus:
"SAYA mempunyai dua anak remaja. Yang pertama berumur 19 tahun, baru saja masuk universitas. Sedangkan yang kedua berumur 16 tahun masih di kelas II sekolah menengah atas. Anak saya yang pertama perempuan, dia dalam keadaan sehat saja. Bahkan dia menjadi anggota pecinta alam dan sering bersama temannya mendaki gunung. Justru anak saya yang kedua sering mendapat serangan asma.
Sebagai anak laki-laki tampaknya kegiatannya terhalang oleh serangan asmanya, sehingga dia sering kali tak dapat mengikuti teman-temannya bepergian ke luar kota jika liburan. Dia hanya tinggal di rumah membaca buku.
Memang prestasi sekolahnya menonjol, dia peringkat tiga di kelas. Sudah tentu kami sebagai orangtua bangga dengan prestasi sekolah anak kami, namun kami merasa kasihan melihat dia sering sendiri di rumah. Untunglah dia gemar main organ. Jika sendiri dia membaca buku atau bermain musik. Saya sering mangajaknya berkomunikasi, tetapi agaknya dia kurang berminat untuk mengobrol dengan saya atau dengan bapaknya. Dia hanya dapat diajak bicara sebentar dan setelah itu dia menghindar untuk bicara lebih banyak.
Saya sebagai ibu merasa bahwa dia kurang percaya diri untuk menghadapi kehidupan sehari-hari karena penyakit asmanya. Memang sudah lama dia menderita asma, yaitu sejak kelas V sekolah dasar. Namun, belakangan ini serangan tersebut lebih sering lagi. Sebulan dia mengalami sesak dua sampai tiga kali.
Selama ini kami berobat pada dokter keluarga di dekat rumah. Dokter mengatakan anak saya alergi terhadap debu rumah. Di samping asma dia juga menderita pilek alergi yang terkomplikasi dengan sinusitis. Kami dianjurkan berkonsultasi dengan dokter spesialis telinga hidung tenggorok. Sampai sekarang nasihat tersebut belum kami jalankan karena kami belum siap jika dia harus dioperasi.
Sebagai pegawai swasta yang hidup pas-pasan, sulit bagi kami untuk membiayai operasi. Apalagi kantor suami saya tak memberi penggantian biaya berobat. Jadi jika sakit semuanya, harus kami tanggung sendiri.
Mohon penjelasan dokter apakah anak saya perlu dioperasi sinusitisnya. Olahraga apakah yang baik untuk anak saya ini. Saya sungguh kasihan melihatnya terkurung di rumah sementara kakak perempuannya dapat menikmati kehidupan remaja dengan ceria. Terima kasih atas penjelasan dokter."
(Sri Melati, Jakarta)
Jawaban:
* Sekarang ini umumnya penyakit asma dapat dikontrol. Artinya, gejala asma dapat dihilangkan sehingga penderita dapat menikmati kehidupan sehari-hari.
Saya dapat ikut merasakan keprihatinan Anda. Anak Anda yang kecil tentu menginginkan kehidupan lebih bebas tak terhalang penyakit asmanya. Karena itu, saya setuju dengan anjuran dokter keluarga Anda agar anak Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis telinga hidung tenggorok.
Sekarang ini saluran napas dari hidung sampai ke saluran paru dianggap merupakan kesatuan. Penderita pilek alergi mempunyai risiko untuk juga menderita asma. Sebaliknya penderita asma cukup sering juga menderita pilek alergi. Bahkan jika pilek alerginya ditangani dengan baik acap kali asmanya juga membaik.
Sinusitis dewasa ini tak selalu memerlukan operasi. Dokter spesialis telinga hidung tenggorok dapat menilai apakah anak Anda perlu operasi atau tidak. Hanya pada keadaan tertentu sinusitis perlu dioperasi. Acap kali dengan terapi menggunakan obat saja sinusitis dapat disembuhkan.
Anak Anda telah dinyatakan menderita alergi debu rumah. Memang cukup banyak penderita alergi di Indonesia yang menderita alergi debu rumah. Selain itu, ada juga yang menderita alergi bulu binatang atau makanan.
Alergi merupakan salah satu pencetus serangan asma. Di samping alergi, aktivitas fisik berlebihan, infeksi virus (misalnya influenza), polusi udara serta obat dapat mencetuskan serangan asma. Sedangkan keadaan emosi dapat memperberat serangan asma. Anak Anda perlu menghindari faktor pencetus tersebut.
Harus diakui tidaklah mudah menghindari diri dari paparan debu rumah. Meskipun demikian, jagalah agar kamar tidurnya bersih, tak banyak debu. Jika tak perlu benar jangan meletakkan barang-barang di kamar tidurnya termasuk buku, majalah, koran, serta janganlah menggantung baju di kamar tidur karena dapat menjadi tempat debu melekat.
Terapi asma dewasa ini terdiri dari dua macam obat, yaitu obat pelebar pipa saluran napas (bronkodilator) dan obat anti-inflamasi berupa obat steroid hirupan. Obat pelebar pipa saluran napas hanya digunakan jika sesak, tetapi obat anti-inflamasi harus digunakan terus-menerus. Cara penggunaan obat hirupan ini harus benar agar dapat memberi manfaat yang diinginkan. Karena itu, minta tolonglah kepada dokter atau apoteker Anda agar mengajarkan cara menggunakan obat hirupan tersebut dengan benar.
Jika diobati dengan baik, biasanya anak Anda tidak akan mengalami sering serangan sesak. Dia akan dapat menikmati masa bebas serangan dalam waktu lama. Bahkan dia dapat mengikuti kegiatan olahraga sekolah. Patut diketahui, sebagian atlet yang berlomba di Olimpiade adalah penderita asma. Jadi, asma tak perlu menjadi halangan untuk berprestasi dalam olahraga.
Secara bertahap, anak Anda dapat mengikuti olahraga yang tak terlalu melelahkan misalnya berjalan kaki, naik sepeda, dan berenang (jika sinusnya sudah baik). Selanjutnya, jika keadaan asmanya semakin terkontrol, dia dapat mengikuti olahraga yang lebih berat sesuai dengan hobinya.
Tidak ada keberatan jika anak Anda akan mengikuti kegiatan berkemah dan sebagainya asalkan dalam keadaan bebas serangan dan membawa bekal obat yang cukup. Ada baiknya juga jika anak Anda ikut klub senam asma. Karena Anda tinggal di Jakarta, anak Anda dapat bergabung dengan kelompok senam asma di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur.
Dengan demikian, jelaslah bahwa penderita asma tak perlu hanya berkurung di rumah. Terapi asma sekarang ini dapat meningkatkan kualitas hidup penderita sehingga penderita dapat hidup normal seperti orang yang tak menderita asma. Sebaliknya, asma yang tak diobati dengan baik dapat mengganggu kehidupan seseorang dan berisiko saluran napasnya secara anatomis berubah (dalam bahas kedokteran disebut remodelling) sehingga sulit kembali ke keadaan semula. Terapi anti-inflamasi akan mencegah perubahan anatomis tersebut.
Saya berharap penjelasan singkat ini dapat meningkatkan keyakinan Anda sekeluarga bahwa jika diobati dengan baik penderita asma dapat menjalani kehidupan normal. Mudah- mudahan kedua anak remaja Anda akan dapat menamatkan sekolah dengan baik serta mampu menyumbang untuk kesejahteraan keluarga Anda khususnya dan kesejahteraan bangsa Indonesia umumnya.
dr Samsuridjal Djauzi
Sumber : Kompas Cybers Media
Tags: asma, Dr Samsuridjal Djauzi, kompas







Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.