November 9, 2007
Darah Transfusi tidak Cocok
Masalah :
Assalamualaikum wr wb
Dokter Zubairi Yth,
Sekitar awal Oktober 2007, adik saya, wanita 27 tahun mengalami kelemahan mendadak, berjalan mudah capai, dan berdebar-debar, mukanya pucat sekali. Tengah malam kami bawa ke instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat. Dokter menyatakan, adik saya sakit anemia berat, kadar hemoglobin cuma 4 (4 g%), dan harus segera transfusi, walaupun penyebabnya belum diketahui.
Namun jawaban lembaga transfusi darah sungguh mengagetkan. Kami diberitahu dokter jaga bahwa ada masalah dalam darah adik kami. Katanya, sukar menemukan darah yang cocok. Setelah dikonsultasikan lewat telepon dengan atasannya, dokter menjelaskan lagi, bahwa adik saya sakit anemia hemolitik autoimun. Untuk diketahui, golongan darah adik saya A.
Untuk menyelamatkan nyawa adik saya, walaupun tidak cocok 100 persen, darah ditransfusikan sambil adik saya disuntik obat untuk antisipasi efek samping, jelas dokter jaga. Alhamdulillah, kondisinya kian membaik, dan segera akan dipulangkan setelah rawat inap selama lima hari. Pertanyaan saya, apakah sebetulnya anemia hemolitik autoimun itu Dok? Apakah bisa disembuhkan? Obatnya apa?
Sunardi, Jakarta
Jawaban :
Waalaikumussalam wr wb
Mas Nardi yang baik,
Sebelum menjelaskan anemia hemolitik autoimun, saya terangkan dulu mengenai anemia. Anemia atau kurang darah merah, dapat dikelompokkan menjadi berbagai jenis, yang berbeda cara mendiagnosisnya dan berbeda pula pengobatannya. Anemia ada beberapa jenis. Pertama anemia hemolitik. Hemolitik berarti lisis darah, yaitu suatu kondisi di mana sel darah merah lebih cepat rusak dibanding normal.
Anemia jenis kedua adalah anemia aplastik, terjadi bila 'pabrik' pembuatan darah merahnya terganggu. Analoginya mirip kejadian pemogokan di pabrik tekstil. Yang disebut 'pabrik' pembuatan darah adalah sumsum tulang. Analogi dari tekstil yang dihasilkan pabrik adalah sel darah yang dihasilkan, baik sel darah merah (eritrosit), leukosit (sel darah putih), maupun trombosit. Pada anemia aplastik, terjadi penurunan ketiga produk sumsum tulang tersebut, kurang sel darah merah (anemia), kurang sel darah putih (leukopenia), dan kurang trombosit (trombositopenia).
Jenis anemia ketiga adalah anemia akibat kekurangan salah satu zat gizi sebagai komponen pembentuk seI darah merah, disebut sebagai anemia defisiensi. Ada beberapa subjenis anemia defisiensi, antara lain: kekurangan besi, kekurangan asam folat, dan vitamin B12. Jadi, tidak semua anemia akibat kekurangan besi. Anemia hemolitik dapat disebabkan antibodi yang merusak sel darah di tubuh sendiri (autoimun) atau non autoimun, misalnya anemia akibat malaria dan talasemia. Merujuk pada surat Anda, adik memang benar sakit anemia hemolitik yang jenis autoimun.
Ketidakcocokan sewaktu tes di PMI, terjadi karena darah adik Anda mengandung antibodi terhadap sel darah merahnya sendiri, sehingga saat dilakukan tes pencocokan silang (cross match) dengan darah donor yang sekalipun bergolongan sama, hasilnya tidak cocok. Pengobatan diberikan apabila perusakan sel darah merah makin memburuk, kadar hemoglobin rendah. Dokter biasanya akan memberikan obat kortikosteroid (prednison, prednisolon, deksametason), dimulai dengan dosis tinggi kemudian secara bertahap dosis obat diturunkan.
Pada keadaan di mana pengobatan dengan kortikosteroid tidak memberikan hasil atau timbul efek samping yang berat maka kadang-kadang perlu dilakukan operasi pengangkatan limpa atau pemberian obat immunosuppresan. Opsi lain adalah plasmapheresis, suatu tindakan untuk menyaring, mengeluarkan antibodi seringkali bermanfaat bila pengobatan yang lain tidak berhasil.
Sedangkan transfusi darah diberikan bila perusakan sel darah merah sangat parah, kadar hemoglobin amat rendah, tentu didahului dengan pemberian kortikosteroid injeksi sebelumnya. Apakah bisa disembuhkan? Sebagian pasien anemia hemolitik autoimun sembuh total, kondisi kesehatan pulih normal, dan tidak perlu mengonsumsi obat kortikosteroid lagi. Sebagian lagi obat kortikosteroid dosis rendah, perlu dilanjutkan untuk jangka panjang, guna mempertahankan kadar hemoglobin di atas 10g% dan agar dapat beraktivitas normal.
Dr Zubairi Djoerban
Sumber : Republika Online
Tags: anemia, Dr Zubairi Djoerban, Republika Online







Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.