Amazon.com Widgets

April 3, 2008

Diabetes

Masalah :

Dokter yang terhormat.

Dok, saya adalah penderita diabetes. Ibu saya juga begitu. Saya sekarang sedang hamil muda. Saya khawatir dengan anak saya nanti. Apakah anak saya akan terkena diabetes juga? Bagaimana cara mencegahnya? Saya mohon penjelasannya. Terima kasih.

Ny. Andi di Bandung

 

Jawaban :

PENYAKIT diabetes melitus adalah suatu penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh. Pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh. Insulin adalah salah satu hormon yang bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah atau kadar gula dalam darah dan dibutuhkan untuk mengubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi.

Keturunan memamg merupakan faktor penting pada kedua jenis diabetes, tipe 1 dimana tubuh penderita hanya menghasilkan sedikit atau sama sekali tidak menghasilkan insulin, umumnya terjadi sebelum usia 30 tahun. Tipe 2, tubuh penderita tetap menghasilkan insulin namun tubuh mengalami resisten insulin.

Pada anak kembar identik, bila satu menderita diabetes tipe 1, ada 50% kemungkinan satunya lagi juga menderita. Sedangkan untuk diabetes tipe 2, pada kembar identik bila salah seorang menderita sudah bisa dipastikan (100%) satunya lagi akan menjadi penderita.

Pada diabetes 1 kemungkinan anak untuk menderita diabetes di kemudian hari apabila lahir dari ibu penderita diabetes sebesar 2 - 3% dan 5 -6% apabila ayahnya menderita diabetes tipe 1. Risiko anak menderita diabetes akan meningkat sampai 30% apabila kedua orang tua adalah penderita diabetes. Faktor keturunan lebih berperan pada diabetes tipe 2. Pada penderita diabetes tipe 2 ini, 25% di antaranya memiliki riwayat keluarga yang positif. Meskipun begitu, kemungkinan ada faktor lain sebagai penyebabnya, terutama faktor lingkungan yang perlu diperhatikan lebih lanjut.

Prof. Dr. H. Azhali, M.S., Sp.A.K.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

March 23, 2008

Belum Haid

Masalah :

Dokter, teman-teman saya yang seumur (16) sudah mendapat menstruasi sejak mereka berumur 11 atau 12 tahun. Namun, saya kok sampai sekarang belum haid sekali pun.

Kenapa ya Dok? Apakah saya tidak normal? Kalau saya tidak haid berarti saya tidak bisa punya anak dong nanti? Dok tolong ya, saya diberi penjelasan tentang haid ini. Terima kasih.

Ana di Bandung

 

Jawaban :

Ananda Ana

Lazimnya saat ini seorang remaja mulai haid pada usia sekitar 11-13 tahun. Apabila sampai dengan usia 16 tahun seorang gadis belum pernah mendapat haid, keadaan seperti ini adalah suatu kelainan yang disebut primary amenorrhea (amenore primer).

Penyebab amenore primer ini antara lain adalah:
1. Perubahan berat badan yang tiba-tiba (menjadi sangat kurus) misalnya karena tidak mau makan, anoreksia nervosa, stres fisik, bulimia.
2. Malnutrisi (kurang gizi)
3. Obesitas (berat badan naik > 10 kg)
4. Penyakit-penyakit kronis (menahun)
5. Kelainan bawaan pada saluran genital (rahim tidak terbentuk, kelainan indung telur, sekat pada vagina, atau hymen menutup/hymen imperforate)

Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kelainan hormonal seperti disgenesis gonad, hipotiroidi, hipertiroidi, penyakit cushing, sindroma polikistik ovarium, dll.

Banyak hal yang harus dilakukan untuk memastikan penyebabnya, dari mulai pemeriksaan fisik, laboratorium untuk pemeriksaan hormonal, sonografi/USG , pemeriksaan kromosom atau laparoskopi (meneropong alat genital dalam dari perut/bawah pusar).

Segeralah kunjungi dokter spesialis kandungan konsultan fertilitas endokrin reproduksi agar kelainan tersebut segera dapat diketahui dan diobati.

Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

Tumor Dalam Rahim

Masalah :

Dokter, saya berusia 40 tahun. Beberapa waktu lalu saya diperiksa ke dokter kandungan untuk keluhan keputihan yang agak banyak. Ternyata di rahim saya ada tumor. Namun, kata dokter itu tumor jinak.

Apakah tumor yang ada di rahim harus selalu diangkat Dok? Kenapa tumor itu muncul? Apakah pengaruh makanan atau ada penyebab lainnya? Saya mohon penjelasan Dokter. Terima kasih.

Ny. Alia di Bandung

 

Jawaban :

Ibu Alia yang terhormat.

Biasanya yang tumor jinak rahim dimaksud oleh seorang dokter adalah mioma (leiomyoma/fibroid) yaitu nodul atau benjolan padat yang terdiri dari jaringan ikat. Tumbuhnya dapat ke dalam rongga rahim (mioma submukosa), di dalam otot rahim (mioma intramural) dan di bagian luar rahim (mioma subserosa) atau bertangkai (pedunculated myoma). Ukurannya dapat sangat kecil dalam ukuran milimeter sampai diameter 20–30 sentimeter.

Tumor ini biasanya jinak, umumnya terjadi pada wanita usia 30–40 tahun. Biasanya tumbuh lambat, dapat tunggal (soliter) atau banyak (multiple) dan seringnya tidak bergejala.

Mioma yang tumbuh ke dalam rongga rahim dan ukurannya besar dapat menyebabkan gangguan haid, haid menjadi lebih banyak, lebih lama, dan lebih nyeri. Tumor yang besar dapat diraba dari dinding perut. Mioma terbesar yang pernah dilaporkan, beratnya sampai 40 kg.

Penyebab tumor tidak diketahui pasti, diduga ada hubungannya dengan hormon estrogen, karena tidak pernah ditemukan pada wanita yang belum haid. Tumor membesar dengan pengaruh estrogen dan mengecil saat menopause (estrogen berkurang). Pada umumnya tidak berhubungan dengan makanan.

Keberadaan tumor sering diketahui secara tidak sengaja, yakni ketika wanita memeriksakan diri pada seorang ginekolog untuk keluhan ganngguan haid, keputihan, atau pemeriksaan rutin, dan diketahui saat dilakukan pemeriksaan ginekologis atau sonografi (USG).

Penanganannya bergantung dari besarnya tumor dan gejala yang ditimbulkannya. Tumor ukuran kecil pada wanita yang telah cukup anak dan tidak mengganggu kualitas hidup dapat dibiarkan sampai saat menopause, karena diharapkan mengecil. Tumor yang mengganggu kualitas hidup, bergejala seperti nyeri atau haid banyak dan lama, ukurannya besar, sebaiknya dilakukan operasi pengangkatan mioma (miomektomi) atau kadang-kadang diperlukan pengangkatan seluruh rahim (histerektomi).

Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

February 15, 2008

Kehamilan Ektopik

Masalah :

DOKTER, saya sudah menikah 8 tahun. Beberapa hari lalu saya dioperasi karena kandungan yang berusia 2 bulan ternyata ada di luar kandungan. Dioperasi caesar karena katanya janin sudah pecah di dalam. Sel telur saya diambil satu. Beberapa tahun lalu, saya pernah keguguran saat kandungan berusia 3 minggu, tetapi tidak dikuret karena kata dokter sudah bersih.

Yang ingin saya tanyakan: Apakah saya hamil di luar kandungan karena kondisi rahim yang kurang bagus? Atau karena saya terlalu capek dan sering naik turun tangga (kantor saya di lantai 2)? Setelah sel telur dibuang satu, apakah saya masih mungkin hamil dengan mudah?

Terima kasih

Ny. Dian di Bandung

 

Jawaban :

Ibu Dian yang terhormat,

Pada keadaan normal, bila telur dibuahi oleh sperma akan menjadi zigot (buah kehamilan). Sambil terus berkembang, ia akan melalui saluran telur dan menuju ke dalam rongga rahim untuk bernidasi (menempel dan memasuki dinding rahim) dan tumbuh di dalamnya.

Apabila buah kehamilan tidak bernidasi dalam rahim, keadaan ini disebut hamil di luar kandungan atau kehamilan ektopik. Tempat tersering kehamilan ektopik adalah pada saluran telur (tuba fallopii) di bagian ampula. Karena saluran telur sangat kecil, ia hanya dapat menampung kehamilan sampai sekitar usia kehamilan 8 minggu. Tempat lain kehamilan ektopik adalah pada bagian isthmus saluran telur, bagian ujung (tanduk/cornu) rahim, ovarian/indung telur, leher rahim, atau di dalam rongga perut (primer atau sekunder dari pecahnya kehamilan tuba). Apabila buah kehamilan bernidasi di dalam rongga perut, kehamilan dapat berlangsung lebih lama (kehamilan ektopik lanjut). Kehamilan ektopik yang terganggu dapat menyebabkan perdarahan hebat ke dalam rongga perut dan termasuk keadaan gawat medis; ibu dapat meninggal apabila tidak segera dihentikan perdarahannya (operasi laparotomi).

Penyebab hamil di luar kandungan tidak ada hubungannya dengan naik turun tangga atau terlalu cape, demikian juga tidak ada hubungannya dengan makanan atau pekerjaan/kebiasaan ibu sehari-hari. Yang tersering adalah kerusakan saluran telur, penyebabnya dapat karena infeksi (dapat didahului oleh gejala keputihan misalnya pada vaginosis bakterial, gonore; atau tidak bergejala seperti pada klamidiasis) atau akibat infeksi panggul lainnya seperti infeksi nifasau pasca-abortus. Selain akibat infeksi saluran telur dapat terganggu fungsinya karena endometriosis, mioma, atau kista ovarium yang menekan saluran sehingga terjadi penyempitan. Akibat penyempitan, buah kehamilan tidak dapat melewati saluran menuju rahim dan menetap di dalam saluran, membesar di sana dan menyebabkan pecahnya saluran atau mati dalam saluran, dan darah akan keluar melalui ujung saluran telur (abortus tuba). Hal lain yang dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik adalah riwayat operasi pada perut seperti pascaoperasi usus buntu, pengangkatan kista, atau operasi perut lainnya.

Operasi pada kehamilan di luar kandungan bukan seksio sesarea melainkan laparotomi. Demikian pula yang diangkat umumnya adalah saluran telur tempat kehamilan tersebut. Indung telur jarang menjadi tempat kehamilan ektopik. Apabila ibu masih mempunyai satu saluran telur, asal fungsinya baik (harus dilakukan pemeriksaan HSG/histerosalpingografi terlebih dahulu), masih ada kemungkinan untuk hamil. Demikian pula apabila benar kehamilan yang lalu adalah kehamial ovarial sehingga indung telur ibu sudah tinggal satu, bila fungsi salurannya baik masih tetap dapat hamil di dalam kandungan.

Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

January 19, 2008

Makanan Pedas Pengaruhi Mutu ASI?

Masalah :

Dokter yang terhormat.

Saya baru saja melahirkan sebulan lalu. Saya bertekad menyusui eksklusif. Namun, ada yang ingin saya tanyakan kepada Dokter. Apakah bayi akan sakit jika saya mengonsumsi makanan yang pedas? Kata ibu saya, makanan pedas berpengaruh pada kualitas ASI, betulkah itu? Apakah obat tertentu juga akan memengaruhi kualitas ASI?

Semoga Dokter bersedia menjelaskannya dengan terperinci. Terima kasih.

Ny. Nuraida - Bandung Selatan

 

Jawaban :

Ibu yang terhormat.

Selamat atas kehadiran anggota keluarga yang baru. Saya sangat gembira atas tekad Ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan lakukanlah sampai bayi berusia 6 bulan.

Prinsipnya, ASI bukan langsung berasal dari bahan yang ada di perut, namun diolah terlebih dahulu sehingga merupakan bahan yang bergizi (nutrien) yang dihantarkan melalui darah.

Kualitas ASI dipengaruhi oleh kesehatan ibu secara menyeluruh, termasuk juga mutu dari asupan makanan dan kecukupan istirahat.

Makan-makanan pedas tidak memengaruhi kualitas ASI. Ada 2 penelitian yang menunjukkan bahwa ibu yang memakan makanan pedas, bayinya menyukai ASI yang diberikan sehingga waktu menetek lebih panjang dibandingkan dengan ibu yang tidak makan makanan pedas.

Salah satu bahan makanan yang sering diujicobakan adalah bawang putih. Dua jam setelah makan bawang putih, ASI akan berasa bawang putih. Ternyata, rasa bawang putih disukai oleh bayi yang menetek dengan volume ASI yang lebih besar daripada biasanya. Oleh karena itu, memakan berbagai makanan yang sehat untuk ibu berguna bagi bayinya terutama dalam memperkenalkan berbagai macam rasa sejak dini.

Tentunya hal tersebut di atas harus dibedakan dengan alergi makanan pada bayi. Tentunya bila bayi menunjukkan alergi, ibu harus hati-hati dalam memilih makanan. Demikian pula dengan obat-obatan, sepanjang Ibu meminum obat sesuai dengan anjuran dokter, tidak ada yang perlu Ibu khawatirkan mengenai pengaruh obat terhadap kualitas ASI.

Mudah-mudahan keterangan ini membuat Ibu merasa lebih nyaman untuk makan berbagai makanan dan berbagai rasa yang disukai.

Prof. Dr. dr. H. Azhali, M.S., Sp. A.K.

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

January 5, 2008

"Mood" Berubah Menjelang Haid

Masalah :

Saya Ny. A ( 37 tahun ), ibu dari dua remaja putri. Suami saya staf di sebuah departemen dan baru kurang lebih 3 bulan lalu tinggal di kota Bandung. Sebelumnya kami tinggal di Sulawesi Tenggara.

Anak pertama kami supel dan senang akan seni dan estetika, sedangkan anak yang kedua pendiam dan senang membaca buku. Anak kedua kami pada waktu haid seringkali menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, dan marah-marah. Yang kadang membuat keluarga tidak mengerti, di luar waktu haid sifatnya biasa-biasa saja.

Selama 3 bulan ini kedua anak kami mulai dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Meskipun demikian ada beberapa hal yang membuat kami khawatir, yaitu menyangkut pergaulan muda-mudi, terlebih di kota besar seperti Bandung. Kami khawatir karena di masyarakat saat ini dengan mudah remaja mendapatkan materi pornografi seperti majalah, buku, dan film yang dapat memberikan dampak negatif terhadap perilaku seksual remaja.

Perlukah remaja mengetahui tentang seks? Bagaimana dampak kehamilan di luar nikah pada remaja? Bagaimana mengatasi mudah tersinggung dan marah waktu haid ? Terima kasih.

Ny. A Bandung

 

Jawaban :

Masalah seksual pada remaja adalah hal yang memprihatinkan dan sering terjadi. Salah satu masalah seksual sebagai konsekuensi dari meningkatnya penyebaran pornografi adalah kehamilan di luar nikah pada remaja. Banyak efek negatif dari kehamilan pada remaja di antaranya penyakit fisik seperti anemia, kesulitan persalinan karena tulang panggul belum sempurna, persalinan prematur, kematian bayi dalam kandungan, berat badan bayi lahir rendah, dan sebagainya.

Di bidang sosial remaja akan gagal menikmati masa remajanya dan akan menerima sikap lingkungan yang negatif karena dianggap memalukan. Ini dapat menimbulkan sikap penolakan remaja terhadap bayi yang dikandungnya. Kehamilan yang tidak dikehendaki umumnya menjurus kepada tindakan pengguguran kandungan yang ilegal atau sampai pada pembunuhan janin (infanticida).

Pengetahuan seksual yang setengah-setengah mendorong gairah seksual sehingga tidak bisa dikendalikan. Hal ini akan meningkatkan risiko dampak negatif seksual. Dalam keadaan orang tua yang tidak terbuka mengenai masalah seksual, remaja akan mencari informasi tersebut dari sumber yang lain, teman-teman sebayanya, buku, majalah, internet, video, atau blue film. Mereka sendiri belum dapat memilih mana yang baik dan perlu dilihat, atau mana yang harus dihindari. Mereka mungkin menyerap hal-hal negatif dari sumber-sumber yang memang biasanya bersifat porno.

Oleh karena itu, peran orang tua penting dalam memberikan pengetahuan seksual pada remaja agar remaja tidak keliru dalam menanggapi masalah-masalah seksual yang mereka hadapi.

Masalah seksual pada remaja timbul karena faktor-faktor berikut, (1) Perubahan kadar hormon pada remaja meningkatkan libido atau dorongan seksual yang membutuhkan penyaluran melalui aktivitas seksual. (2) Penyaluran dorongan seksual dilarang jika belum menikah, akibatnya penundaan usia perkawinan semakin lama. (3) Seks bebas semakin meningkat dengan maraknya penyebaran informasi dan rangsangan seksual. Remaja akan mencoba dan meniru apa yang dilihat dan didengarnya, terutama mereka yang belum mengetahui masalah seksual secara lengkap. (4) Orang tua bersikap tidak terbuka terhadap anak bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah seksual. (5) Adanya kecenderungan pergaulan semakin bebas antara pria dan wanita .

Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa pendidikan seks yang benar pada remaja akan meningkatkan penyimpangan perilaku seks pada remaja. Pengetahuan tentang seks dan perilaku menyimpang dalam seks itu ibarat timbangan. Bila remaja dibekali pengetahuan tentang seks yang baik, penyimpangan perilaku seksual akan rendah, sebaliknya bila remaja tidak memiliki pengetahuan tentang seks yang baik, penyimpangan perilaku seksual akan tinggi. Materi seksual harus diberikan sesuai dengan usianya, diberikan secara benar dan dimulai dari usia sedini mungkin.

Emosi waktu haid

Perubahan emosi yang ada hubungannnya dengan haid merupakan hal umum pada kebanyakan wanita, tetapi bila kejadian itu demikian berat sehingga menganggu fungsi kehidupannya, perlu dipertimbangkan adanya PPD (Premenstrual Dysphoric Disorder). PPD merupakan gangguan yang ditandai adanya perubahan mood, gangguan fungsi kognitif, dan perilaku yang terjadi fase prahaid. Angka kecelakaan, bunuh diri, dan kejahatan meningkat selama periode prahaid. Belum ditemukan penyebab pasti gangguan ini, ada dugaan disebabkan berbagai faktor genetik, biologis, dan psikologis.

Lebih dari 150 gejala dapat ditemukan pada separuh terakhir siklus haid. Dari sekian banyak gejala yang dikaitkan dengan PPD adalah gangguan mood dan perilaku. Selain itu dapat pula terjadi perubahan pola tidur, temperatur, dan nafsu makan.

Lebih dari 50 metode terapi yang dianjurkan untuk untuk PPD, artinya tidak ada terapi yang spesifik untuk PPD. Ada beberapa terapi yang dapat dilakukan, seperti psikoterapi atau terapi farmakologik. Beberapa PPD mengalami perbaikan tanpa intervensi yang spesifik. Psikoterapi yang dilakukan umumnya suportif; dengan dukungan kelompok, mengerti tentang gejala yang terjadi, dukungan bahwa pasien tidak sendirian, mengurangi perasaan bersalah, menghindari stres yang tidak perlu, memperbaiki rasa percaya diri dan citra diri. Keberhasilan terapi dengan placebo mencapai 40 % - 50% memberi kesan bahwa faktor psikologis cukup berperan pada PPD.

Keluhan PPD jarang ditemukan pada wanita yang aktif berolah raga, daripada yang tidak berolah raga. Dalam hal ini olah raga dihubungkan dengan penurunan stres.

Hindari mengonsumsi kopi dan rokok (menimbulkan cemas), serta mengurangi gula dan minum susu. Pemberian vitamin A dan E serta beberapa mineral juga dapat membantu.

dr. Teddy Hidayat, Sp.K.J. (Psikiater)

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment