Masalah :
Saya Ny. A ( 37 tahun ), ibu dari dua remaja putri. Suami saya staf di sebuah departemen dan baru kurang lebih 3 bulan lalu tinggal di kota Bandung. Sebelumnya kami tinggal di Sulawesi Tenggara.
Anak pertama kami supel dan senang akan seni dan estetika, sedangkan anak yang kedua pendiam dan senang membaca buku. Anak kedua kami pada waktu haid seringkali menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, dan marah-marah. Yang kadang membuat keluarga tidak mengerti, di luar waktu haid sifatnya biasa-biasa saja.
Selama 3 bulan ini kedua anak kami mulai dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Meskipun demikian ada beberapa hal yang membuat kami khawatir, yaitu menyangkut pergaulan muda-mudi, terlebih di kota besar seperti Bandung. Kami khawatir karena di masyarakat saat ini dengan mudah remaja mendapatkan materi pornografi seperti majalah, buku, dan film yang dapat memberikan dampak negatif terhadap perilaku seksual remaja.
Perlukah remaja mengetahui tentang seks? Bagaimana dampak kehamilan di luar nikah pada remaja? Bagaimana mengatasi mudah tersinggung dan marah waktu haid ? Terima kasih.
Ny. A Bandung
Jawaban :
Masalah seksual pada remaja adalah hal yang memprihatinkan dan sering terjadi. Salah satu masalah seksual sebagai konsekuensi dari meningkatnya penyebaran pornografi adalah kehamilan di luar nikah pada remaja. Banyak efek negatif dari kehamilan pada remaja di antaranya penyakit fisik seperti anemia, kesulitan persalinan karena tulang panggul belum sempurna, persalinan prematur, kematian bayi dalam kandungan, berat badan bayi lahir rendah, dan sebagainya.
Di bidang sosial remaja akan gagal menikmati masa remajanya dan akan menerima sikap lingkungan yang negatif karena dianggap memalukan. Ini dapat menimbulkan sikap penolakan remaja terhadap bayi yang dikandungnya. Kehamilan yang tidak dikehendaki umumnya menjurus kepada tindakan pengguguran kandungan yang ilegal atau sampai pada pembunuhan janin (infanticida).
Pengetahuan seksual yang setengah-setengah mendorong gairah seksual sehingga tidak bisa dikendalikan. Hal ini akan meningkatkan risiko dampak negatif seksual. Dalam keadaan orang tua yang tidak terbuka mengenai masalah seksual, remaja akan mencari informasi tersebut dari sumber yang lain, teman-teman sebayanya, buku, majalah, internet, video, atau blue film. Mereka sendiri belum dapat memilih mana yang baik dan perlu dilihat, atau mana yang harus dihindari. Mereka mungkin menyerap hal-hal negatif dari sumber-sumber yang memang biasanya bersifat porno.
Oleh karena itu, peran orang tua penting dalam memberikan pengetahuan seksual pada remaja agar remaja tidak keliru dalam menanggapi masalah-masalah seksual yang mereka hadapi.
Masalah seksual pada remaja timbul karena faktor-faktor berikut, (1) Perubahan kadar hormon pada remaja meningkatkan libido atau dorongan seksual yang membutuhkan penyaluran melalui aktivitas seksual. (2) Penyaluran dorongan seksual dilarang jika belum menikah, akibatnya penundaan usia perkawinan semakin lama. (3) Seks bebas semakin meningkat dengan maraknya penyebaran informasi dan rangsangan seksual. Remaja akan mencoba dan meniru apa yang dilihat dan didengarnya, terutama mereka yang belum mengetahui masalah seksual secara lengkap. (4) Orang tua bersikap tidak terbuka terhadap anak bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah seksual. (5) Adanya kecenderungan pergaulan semakin bebas antara pria dan wanita .
Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa pendidikan seks yang benar pada remaja akan meningkatkan penyimpangan perilaku seks pada remaja. Pengetahuan tentang seks dan perilaku menyimpang dalam seks itu ibarat timbangan. Bila remaja dibekali pengetahuan tentang seks yang baik, penyimpangan perilaku seksual akan rendah, sebaliknya bila remaja tidak memiliki pengetahuan tentang seks yang baik, penyimpangan perilaku seksual akan tinggi. Materi seksual harus diberikan sesuai dengan usianya, diberikan secara benar dan dimulai dari usia sedini mungkin.
Emosi waktu haid
Perubahan emosi yang ada hubungannnya dengan haid merupakan hal umum pada kebanyakan wanita, tetapi bila kejadian itu demikian berat sehingga menganggu fungsi kehidupannya, perlu dipertimbangkan adanya PPD (Premenstrual Dysphoric Disorder). PPD merupakan gangguan yang ditandai adanya perubahan mood, gangguan fungsi kognitif, dan perilaku yang terjadi fase prahaid. Angka kecelakaan, bunuh diri, dan kejahatan meningkat selama periode prahaid. Belum ditemukan penyebab pasti gangguan ini, ada dugaan disebabkan berbagai faktor genetik, biologis, dan psikologis.
Lebih dari 150 gejala dapat ditemukan pada separuh terakhir siklus haid. Dari sekian banyak gejala yang dikaitkan dengan PPD adalah gangguan mood dan perilaku. Selain itu dapat pula terjadi perubahan pola tidur, temperatur, dan nafsu makan.
Lebih dari 50 metode terapi yang dianjurkan untuk untuk PPD, artinya tidak ada terapi yang spesifik untuk PPD. Ada beberapa terapi yang dapat dilakukan, seperti psikoterapi atau terapi farmakologik. Beberapa PPD mengalami perbaikan tanpa intervensi yang spesifik. Psikoterapi yang dilakukan umumnya suportif; dengan dukungan kelompok, mengerti tentang gejala yang terjadi, dukungan bahwa pasien tidak sendirian, mengurangi perasaan bersalah, menghindari stres yang tidak perlu, memperbaiki rasa percaya diri dan citra diri. Keberhasilan terapi dengan placebo mencapai 40 % - 50% memberi kesan bahwa faktor psikologis cukup berperan pada PPD.
Keluhan PPD jarang ditemukan pada wanita yang aktif berolah raga, daripada yang tidak berolah raga. Dalam hal ini olah raga dihubungkan dengan penurunan stres.
Hindari mengonsumsi kopi dan rokok (menimbulkan cemas), serta mengurangi gula dan minum susu. Pemberian vitamin A dan E serta beberapa mineral juga dapat membantu.
dr. Teddy Hidayat, Sp.K.J. (Psikiater)
Sumber : Pikiran Rakyat Online
Tags: dr. Teddy Hidayat Sp.K.J., Emosi Waktu Haid, Pikiran Rakyat Online