Amazon.com Widgets

February 1, 2008

Osteoporosis, Kenapa Takut?

Tanya:

Yth. Dokter RS Mediros. Saya mengajukan pertanyaan soal ibu saya. Beliau berumur 62 th, tinggal di Yogya, beberapa bulan ini ibu merasakan pinggangnya pegal-pegal, namun karena tidak mengganggu dia membiarkannya. Bulan lalu karena pegalnya terasa lebih dari biasa, beliau memeriksakan pada seorang dokter praktik dekat rumahnya. Setelah diperiksa, dokter mengatakan kemungkinan masalahnya pada tulang belakang, tetapi masih mungkin juga pada ginjal. Untuk itu, ibu perlu diperiksa laboratorium: darah dan urin, pemeriksaan foto tulang belakang.

Ternyata menurut dokter, memang ginjal ibu tidak apa-apa, namun tulang belakangnya dikatakan dokter telah timbul semacam pengapuran, istilahnya kalau tidak salah Spondiloartritis. Selain itu kata dokter, tulang belakang ibu tampak keropos, mungkin istilahnya Osteoporosis. Dokter menganjurkan ibu segera berobat ke dokter spesialis tulang, karena akan ada selalu kemungkinan timbul patah tulang pada tulang. Sebenarnya apakah itu Osteoporosis? Apakah ibu memerlukan pemeriksaan-pemeriksaan lain dan bagaimana mengobatinya? Terima kasih.

Ny. Sugiarti, Karawang Timur

Jawab:

Terima kasih atas pertanyaannya. Saya akan mencoba memberikan penjelasan tentang ”Tulang keropos” atau Osteoporosis. Osteoporosis adalah suatu keadaan ketika massa tulang kurang dari normal sehingga terjadi perubahan arsitektur tulang yang menyebabkan tulang menjadi rapuh dan pada gilirannya menjadi mudah patah. Oleh karena keadaan tulang semacam itu, dapat kita ibaratkan seperti pohon/kayu ataupun bangunan yang lapuk atau keropos. Maka Osteoporosis dapat kita sebut sebagai keropos tulang.

Dalam masa pertumbuhan seseorang, tulang sebagai bagian dari tubuh manusia, mempunyai peran sebagai pembentuk dan penyangga tubuh. Oleh karena itu tulang manusia disusun sedemikian rupa menjadi suatu kerangka. Setiap tulang penyusun kerangka bertumbuh sesuai dengan pola dan peta yang tertentu. Namun setiap bagian tulang menjadi lebih kuat dibanding yang lain salah satunya adalah akibat rangsangan beban yang diterimanya sewaktu bertumbuh. Dalam penelitian ternyata massa tulang maksimal (massa tulang puncak) dapat dibentuk sampai umur 30 tahun. Setelah umur 30 tahun secara perlahan-lahan atau cepat, massa tulang akan berkurang sejalan dengan bertambahnya umur karena berbagai sebab.

Jenis Osteporosis. Ada baiknya kita kenali lebih dulu jenis-jenis Osteoporosis (= OP = keropos tulang). Untuk pertama kalinya OP dilukiskan oleh Pommer pada tahun 1885, sedangkan Albright membedakan OP dengan Osteomalacia (tulang melembek). Baru kemudian pada tahun 1983 Riggs & Melton membagi OP dengan jenis-jenis: 1) OP Primer: terjadi karena proses penuaan. Ada dua tipe yaitu: Tipe I atau OP Postmenopausal, terjadi pada kebanyakan wanita usia 51 – 65 tahun, sedangkan Tipe II atau OP Senilis adalah kebanyakan terjadi pada pria usia lebih dari 75 tahun. 2) OP Sekunder: terjadi karena penyakit-penyakit: a. Penyakit Endokrin (Tiroid, Hiperparatiroid, Hipogonadisme), b. Penyakit Saluran cerna, c. Penyakit Keganasan (kanker), d. Obat-obatan (corticosteroid), e. Lain-lain seperti rokok dan alkohol.

Tanda-tanda OP: Pada awalnya memang tidak jelas, menjadi jelas bila sudah menyebabkan patah tulang (umumnya tulang lengan bawah dekat sendi tangan, tulang belakang di daerah pinggang dan tulang paha bagian lehernya). Untuk itu perlu kita tahu proses terjadinya OP dengan memperhatikan faktor risiko: Umur, Jenis kelamin. Wanita lebih mudah terkena daripada pria. Ras bangsa: kulit putih dan Asia lebih mudah terkena OP daripada ras lain. Postur tubuh kecil lebih mudah terkena OP dibanding yang gemuk. Faktor lainnya: kebiasaan olahraga terutama waktu pertumbuhan. Kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol, penyakit endokrin, konsumsi obat-obatan tertentu.

Pemeriksaan. Pemeriksaan yang perlu dilakukan antara lain. Pengukuran massa dan densitas tulang. Ada bermacam-macam pemeriksaan: -1) SPA Single photon absorptiometry, -2) DPA Dual photon absorptiometry, -3) DEXA Dual energy X-ray absorptiometry dan -4) Quantitative CT. Dapat pula dengan pemeriksaan Rontgent (foto polos) maupun pemeriksaan laboratorium, khususnya darah.

Penanganan. Pendekatan pengobatan adalah secara holistik yaitu memperhatikan semua faktor yang ada yang memungkinkan terjadinya OP. Untuk itu pencegahan adalah lebih utama daripada pengobatan. Oleh karenanya: 1. Perhatikan faktor yang ada, 2. Hindari semua faktor yang ada, 3. Faktor yang tidak dapat dihindari karena alasan khusus, upayakan dikurangi, 4. Gunakan obat-obatan sesuai petunjuk dokter, 5. Olahraga yang sesuai adalah mutlak diperlukan.

Obat-obat yang ada: 1. Kalsium 1.500 mg per hari, 2. Calcitonin 50 iu per hari, 3. Calcitrol 0,25-0,5 ug per hari, 4. Diphosphonate 5-10 mg/kg BB per hari, 5. TSH (Terapi sulih hormon), 6. SERM (Selective estrogen receptor modulator).
Sebaiknya segera berobat pada dokter ahlinya.

Dr.Prihardadi Turidho, SpOT - Spesialis Bedah Tulang
RS Mediros
 

 

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment