Amazon.com Widgets

February 23, 2008

Kencing Berdarah

Tanya:

Saya seorang pria, umur 32 tahun. Tahun lalu, saya menjalani check-up rutin. Saya merasa sehat dan tidak ada keluhan, tetapi ternyata didapati hasil pemeriksaan urin ditemukan sedikit sel darah merah, berjumlah 6-8 buah. Saya dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap kelainan urin tersebut.

Kemudian saya berobat dan dilakukan beberapa pemeriksaan antara lain pemeriksaan lab, USG, rontgen ginjal, tapi tidak ditemukan suatu kelainan. Tetapi selama tiga bulan berturut-turut, urin saya diperiksa tiga kali dan tetap ditemukan sel darah merah antara 6 -10 sel di urin.
Pertanyaan saya, apakah penyebab adanya sel darah merah dalam urin saya tersebut? Apakah kemungkinan penyakitnya berbahaya?
Freddy S.
Jakarta Barat

Jawab:

Sdr Freddy S. yth,

pertama perlu diketahui kondisi Anda itu disebut sebagai Kencing Berdarah, dan istilah kedokterannya adalah Hematuria, artinya adanya darah (khususnya sel darah merah atau eritrosit) dalam urin. Darah dapat terlihat di urin secara kasat mata (hematuria makroskopik) yaitu urin terlihat merah kadangkala disertai gumpalan-gumpalan darah beku, karena cukup banyak darah terdapat dalam urin.
Hematuria dapat juga terjadi dengan penampakan urin yang terlihat normal seperti yang Anda alami, tetapi dalam urin terdapat darah yang hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop.

Adanya darah di urin menandakan terdapat gangguan yang menyebabkan pendarahan di saluran kemih. Saluran kemih terdiri dari ginjal, ureter (saluran yang menghubungkan ginjal dan kandung kemih), kandung kemih, uretra (saluran yang menghubungkan kandung kemih dengan dunia luar) dan kelenjar prostat yang dilalui uretra.

Hematuria dapat terjadi pada seseorang tanpa disertai gejala yang disebut Asymtomatic hematuria. Ini ditemukan, misalnya, pada saat melakukan check up kesehatan atau pada pemeriksaan laboratorium untuk penyakit lain.

Bila seseorang mengalami satu kali hematuria, walaupun sesudah itu menghilang, perlu dilakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya. Ada bermacam gangguan yang dapat menyebabkan hematuria pada seseorang, sebagian bisa serius tetapi ada pula gangguan yang tidak penting, dan bahkan tidak membutuhkan pengobatan.

Beberapa penyebab serius adalah kanker (dapat terjadi pada ginjal, kandung kemih dan prostat); batu ginjal atau saluran kemih lainnya; penyakit pada saringan darah ginjal (glomerulonefritis); penyakit ginjal polikistik di mana terdapat banyak kista (gelembung berisi cairan); infeksi-infeksi pada ginjal, ureter, kandung kemih, uretra, prostat; penyumbatan ureter; benturan atau trauma pada ginjal dan akibat obat-obatan „pengencer ” darah.
Penyebab lain misalnya infeksi kandung kemih yang ringan, setelah berlari jarak jauh, olahraga berat saat kehamilan.

Pemeriksaan
Pemeriksaan penyakit ini dimulai dengan wawancara apakah darah terlihat, apakah bergumpal-gumpal, seberapa sering terjadinya, apakah ada nyeri pinggang hebat, apakah nyeri sewaktu kencing, apakah ada demam, apakah disertai bengkak pada kaki atau kelopak mata, dan sebagainya.

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik, dan kemudian pemeriksaan laboratorium, dimulai dari yang sederhana misalnya pemeriksaan protein urin, sedimen (endapan) urin di bawah mikroskop, maupun pemeriksaan darah untuk fungsi ginjal guna mendeteksi penyakit-penyakit lain. Selain itu dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan USG atau pun pemeriksaan foto rontgen ginjal. Jika dicurigai terdapat benjolan (tumor) dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan CT-scan dan biopsi ginjal untuk pemeriksaan mikroskop jaringan ginjal.

Sementara upaya pencegahan penyakit ini hampir sama dengan penyakit ginjal secara umum. Pada individu yang memiliki ginjal normal tapi berisiko -mempunyai penyakit turunan dalam keluarga- mesti melakukan hidup sehat sesuai petunjuk dokter.

Jika berisiko batu ginjal, upayakan minum banyak, hindari makanan yang mengandung bahan-bahan pembuat batu (kalsium, asam urat, pete, jengkol dsb), kurangi protein dan garam. Sementara yang berisiko ginjal polikistik harus periksa USG, laboratorium berkala, obati infeksi begitu ditemukan.

Sedangkan bagi individu yang tanpa risiko, pencegahan yang bisa dilakukan adalah hidup sehat dan memahami tanda-tanda sakit ginjal, seperti buang air kecil terganggu atau tidak normal, nyeri pinggang, bengkak mata dan kaki.

Bila ada infeksi di luar ginjal, maka perlu berobat atau kontrol ke dokter untuk menghindari fase kronik yang dapat menyerang ginjal
Sementara upaya pencegahan pada orang dengan ginjal yang terganggu ringan atau sedang adalah berobat teratur untuk penyakit dasar. Selain itu, hati-hati terhadap pemakaian obat rematik, antibiotika tertentu, dan obat tradisional yang tidak diketahui efek samping terhadap ginjal.

Bila ada infeksi di tubuh, segera berobat untuk diberantas misalnya penyakit tifus (demam tifoid) dan infeksi paru atau pneumonia. Hindari juga kekurangan cairan dan kontrol kesehatan atau penyakit secara periodik, biasanya juga pemeriksaan laboratorium secara periodik.
Pengobatan untuk penyakit ini diberikan sesuai dengan penyebab yang ditemukan, tidak ada satu jenis pengobatan yang berlaku untuk semua penyebab kencing berdarah. Sebaliknya ada juga penyakit yang tidak perlu diobati, misalnya bila kencing berdarah disebabkan infeksi ringan di kandung kemih yang dapat hilang sendiri tanpa pengobatan, cukup dengan minum banyak.

Sdr. Freddy, secara klinis kondisi Anda sudah dapat dikatakan sebagai persistent hematuria. Data yang Anda paparkan belum cukup untuk menentukan penyakitnya, masih perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan penyakit yang menyebabkannya.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro
Konsultan Ginjal-Hipertensi RS Mediros

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

February 21, 2008

Kaki Bengkak dan Kencing Manis

Tanya:

Saya berumur 52 tahun, kurang lebih 9 tahun mendapat penyakit kencing manis. Pada awalnya saya rajin kontrol, mungkin sekitar 4-5 tahun, tapi sesudah itu saya kurang teratur ke dokter maupun kontrol pemeriksaan laboratorium. Obat yang saya minum selama ini mula-mula Diamicron kemudian ditambah Metformin. Pada masa awal tersebut, gula darah saya sebenarnya cukup baik. Pada saat puasa, gula darah sekitar 110-120. Dan dua jam sesudah makan sekitar 140. Tiga tahun terakhir dari pemeriksaan yang tidak teratur, gula darah saya sekitar 240-260.

Satu bulan terakhir ini kaki saya mulai agak bengkak. Saya berobat ke dokter umum, diberi obat agar kencingnya banyak, kemudian bengkak hilang. Saya diminta agar obat kencing manis diminum teratur dan gula darah saya menjadi 150-160. Hasil pemeriksaan kencing saya, proteinnya positif sedangkan fungsi ginjal dikatakan masih baik, kalau tidak salah creatinine 1,3. Selain itu, saya diberi obat tekanan darah tinggi Nifedipin karena tekanan darah saya diukur 180/105. Dokter mengatakan penyakit ginjal saya adalah akibat dari penyakit kencing manis yang selama ini kurang terkontrol.

Saya mohon penjelasan, apakah penyakit ginjal saya tidak parah karena dikatakan fungsi ginjal saya masih baik? Sehubungan dengan teman saya yang tahun lalu menjalani cuci darah karena ginjalnya rusak, saya menjadi khawatir apakah penyakit ginjal saya dengan kaki yang bengkak dan dengan penyakit kencing manis yang sudah 9-10 tahun dapat membahayakan kondisi tubuh saya? Adik saya berumur 45 tahun juga mempunyai penyakit kencing manis sudah sekitar 4-5 tahun, mohon petunjuk dokter agar adik saya dapat terhindar dari penyakit ginjal ini.

Anwar B
Samarinda, Kalimantan Timur

Jawab:

Bapak Anwar yth, sayang data yang disampaikan kurang lengkap, tapi saya akan memberikan penjelasan tentang penyakit yang Anda derita dan penanggulangannya. Pertama, penyakit Anda ini saya perkirakan adalah apa yang disebut Nefropati Diabetik (ND), yaitu penyakit ginjal sebagai komplikasi dari penyakit kencing manis atau diabetes. Penyakit ini ditandai dengan bocornya protein atau albumin melalui saringan ginjal (glomerulus) ke dalam urin.

Mula-mula sedikit, kemudian bertambah banyak kebocorannya dan selanjutnya berkembang ke arah timbulnya pembengkakan misalnya di kaki. Pembengkakan terjadi karena kadar protein dalam darah menurun. Hal ini disebabkan oleh karena kebocoran protein yang cukup tinggi di ginjal, misalnya sudah lebih dari 1 gram/24 jam.

Pada kebocoran yang sangat tinggi, misalnya di atas 3 - 3,5 gram, dikatakan sudah pada tahap Nefrotik (Nephrotic Stage), pembengkakan lebih parah di kaki, perut, muka, kepala, tangan, dan sebagainya. Pada tingkat ini biasanya kolesterol juga sudah tinggi.

Sebenarnya penyakit ginjal pada penderita diabetes dapat bermacam-macam. Selain ND, juga Infeksi ginjal atau saluran kemih, kemudian apa yang disebut papillary necrosis atau bagian dari ginjal menjadi mati (nekrosis). Selain itu bisa juga gangguan kandung kencing dengan segala komplikasinya. Namun gangguan ginjal pada diabetes yang paling banyak, sekitar 90 persen, adalah ND.

Sekitar 30-40 persen pasien diabetes (tipe I dan II) akan mendapat ND. ND ini adalah penyakit ginjal yang paling banyak menyebabkan gagal ginjal tahap akhir (GGTA atau ESRD = End Stage Renal Disease). Di Amerika dan Singapura. Misalnya, dari seluruh pasien GGTA, 40 persen disebabkan penyakit ND. Di negara-negara lain dengan angka lebih rendah, yaitu Swedia 20 persen dan Australia 12 persen.

Biasanya ND jarang timbul pada masa sebelum 10 tahun mendapat penyakit diabetes. Pada Anda, ND terlihat timbul agak lebih cepat, kemungkinan karena 4-5 tahun terakhir penyakit diabetes Anda tidak terkendali secara baik.

Untuk menanggulanginya, Anda bisa melakukan diet dan pengobatan. Penanggulangan ini harus dijalankan secara tekun dan disiplin dalam mengendalikan gula darah agar selalu normal, ditandai dengan kadar gula darah yang normal dan kadar HbA1C (GlycoHb) yang berada di bawah 6,5 persen. Selain itu, hipertensi harus ”diperangi” dengan target tekanan darah di bawah 140/90. Bila sudah ada kebocoran albumin targetnya lebih rendah yaitu 125-130/75-85. Gunakan obat hipertensi golongan ACE Inhibitor atau ARB (Angiotension Receptor Blocker).
Bila ada kenaikan kadar lemak darah harus diobati agar menjadi normal. Diet yang harus dijalani adalah diet diabetes, diet rendah protein untuk mengurangi beban ke ginjal, diet rendah kolesterol dan tentunya diet hipertensi.

ND Anda agaknya sudah berada pada tahap 4. Pengobatan harus dilakukan dengan gigih. Suatu kondisi yang cukup menggembirakan adalah bahwa selama 15 tahun ini berbagai perkembangan strategi pengobatan berhasil menekan angka kematian penderita ND dari 70 persen ke 20 persen. Mengenai adik Anda, pengobatan diabetesnya ditujukan untuk menghindari timbulnya ND. Penanggulangan yang telah disebutkan di atas, seperti diet, pemeriksaan laboratorium dan pengobatan terhadap diabetes, hipertensi, hiperlipidemia perlu dijalankan secara tekun.

Bila sudah ada kebocoran albumin, apalagi bila sudah ada pembengkakan kaki, sebaiknya ditangani oleh seorang konsultan Nefrologi. Petunjuk rujukan yang lain adalah bila ada sel darah merah di urin atau misalnya sudah ada penurunan fungsi ginjal.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro
Konsultan Ginjal-Hipertensi, RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

February 19, 2008

Bisakah Cuci Darah Dihindari? (Bagian ke-2)

Masalah :

Berikut ini merupakan penjelasan bagian ke-2 atas pertanyaan Ny. S. Winata, Bogor, tentang cuci darah yang dimuat dalam rubrik ini tanggal 4 Juli lalu.

 

Jawaban :

HEMODIALISIS (HD) atau cuci darah melalui mesin sudah dilakukan sejak tahun 1960-an. Biasanya, HD dijalankan secara tim dengan dikoordinasi oleh dokter konsultan nefrologi /ginjal. Di dalamnya juga termasuk perawat, teknisi, ahli gizi, pekerja sosial, psikolog, rohaniwan dan yang terpenting pasien sendiri dan keluarganya.

Dengan memahami prosedur HD maka diharapkan dapat dicapai hasil terbaik dan pasien dapat menjalani kehidupan yang aktif dengan kualitas hidup yang baik.

Bila seseorang sudah dalam kondisi Gagal Ginjal Tahap Akhir, fungsi ginjal hanya sekitar lima persen atau kurang, maka berbagai bahan ”sampah” (waste product) tidak dapat dibersihkan dengan baik.
Sampah diproduksi tubuh secara kontinu setiap saat, sehingga terjadi penumpukan sampah dan bahan-bahan lain sehingga bersifat racun dan berbahaya bagi pasien. Karenanya prosedur HD perlu dijalankan secara teratur 2-3 kali seminggu selama 4-5 jam (total 10-15 jam per minggu) sehingga terjadi pembersihan sampah-sampah secara kontinu dan terjadi keseimbangan bahan-bahan penting seperti elektrolit Kalium, Natrium serta cairan.

Secara ideal, pasien mulai menjalani HD jika fungsi ginjal, diukur dengan Tes Kliren Kreatinin = TKK, berada di bawah 15 ml/menit. Dengan pedoman TKK <10 ml/menit dengan gejala-gejala Gagal Ginjal (Uremia) atau malnutrisi. Atau TKK <5ml/ menit walaupun tanpa gejala. Selain itu, HD dilakukan juga bila terjadi komplikasi akut edema paru, hiperkalemia, dan sebagainya. Pada penderita diabetes, HD sebaiknya dilakukan lebih dini.

Proses Hemodialisis
Dalam proses HD diperlukan Akses vaskuler -pembuluh darah- hemodialisis (AVH) yang cukup baik agar dapat diperoleh aliran darah yang cukup besar, yaitu diperlukan kecepatan darah sebesar 200-300 ml/menit secara kontinu selama HD 4-5 jam.
AVH dapat berupa kateter yang dipasang di pembuluh darah vena di leher atau paha dan bersifat temporer. Untuk yang permanen dibuat hubungan antara arteri dan vena, biasanya di lengan bawah disebut Arteriovenous Fistula, lebih populer disebut (Brescia-) Cimino Fistula.
Kemudian aliran darah dari tubuh pasien masuk ke dalam sirkulasi darah mesin HD yang terdiri dari selang Inlet/arterial (ke mesin) dan selang Outlet/venous (dari mesin ke tubuh).

Kedua ujungnya disambung ke jarum dan kanula yang ditusukkan ke pembuluh darah pasien. Darah setelah melalui selang Inlet masuk ke dialiser. Jumlah darah yang menempati sirkulasi darah di mesin berkisar 200 ml. Dalam dialiser ini darah dibersihkan, sampah-sampah secara kontinu menembus membran dan menyeberang ke kompartemen dialisat.

Di pihak lain cairan dialisat mengalir dalam mesin HD dengan kecepatan 500 ml/menit masuk ke dalam dialiser pada kompartemen dialisat. Cairan dialisat merupakan cairan yang pekat dengan bahan utama elektrolit dan glukosa, cairan ini dipompa masuk ke mesin sambil dicampur dengan air bersih yang sudah menjalani proses pembersihan yang rumit (water treatment).
Selama proses HD, darah pasien diberi Heparin agar tidak membeku ketika berada di luar tubuh yaitu dalam sirkulasi darah mesin. Selama menjalani HD, posisi pasien dapat dalam keadaan duduk atau berbaring.

Selain menjalani HD, dalam jangka panjang, obat-obat yang diperlukan antara lain obat yang mengatasi anemia seperti suntikan hormon eritropoetin serta pemberian zat besi. Selain itu obat yang menurunkan kadar fosfat darah yang meningkat yang dapat mengganggu kesehatan tulang, diberikan obat pengikat fosfat (Phosphate binder).

Obat-obat lain yang diperlukan sesuai kondisi pasien misalnya obat hipertensi, obat-obat antigatal, vitamin penunjang (yang bebas fosfor maupun mineral yang tidak perlu). Mengenai diet, pasien sudah lebih bebas dietnya daripada dalam keadaan gagal ginjal yang belum menjalani HD. Namun perlu diperhatikan diet harus benar, air tidak berlebih, mineral kalium harus dibatasi hanya pada buah dan sayur, dan fosfor dalam makanan harus rendah.

Makanan yang mengandung banyak fosfor antara lain susu, keju, kacang-kacangan, dan minuman ringan. Sementara protein yang dimakan sebaiknya memiliki mutu tinggi karena akan memproduksi lebih sedikit sampah, antara lain daging, ikan, dan telor. Kalori perlu cukup, selain dari karbohidrat dan protein juga dari minyak tumbuh- tumbuhan.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro
Konsultan Ginjal-Hipertensi
RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

Malapetaka Gagal Ginjal Akut

Tanya:

Bapak saya berumur 59 th, tinggal di Sukabumi, beliau sejak 15 tahun lalu menderita penyakit batu ginjal. Pernah dioperasi sekitar tahun 90 untuk batu ginjal di sebelah kanan. Namun ketika dicek 4 – 5 tahun kemudian, dokter menyatakan timbul lagi beberapa buah batu di kedua ginjal, kira-kira sebesar kacang hijau dan jagung. Bapak diberikan obat-obat karena menolak untuk dilakukan tindakan penghancuran batu. Lima tahun terakhir ini ginjalnya suka kena infeksi, untungnya bila diobati segera sembuh. Pada pemeriksaan dokter bulan November tahun lalu, didapati fungsi ginjal sedikit menurun, kata dokter kadar kreatinin adalah 2,1 mg%.

Dua bulan lalu bapak merasa pinggangnya sakit dan kemudian beliau atas inisiatif sendiri minum obat jamu rematik selama tiga hari, sakit pinggangnya memang berkurang tetapi kemudian merasakan kencingnya berkurang drastis, hanya sedikit yang keluar, badan terasa agak hangat.

Beliau dibawa ke dokter dan dianjurkan segera dirawat karena dikatakan kemungkinan menderita Gagal Ginjal Akut. Di rumah sakit kadar kreatininnya ditemukan sebesar 9,2 mg%. Mulanya Dokter menyampaikan bahwa kemungkinan buruk dapat terjadi, kondisi Bapak dapat merosot drastis dan sebaiknya dilakukan cuci darah. Akhirnya cuci darah dilakukan hanya sekali saja dan untungnya setelah itu kondisi Bapak berangsur-angsur baik, kencing sudah lebih banyak dan akhirnya setelah tiga minggu perawatan diperbolehkan pulang tetapi harus kontrol teratur.

Pertanyaan saya: apa saja yang harus dipantang oleh Bapak? Apakah memang jamu tersebut menyebabkan Gangguan Ginjal Akut? Apa yang harus dilakukan Bapak untuk memberantas infeksinya yang suka kambuh itu? Bagaimana pemeliharaan ginjal Bapak selanjutnya? Terima kasih atas jawaban dokter.

Dadang T.,

Kampung Rambutan - Jakarta Timur

Jawab:

Yth. Sdr. Dadang. Dari penjelasan Saudara, Bapak Sdr. mengalami malapetaka Gagal Ginjal Akut, untungnya gangguan tsb dapat diatasi sehingga penyakitnya mereda. Sebenarnya gangguan yang dialami ayah Sdr adalah suatu ”Acute on Chronic Renal Failure”, suatu gangguan akut yang terjadi pada ginjal yang sebelumnya sudah ada penyakit kronis. Gangguan kronis tsb. adalah akibat batu dan infeksi.
Batu mungkin menyumbat ginjal sehingga terbentuk bendungan dan memudahkan (kondusif) untuk timbulnya infeksi. Batu dapat juga membuat goresan /luka pada bagian dalam ruangan ginjal atau salurannya, dan ini menyebabkan reaksi-reaksi jaringan ginjal sehingga juga memudahkan infeksi menyerang ginjal.

Infeksi yang terjadi pada ayah Sdr tampak sembuh dan kambuh berulang. Setiap terjadi infeksi kerusakan ginjal bertambah, kadang-kadang infeksi datang tanpa yang bersangkutan merasakan sesuatu gejala, sehingga infeksi berlangsung dalam waktu yang lebih lama sampai infeksi ditemukan.

Kelangsungan yang lebih lama ini tentu saja merugikan ginjal. Ini adalah keadaan yang kronis/menahun. Pada bulan November 2002 saya perkirakan fungsi ginjal (kedua ginjal) ayah Sdr sudah berada sekitar 30 – 35 %. Pada keadaan ini ginjal ayah Sdr sudah dalam kondisi yang lebih lemah dan lebih sensitif terhadap ganguan lain.

Sakit pinggang. Sakit pinggang yang diderita ayah Sdr dapat disebabkan oleh infeksi yang sedang kambuh atau batu yang menyumbat. Malapetaka datang ketika ayah Sdr minum jamu rematik untuk mengobati sakit pinggangnya. Jamu rematik merupakan obat yang bersifat nefrotoksik yaitu obat yang berpotensi merusak ginjal. Pada keadaan ginjal yang lemah, ginjal mudah terpengaruh negatif oleh obat ini. Biasanya obat ini membuat reaksi negatif dalam jaringan ginjal, disebut sebagai ”Interstitial Nephritis”. Terjadi reaksi peradangan semacam reaksi alergi. Dengan gangguan yang mungkin ringan tetapi karena ginjal sangat sensitif, maka pengaruh pada ginjal ayah Sdr tsb, akibatnya cukup berat, ginjal ayah Sdr mengalami Gagal Ginjal Akut (Acute Renal Failure).

Gagal Ginjal Akut. Gagal Ginjal Akut dapat terjadi karena penyebab ”sebelum” ginjal (”pre-renal”) misalnya keadaan kekurangan cairan mendadak (dehidrasi) seperti pada pasien muntaber yang berat, atau kehilangan darah yang banyak. Selain itu bisa terjadi juga karena keadaan ”sesudah” ginjal (”post-renal”) misalnya sumbatan pada kandung kemih karena batu, kanker, prostat dsb. Selain itu misalnya batu yang menyumbat ureter pada pasien dengan hanya satu ginjal.

Gangguan yang lain adalah pada ginjal itu sendiri. Pada ayah Sdr kelihatannya yang utama adalah penyebab di ginjal, yaitu karena reaksi jaringan ginjal akibat jamu rematik. Selain itu penyebab tsb, proses kerusakan ini dibantu oleh batu yang mungkin menyumbat dan infeksi yang sedang kambuh. Untungnya kondisi ini dengan pengobatan yang dilakukan menunjukkan perbaikan yang cukup baik.

Mengenai pantangan yang harus dijalani: hindari obat-obat yang bersifat nefrotoksik atau obat-obat yang ”memusuhi” ginjal seperti obat-obat rematik, termasuk jamu rematik, antibiotika-antibiotika tertentu, beberapa obat-obat antisakit lainnya. Selain itu infeksi di ginjal agar segera diberantas, memang keadaan akan sukar bila infeksi ini tidak dirasakan oleh pasien.

Beberapa hal yang mungkin membantu: perhatikan perangai kencing, bisa berubah sekalipun hanya ringan, misalnya kencing agak terasa atau agak perih. Atau sebentar-sebentar mau kencing (anyang-anyangan) atau kencing sedikit keruh. Bila terjadi seperti ini segera periksakan urin lengkap ke laboratorium. Selanjutnya bila terlihat frekuensi kambuhnya infeksi cukup sering sebaiknya diberikan obat untuk menjaga kambuhnya infeksi (maintenance treatment), misalnya diberikan obat tertentu satu kapsul atau tablet tiap malam selama beberapa bulan tergantung perkembangan infeksinya.

Selain itu hindari bahaya-bahaya yang bisa terjadi: penyakit mencret yang hebat, infeksi yang berat misalnya penyakit demam tifoid, atau infeksi paru yang akut dsb. Kondisi ini mudah mengancam/mengganggu ginjal sehingga dapat timbul penurunan fungsi ginjal yang akut.
Petunjuk terakhir: karena batu membantu timbulnya infeksi, sebaiknya batu ginjal tsb dihancurkan, bila memungkinkan dengan cara gelombang kejut (ESWL).
Demikian jawaban kami, semoga dapat membantu Sdr.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro
Konsultan Ginjal-Hipertensi
RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

February 18, 2008

Penanganan Menyeluruh Hipertensi dalam Diabetes

Tanya:

Saya menderita penyakit kencing manis sejak lima tahun lalu. Saya berobat
teratur dan patuh menjalankan diet, serta minum obat-obatan juga secara
teratur. Tiga bulan belakangan ini tekanan darah saya sering naik
140-150/90-100, tetapi kadang-kadang normal 130/90. Saya diberikan resep
obat tekanan darah tinggi, tapi saya ragu meminumnya karena tekanan darah
saya kadang-kadang normal, selain itu saya tidak merasa apa-apa.

Saya berusia 48 th, sebelumnya saya berbadan gemuk tetapi sekarang berat
badan saya cukup normal yaitu 63 kg dengan tinggi badan 168 cm. Data-data
hasil pemeriksaan darah saya terakhir adalah gula darah puasa 112, 2 jam
sesudah makan 135, pemeriksaan yang disebut glycohb adalah sebesar 7,5 %.

Kadar kolesterol saya kata dokter, LDL nya agak tinggi yaitu 185. Jantung
saya dikatakan masih baik.

Pertanyaan saya adalah: Apa yang harus saya lakukan mengenai tekanan darah
saya yang turun naik ? Apa memang perlu saya minum obat tekanan darah
tinggi?

Achmad T., Palembang

Jawab:

Bapak Achmad yth. Dari keterangan Anda, dapat dirangkum sbb: selain
penyakit Diabetes Mellitus (DM), terdapat kadar LDL cholesterol yang agak
tinggi, ditambah kemungkinan hipertensi. Untuk kelengkapan data sebaiknya
dilakukan pemeriksaan mata untuk mengecek adakah kelainan di mata karena
DM (disebut Diabetic Retinopathy), juga apakah sudah ada pengaruh DM ke
ginjal (disebut Diabetic Nephropathy), pemeriksaannya sederhana yaitu
diperiksa mikroalbuminuria beberapa kali dalam 1-2 bulan.

Penanganan terintegrasi/ menyeluruh. Agar diperoleh hasil yang optimal
dalam jangka panjang, disarankan penanganannya hal-hal sbb.

Pertama: dengan kadar HbA1c sebesar 7,5 % berarti kadar gula darah Anda
selama + 3 bulan terakhir berada di atas normal, walaupun hasil gula darah
terakhir cukup baik. Karenanya penanganan penyakit DM harus ditingkatkan
agar kadar glycoHb (HbA1c) menurun menjadi 6,5 % atau kurang, yaitu
melalui pengaturan diet, olah raga dan obat. Berat badan Anda sudah baik,
IMT (Index Massa Tubuh) adalah sebesar 22 kg/m2.

Kedua: kadar lemak (lipids) agar diperbaiki dengan target kadar kolesterol
total <200, kadar LDL < 100, kadar HDL > 40 serta triglyserida <150.

Ketiga: mengenai tekanan darah agar ditangani secara baik. Tekanan darah
agar diukur beberapa kali selama 2-4 minggu untuk memperoleh kepastian
adanya hipertensi. Pernyataan Anda tidak merasakan gejala sehingga ragu
untuk minum obat, perlu saya sarankan agar hipertensi jangan dilihat dari
masalah gejala, makanya dia dijuluki ”the silent killer”, pasien tidak
merasa apa-apa tetapi kemudian datang komplikasi yang fatal misalnya
serangan jantung, stroke dsb. Sebab itu sekalipun tidak merasa apa-apa,
tetapi bila tekanan darah Anda misalnya 130/90, sudah diperlukan
pengobatan untuk menghindari timbulnya komplikasi dikemudian hari. Bila
tekanan darah tsb di atas 120/80 maka digolongkan pada:
Pre-hipertensi, pada kondisi Anda yaitu adanya DM, adanya kolesterol yang
tinggi, maka sebaiknya disarankan dimulai pengobatan, dengan catatan diet
dan olahraga sudah dijalankan dengan baik. Obat hipertensi yang
dianjurkan: ACE inhibitor atau ARB (Angiotensin Receptor Blocker).

Berhubung tekanan darah Anda kadang normal, maka sebaiknya Anda sendiri
melakukan monitoring /pengukuran tekanan darah secara teratur 1-2 x
seminggu dan dicatat dalam satu buku. Target yang diharapkan adalah agar
tekanan darah Anda <120/80. Buku catatan ini akan membantu dokter dalam
melakukan evaluasi terhadap pengobatan hipertensi. Pada kesempatan yang
lain akan saya jelaskan bagaimana melakukan sendiri monitoring tekanan
darah.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro

Konsultan Ginjal-Hipertensi

RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

Perlunya Pengawasan Tekanan Darah pada Hipertensi

Tanya:

Dalam penjelasan dokter tentang hipertensi dan diabetes yang lalu
disebutkan tentang microalbuminuria. Saya berumur 55 tahun, menderita
diabetes sejak 9 tahun lalu dan akhir-akhir ini tekanan darah turun naik.
Ketika diperiksa dokter, tekanan darah saya kadang 150/100, kadang 125/85.
Pada pemeriksaan lab Juli lalu, hasil menunjukkan sebagai berikut: gula
darah selama puasa 115 dan sesudah makan 170, HbA1c 7,9. Sedangkan
mikroalbuminuria cukup tinggi, yakni 75 ug/mgCr. Sementara hasil urin
lainnya normal.

Pertanyaan saya, dari hasil laboratorium ini apa yang penting
diperhatikan? Karena tekanan darah saya turun naik, saya belum meminum
obat yang diberikan. Bagaimana sebaiknya pengobatannya? Terima kasih atas
jawaban dokter.

Juhari, Bandung

Jawab:

Bapak Juhari yth.

Sesuai dengan penjelasan saya yang lalu, maka diperlukan penanganan
terintegrasi. Pertama, pengobatan nonobat yaitu diet, olah raga, dan
memelihara berat badan harus dilakukan berkelanjutan. Kedua, untuk
diabetes target HbA1c adalah 6,5 persen atau kurang. Data-data lab yang
diberikan semuanya penting diperhatikan. Selain itu juga kreatinin dan
ureum, kadar lemak darah. Bila pengobatan nonobat telah dilakukan, maka
kemungkinan obat diabetes yang sedang diminum perlu ditingkatkan, mungkin
juga dikombinasikan.

Ketiga, tentang albuminuri memang sudah berada di atas normal. Namun
sebaiknya diperiksakan beberapa kali untuk mendapat gambaran lebih akurat.

Bila mikroalbuminuri tetap di atas normal, maka gangguan telah terjadi
pada ginjal akibat diabetes yang disebut sebagai Incipient Diabetic
Nephropathy. Sebaiknya hal ini segera ditangani dengan intensif, termasuk
penanganan tekanan darahnya.

Keempat, tekanan darah harus diperiksa beberapa kali berturut-turut dalam
dua minggu untuk menentukan sudah ada atau tidaknya hipertensi. Kalau
tekanan darah tetap berada di atas 120/80 tetapi di bawah 140/90, maka
keadaan ini disebut prehipertensi. Keadaan prehipertensi ini dengan
kondisi Anda, harus diobati, agar gangguan ginjalnya tidak bertambah.

Biasanya dokter akan memberikan obat golongan ACE Inhibitor atau ARB.
Sementara untuk monitoring tekanan darah lebih praktis dilakukan dengan
cara mengukur sendiri. Pengukuran secara teratur akan menghasilkan data
yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi dokter untuk mengendalikan atau
mengatasi hipertensi dan komplikasinya.

Pengukuran tekanan darah di ruang praktik, kadang-kadang menghasilkan
tekanan yang tinggi, sedangkan di rumah normal. Ini disebut white collar
hypertension atau office hypertension, yaitu tekanan darah hanya tinggi
ketika diukur di ruang praktik.

Pengukuran sendiri ini penting juga untuk kepentingan menentukan obat dan
dosisnya dalam perjalanan waktu ke depan. Alat yang dapat dipakai untuk
pengukuran sendiri adalah Monitor aneroid (seperti tampak pada gambar)
atau jenis lain Monitor digital.

Monitor digital harganya lebih mahal, tetapi dapat digunakan walaupun
lebih sensitif. Misalnya angka dapat berubah dengan pergerakan badan atau
denyut jantung yang tidak teratur (aritmia). Monitor digital jari
tangan/pergelangan umumnya akurasinya tidak tinggi. Karena itu, pilih
monitor dengan ukuran pembalut angin (cuff) yang sesuai dengan ukuran
lengan. Alat monitor sebaiknya setahun sekali dicek akurasinya.
Saat mengukur tekanan darah, posisi duduk rileks selama 5 menit, pompa
cuff sampai 30-40 mmHg di atas tekanan sistolik. Udara dalam cuff dilepas
perlahan dengan kecepatan penurunan tekanan 2-3 mmHg per detik. Kemudian
dengar munculnya bunyi pertama sambil memperhatikan angka dan ini disebut
tekanan sistolik. Lalu teruskan pengempisan cuff sampai bunyi denyut
hilang, ini adalah tekanan diastolik. Dengan alat digital, tekanan ini
akan otomatis muncul di layar. Bila ingin mengulang pengukuran, tunggu 2-3
menit.

Untuk Anda, ditinjau dari keseluruhan penyakitnya, tekanan darah berkisar
120/80 atau kurang. Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro

Konsultan Ginjal-Hipertensi

RS Mediros

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

February 17, 2008

Kencing Batu Tiga Kali Setahun

Tanya:

(Berikut ini adalah pertanyaan dari Sdr. M, umur 35 tahun, seorang peserta
Ceramah umum periodik di RS Mediros tgl. 6 September 2003, berjudul ”Batu
Ginjal dan Saluran Kemih – Mengobati dan Menghindarinya”).

Saya mempunyai masalah kencing batu berulang. Pada Agustus th 2001 saya
mengalami nyeri pinggang kiri yang agak hebat. Saya berobat ke dokter
terdekat, diberi obat dan disuruh melakukan pemeriksaan laboratorium dan
rontgen. Dua hari kemudian keluar batu sebesar butir beras warna putih
agak coklat, saya tidak melanjutkan pemeriksaan karena tidak merasa sakit
lagi. Kemudian tahun 2002 saya mendapat serangan nyeri lagi di sebelah
kiri juga dan keluar lagi batu juga sebesar butir beras yaitu pada bulan
Februari – Agustus dan September. Tahun ini baru sekali keluar batu pada
bulan Juli yang lalu. Batu-batu yang keluar saya simpan untuk
kenang-kenangan. Paman saya waktu umur 40-an keluar batu tetapi hanya
sekali saja, sesudah itu tidak pernah lagi.

Pertanyaan saya, apakah mungkin batu berhenti keluar? Bila tidak keluar
lagi, apa itu tanda sudah sembuh? Sebenarnya bagaimana batu terbentuk di
saluran kencing saya? Selain itu, apakah penyakit ini dapat disembuhkan?

Jawab:

Pertama perlu dijelaskan proses pembentukan batu, batu terbentuk di dalam
ginjal di bagian muara dari saluran kecil yaitu di bagian yang disebut
piramid. Terbentuknya batu dipengaruhi oleh berbagai hal fisika dan kimia
antara lain mula-mula kadar sesuatu zat (misalnya asam urat) berlebih
dalam urin disebut supersaturasi sehingga mengendap menjadi kristal,
zat-zat lain yang bisa seperti itu adalah kalsium oksalat, struvite, dsb.

Faktor lain adalah bila zat inhibitor (zat pencegah terjadinya kristal)
kadarnya berkurang, misalnya sitrat. Selain itu faktor keasaman urin (pH)
bila urin lebih asam, misalnya asam urat mudah mengkirstal, bila urin
lebih basa, kalsium fosfat mengkristal. Ada beberapa faktor lain yang
berpengaruh misalnya bahan nonkristal: mucoprotein sebagai pemicu
pembentukan kristal, yang lain: infeksi.

Penjelasan berikutnya adalah mengenai gejala, batu ginjal gejalanya bisa
bervariasi mulai dari tanpa gejala sampai dengan sakit yang hebat di
pinggang menjalar ke depan bawah, disebut kolik ginjal. Selain itu kencing
bisa berdarah, bisa juga tidak. Jadi pertanyaan bila tidak keluar batu
lagi, apakah berarti ”sembuh” hanya dapat ditentukan dengan pemeriksaan
lebih lanjut, misalnya pemeriksaan USG perut atau rontgen (BNO IVP)
disertai pemeriksaan laboratorium: fungsi ginjal, urin biasa, pengukuran
bahan kalsium dan asam urat dalam urin 24 jam, pemeriksaan kuman (kultur)
bila ke arah infeksi. ”Sembuh” di sini berarti tidak ada batu lagi, namun
pembentukan kristal yang baru bisa tetap potensial. Orang yang baru sekali
mengalami batu kemungkinan kambuhnya lebih kecil daripada yang mengalami
batu berulang.

Pemeriksaan yang dilakukan dokter biasanya bertujuan:
1. Menetapkan diagnosis.
2. Menetapkan golongan / jenis batu.
3. Mencari faktor-faktor risiko pembentukan batu.
4. Menetapkan pengobatan medis dengan /tanpa tindakan bedah untuk
menyingkirkan batu dan mencegah kekambuhan.

Jenis batu yang paling banyak adalah kalsium oksalat/ kalsium fosfat
sekitar 75-85 %, kemudian asam urat 5-20%, batu sistin 1-3 %, batu
magnesium amonium fosfat (struvite) 10-15%, batu lain-lain matrix, santin.

Batu yang harus segera ditangani adalah bila batu itu menyumbat saluran
kemih atau membuat infeksi yang berulang, atau terus-menerus membuat nyeri
yang hebat. Penyakit batu Saudara memiliki aspek genetik, yaitu faktor
keturunan dari keluarga karena paman Saudara berpenyakit batu ginjal.

Tindakan bedah yang dapat dilakukan adalah menembak batu (ESWL),
ureteroskopi (alat teropong sekaligus dapat menghancurkan batu atau PCN
(percutaneous nephrolythotomy) alat masuk dari dinding belakang ke dalam
ginjal dan batu diambil atau dihancurkan. Tindakan lain adalah operasi.

Untuk masa depan, yang penting dijaga kekambuhannya adalah dengan minum
air yang banyak, misalnya 2,5-3 liter, kalau perlu obat-obat tertentu bagi
jenis batu tertentu. Selain itu jangan makan garam berlebih dan protein
yang berlebih. Untuk batu asam urat, hindari jeroan, alkohol, kaldu,
beberapa jenis sea food, beberapa jenis sayuran.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro
Konsultan Ginjal-Hipertensi
RS Mediros

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

Bisakah Cuci Darah Dihindari?(1)

Tanya:

Bulan lalu, keponakan laki-laki saya, umur 20 tahun, merasa lemas dan suatu hari sesak napas. Ia segera dibawa ke rumah sakit di Jakarta Selatan dan ternyata menderita penyakit ginjal yang sudah parah. Kata dokter, kadar ureumnya sudah 385 dan kadar kreatinin 18. Ia harus segera menjalani cuci darah dengan mesin. Dokter menyebutnya Hemodialisis.

Kami sekeluarga sangat terkejut, sama sekali tidak menyangka ia harus menjalani cuci darah. Cuci darah dilakukan 3 kali seminggu, kondisinya berangsur baik. Dan dari hasil pemeriksaan USG, kedua ginjalnya sudah mengecil.

Anak ini pernah menderita penyakit ginjal pada umur 10 tahun, dengan kaki bengkak sedikit. Ketika diperiksa terdapat kelainan pada urin, tapi dikatakan dokter fungsi ginjal masih baik. Setelah satu bulan berobat penyakitnya dinyatakan sembuh.

Namun 10 tahun kemudian, penyakit ginjal tersebut tiba-tiba muncul dalam kondisi sudah sangat parah. Kami akui bahwa kami tidak pernah membawanya kembali ke dokter setelah dinyatakan sehat 10 tahun lalu.

Pertanyaan saya, apakah keponakan saya memang harus menjalani kontrol dokter secara rutin? Apakah cuci darah harus dilakukan seterusnya ataukah ada cara menghindari cuci darah?

Ny. S. Winata, Bogor

Jawab:

Ny. S. Winata yth, pertama-tama perlu diketahui terdapat bermacam-macam jenis penyakit ginjal, ada penyakit yang lokal di ginjal seperti misalnya Glomerulonefritis (GN) dan ada penyakit yang di luar ginjal tetapi pada akhirnya merusak ginjal misalnya penyakit diabetes, darah tinggi, kolesterol tinggi, dan sebagainya.

Saya perkirakan penyakit keponakan Anda adalah penyakit lokal pada ginjal, mungkin masuk dalam kelompok penyakit Glomerulonefritis. Ini hanya perkiraan karena data sangat sedikit.

Ada beberapa jenis penyakit GN, juga bermacam-macam sifat perjalanan penyakitnya. Ada yang langsung sembuh total, ada pula yang berlangsung kronis lama sekali atau juga perjalanan penyakitnya tidak terlalu lama sehingga kemudian ginjal menjadi rusak. Dalam perjalanan penyakit, pasien bisa merasa tidak apa-apa, namun kalau diperiksa urin nya dapat ditemukan kelainan misalnya proteinuria atau hematuria (terdapat sel darah merah yang lebih dari normal).

Walaupun tidak memberi gejala, penyakit ini berproses terus dan pada tahap di mana fungsi ginjal sudah rendah baru muncul keluhan-keluhan. Jadi memang pada contoh seperti ini pasien perlu melakukan kontrol rutin.

Perlu dipahami, apa pun jenis penyakit ginjal, pada tahap akhir dari semua penyakit tersebut ginjal akan menciut atau mengkerut (kecuali pada penyakit ginjal polikistik). Akibatnya, fungsi ginjal merosot drastis (Gagal Ginjal Tahap Akhir).
Apa yang terjadi bila fungsi ginjal rendah? Untuk menjawab ini perlu diketahui beberapa fungsi ginjal, yakni membuang ”sampah” atau produk-produk hasil metabolisme tubuh, membuang kelebihan cairan juga mineral.

Selain itu ginjal juga membuat hormon yang bertugas ikut memelihara darah merah dan kesehatan tulang, hormon ini berkurang pada ginjal yang rusak. Bila fungsi ginjal sudah sangat rendah, misalnya tinggal 5 persen, maka akibatnya sampah menumpuk, cairan menumpuk, mineral-mineral menumpuk, kondisi darah menjadi asam (asidosis), pasien mengeluh sesak napas, lemas, mual, darah juga berkurang (anemia). Sampah-sampah tentu saja terbentuk secara kontinu setiap waktu sehingga penumpukan ini membahayakan pasien. Untuk mengatasi ini maka diperlukan proses pembersihan darah misalnya Hemodialisis. Ada juga cara lain, Peritoneal Dialisis, cuci darah melalui ruang perut, misalnya CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis).

Bila ginjal menciut, fungsi ginjal yang rendah tidak mungkin ditingkatkan lagi, karena jaringan ginjal sudah berubah menjadi jaringan ikat (fibrosisi), maka tidak heran sampah-sampah dan bahan-bahan lain makin menumpuk. Dengan kondisi ini memang pasien memerlukan cuci darah yang terus-menerus.

Keponakan Anda agaknya akan menjalani cuci darah yang kontinu, oleh sebab itu kami sarankan agar mulai dirundingkan dengan seluruh keluarga untuk tindakan pencangkokan ginjal. Cangkok ginjal memerlukan dukungan dari seluruh keluarga. Mintalah kepada dokter untuk menjelaskan prosedur ini secara rinci kepada seluruh keluarga. Salah satu tujuannya adalah untuk mulai memilih donor ginjal dari keluarga.
Kalau sudah ada sukarelawan, maka dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium, USG, rontgen, dan sebagainya. Selama ini di kalangan masyarakat ada yang merasa takut mendonor ginjalnya. Padahal hal ini tidak perlu ditakuti karena donor yang cocok telah dikaji dari semua aspek, termasuk keamanan tubuh serta mental donor. Kalau tidak cocok, walaupun si donor berkeras mau menyumbang ginjalnya, tim medis pasti akan menolaknya.

Menghindari Cuci Darah
Pertanyaan bagaimana cara menghindari cuci darah adalah pertanyaan yang biasanya terlambat diajukan. Pertanyaan ini harus diajukan ketika seseorang pertama kali ditemukan berpenyakit ginjal yang mungkin menjadi kronis, kondisi ginjal masih baik. Atau ditemukan penyakit di luar ginjal seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit-penyakit yang sangat berpotensi merusak ginjal dalam perjalanan penyakitnya di masa mendatang.

Kontrol pemeriksaan dan pengobatan yang rutin dan sistematis dari dokter selama penyakit ginjalnya masih ada, pada dasarnya bertujuan untuk menghindari cuci darah. Masih sering dijumpai pasien tidak melakukan kontrol rutin karena tidak merasa ada keluhan atau gejala, padahal kelainan-kelainan dalam ginjalnya masih terus berproses.

Secara rutin, cuci darah dilakukan 2 – 3 kali seminggu, setiap kali antara 4 – 5 jam atau lebih. Jadwal yang disusun biasanya: Senin – Rabu – Jumat atau Selasa – Kamis – Sabtu, dengan frekuensi dua kali: Senin – Kamis, Selasa – Jumat atau Rabu – Sabtu.
Mengapa jadwal ini dilakukan? Setelah dicuci pada hari Senin misalnya, kadar sampah dan bahan lain akan turun. Namun karena sampah dan bahan-bahan lain terus diproduksi dalam waktu berjalan, maka kadarnya akan meningkat lagi. Kemudian dicuci lagi pada hari Kamis misalnya, bahan-bahan ini akan menurun kembali, demikian seterusnya.

Efektif atau tidaknya cuci darah ini diukur dengan pemeriksaan darah dan dihitung berdasarkan rumus URR (urea reduction ratio) dan KT/V. Target angka adalah sebagai berikut: bila hemodialisis dilakukan 3 kali seminggu maka target URR adalah 65 persen dan KT/V adalah 1,2. Bila 2 kali seminggu KT/V adalah 1,8. Bila cukup efektif maka dikatakan hemodialisis-nya adekuat.

Selain hemodialisis, pasien masih perlu ditambah obat-obat yang mengatur jumlah darah agar tidak berkurang, obat-obat yang menjaga kesehatan tulang, obat-obat tekanan darah tinggi, dan sebagainya. Diet perlu dijaga untuk protein yang bermutu, menghindari zat-zat fosfor dalam makanan, menghindari garam yang tinggi, menjaga jumlah cairan yang masuk.
Karena keterbatasan ruang maka penjelasan lebih rinci tentang Hemodialisis akan saya sampaikan dua minggu lagi. Semoga pertanyaan ibu sudah dapat terjawab semuanya.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro
Konsultan Ginjal-Hipertensi
RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

February 4, 2008

Nyeri Tulang pada Penyakit Ginjal Kronik

Tanya:

Ayah saya berumur 54 tahun, sejak th 90-an menderita penyakit ginjal namun beliau berobat tidak teratur. Kemudian akhirnya pada th 1998 fungsi ginjal sudah sangat rendah, disebut oleh Dokter: Gagal Ginjal Terminal, sehingga terpaksa menjalani pengobatan hemodialisis. Saat ini ayah menjalani hemodialisis dua kali seminggu dengan jadwal Rabu dan Sabtu, tapi kadang-kadang beliau mengundurkan jadwal menjadi lima hari sekali atau bahkan seminggu sekali. Obat-obat yang diminumnya a.l. Folic Acid, Calcium Carbonat, dan beberapa vitamin, selain itu juga suntikan Eprex 2 kali seminggu, kadang-kadang diperpanjang seminggu sekali atau sebulan dua kali bila kadar darahnya (Hb) sudah cukup baik.

Akhir-akhir ini kurang lebih sejak tiga bulan lalu, ayah merasa nyeri di pangkal paha kanan. Beliau telah berobat ke dokter, dari berbagai pemeriksaan laboratorium, rontgen, maka dokter menyimpulkan ayah terkena kelainan tulang karena penyakit ginjal kronik.
Pertanyaan saya, apakah penyakit ini cukup serius, apa sebenarnya penyebab penyakit ini dan bagaimana pengobatannya?

Joko A,

Cawang, Jakarta Timur

 

Jawab:

Dari keterangan Anda, maka diperkirakan penyakit tulang yang diderita ayah Anda disebut Renal Osteodystrophy. Penyakit ini terjadi pada pasien-pasien Gagal Ginjal Terminal yang dapat terus berkiprah karena menjalani pengobatan pengganti ginjal misalnya hemodialisis atau CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), sehingga proses-proses patologis yang mengganggu tulang dapat berlangsung. Jenis penyakit tulang tersebut antara lain Osteomalacia, Osteitis Fibrosa Cystica. Penyakit tulang ini terjadi pada sebagian pasien yang menjalani dialisis kira-kira sebesar 10 %. Selain terjadi gangguan tulang, dapat juga terjadi gangguan di luar tulang (extra-skeletal). Penyakit tulang ini memang dapat memberikan rasa nyeri, dapat juga menyebabkan patah tulang (fraktur).

Bagaimana dapat timbul penyakit tulang ini pada pasien penyakit ginjal? Sebenarnya mekanismenya cukup rumit dan panjang, terdapat berbagai rangkaian proses rumit yang menyebabkan penyakit ini. Saya mencoba menyederhanakan penjelasannya agar mudah dimengerti. Pada pasien Gagal Ginjal Terminal, fungsi ginjal sangat rendah sehingga tidak mampu membuang ”sampah” dari tubuh, termasuk suatu bahan yang disebut Fosfor. Akibatnya kadar fosfor meningkat dalam darah, disebut hiperfosfatemia. Akibat hiperfosfatemia maka bahan lain yaitu Kalsium kadarnya harus diturunkan, yaitu dengan membuang keluar dari darah ke dalam jaringan bukan tulang (metastatic / ectopic calcification), misalnya ke jaringan lunak sekitar sendi, ke dinding pembuluh darah, ke organ jantung, paru, ginjal, juga ke kulit dan jaringan di bawah kulit, bisa juga ke mata.

Karena kalsium darah rendah, maka ada proses ikutan lain yang terjadi, yaitu peningkatan kerja Kelenjar Paratiroid sehingga produksi hormon paratiroid meningkat, hormon ini berperan pada perkembangan tulang. Peningkatan hormon paratiroid ini sebenarnya dimaksudkan untuk meningkatkan kadar kalsium dalam darah. Setelah kadar kalsium dalam darah meningkat, terjadi lagi hal yang tadi dijelaskan, yaitu kalsium dibuang keluar dari darah. Hal ini berlangsung terus-menerus sehingga lama-kelamaan massa tulang berubah sehingga timbullah penyakit pada tulang. Kelainan ikutan yang lain adalah terganggunya produksi metabolit vit. D.

Jadi gangguan pada pasien bisa berupa gangguan pada tulang: Renal Osteodystrophy, tetapi juga bisa di luar tulang: pengapuran pada paru, pengapuran pada dinding pembuluh darah sehingga organ dapat terganggu misalnya jantung = gagal jantung, infark, pada otak = stroke dsb. Dapat juga terjadi pengapuran pada mata. Keadaan lain yang cukup mengganggu adalah timbulnya gatal (pruritus).

Pengobatan yang diberikan pada dasarnya adalah sebagai berikut:

  • Hemodialisis harus dilakukan teratur dan adekuat, jangan mengulur jadwal
  • Monitor kadar kalsium, fosfor dan hormon paratiroid. Kadar kalsium bisa rendah, bisa tinggi, tetapi yang lebih berbahaya adalah kadar fosfor yan tinggi. Perkalian nilai kadar kalsium dan nilai fosfor, disebut sebagai Calcium Phosphor product (CPP) agar dijaga normal yaitu di bawah 50, makin tinggi CPP ini akan semakin tinggi potensi kelainan-kelainan terutama ekstra skeletal.
  • Perhatikan diet rendah fosfor: 800 – 1000 mg per hari, bahan yang tinggi fosfor a.l. Produk susu, kacang-kacangan, coklat, hati, ikan berlemak, coke.
  • Diberikan obat-obat sesuai dengan kondisi faktual: obat pengikat fosfor a.l. kalsium karbonat, juga diberikan vit D sterol: kalsitriol
  • Kadang-kadang diperlukan operasi kelenjar paratiroid.
  • Penyakit dapat menjadi serius bila proses-proses tsb di atas berkembang/berjalan terus. Sebaiknya pengelolaannya ditangani Dokter Spesialis Ginjal / Nefrolog.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro - Konsultan Ginjal-Hipertensi

RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

February 3, 2008

Banyak Obat pada Penyakit Ginjal Kronik

Tanya:

Dari jawaban Dokter pada ruang konsultasi yang lalu, saya telah mendapat gambaran yang cukup jelas tentang banyaknya pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan pada pasien penyakit ginjal, sehingga saya tidak perlu lagi mengajukan pertanyaan tentang hal tersebut.

Saya mempunyai kakak laki-laki berumur 49 tahun yang menderita Penyakit Ginjal, kata Dokter karena penyakit diabetesnya. Bulan lalu pada waktu kontrol didapat kadar gula darahnya cukup baik, puasa 115, 2 jam sesudah makan 145. Data-data lain : Hb 9,3 , kadar kreatinin 2,6 , ureum 86, kolesterol 225. Tekanan darahnya sekitar 140-145/90-95, berat badannya adalah 65 kg sedangkan tinggi badan 162.

Kakak saya mendapat berbagai obat-obatan yang dianggapnya terlalu banyak. Obat-obat yang diminumnya a.l. Diamicron, Glucophage, Diovan, Triatec, Calcium Carbonate, Folic Acid, Ketosteril, Lipitor, Suntikan Eprex ditambah vitamin.
Pertanyaan saya: apakah memang perlu obat begitu banyak, mengapa tidak cukup hanya dua- empat macam? Mohon penjelasan Dokter atas pertanyaan saya.

Ny. Bambang, Kelapa Gading

Jawab:

Pertanyaan Ny Bambang baik sekali dan memang perlu ditanyakan.
Dari data-data tersebut, penyakit yang diderita kakak Sdr adalah: Penyakit Ginjal Kronik (PGK/ Chronic Kidney Disease) karena kemungkinan besar Nefropati Diabetik, suatu kelainan ginjal akibat penyakit Diabetes yang biasanya sudah berlangsung agak lama. Ditandai oleh kebocoran protein yang terdeteksi pada urinnya serta penurunan fungsi ginjal. Kebocoran protein perlu dihambat/ditekan seminimal mungkin untuk melindungi ginjal dari kerusakan-kerusakan yang lebih jauh. Selain itu juga terdapat hipertensi, peninggian kadar kolesterol/dislipidemia, dan anemia karena ginjal (Renal Anemia).

PGK ini akan dapat berlanjut/progresif sehingga fungsi ginjal makin menurun. Saat ini fungsi ginjal kakak Sdr berkisar 30 - 35 %. Penurunan yang sebenarnya sudah cukup jauh, sehingga penanganannya perlu intensif untuk mencoba menahan penurunan fungsi ginjal yang lebih jauh, bahkan dimungkinkan peningkatan kembali fungsi ginjal. Secara singkat pengobatan yang dilakukan: perlu dikendalikan diabetesnya dengan baik, hipertensi agar dapat ditekan menjadi sekitar 125-130/80, kadar kolesterolnya harus lebih rendah termasuk kolesterol LDL dan trigliseridanya, sedangkan kolesterol HDL harus tinggi.

Sebenarnya obat-obat yang diminumnya sudah cukup sesuai. Untuk memberikan penjelasan secara tepat, sebaiknya obat-obat tersebut dikelompokkan sebagai berikut:
Untuk penyakit diabetesnya: selain diet, olah raga, penurunan berat badan, diberikan Diamicron dan Glucophage. Sayangnya tidak ada data HbA1C, angka ini sebaiknya sama dengan atau kurang dari 6,5 %
Untuk tekanan darahnya, sekaligus memperbaiki ginjal: Diovan dan Triatec, melihat tekanan darah belum mencapai target, mungkin sebaiknya dosis dinaikkan, sayangnya Sdr tidak memberikan dosis yang sedang diminumnya, demikian juga data kebocoran proteinnya tidak ada. Biasanya diperlukan dosis yang cukup tinggi (extraordinary dose), agar kebocoran protein dapat ditekan lebih efektif, selain juga menurunkan tekanan darah. Bila dosisnya sudah cukup tinggi, alternatif lain adalah menambah obat lain misalnya golongan Calcium Antagonis

Untuk kolesterolnya diberikan Lipitor, bila kadar trigliserida-nya sangat tinggi diberikan obat yang lain atau kombinasi
Untuk anemianya diberikan suntikan Eprex, Folic Acid, mungkin juga vitamin yang diminumnya mengandung besi untuk membantu peningkatan kadar Hb-nya.

Calcium carbonate: diperlukan untuk menurunkan kadar fosfor darah yang mungkin sudah meninggi, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu tulang belulang (Renal Osteo dystrophy)
Akhirnya Ketosteril: adalah tablet yang mengandung asam amino yang merupakan elemen-elemen pembentukan protein sehingga tubuh mendapat unsur-unsur protein yang bermutu tinggi, selain itu juga dapat membantu menahan progresivitas penyakit ginjal.
Demikian penjelasan kami, semoga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Sdr. Kami anjurkan agar Kakak Sdr melakukan kontrol yang teratur pada Dokternya agar pengobatan terhadap kumpulan penyakitnya tersebut dapat mencapai keberhasilan yang memuaskan.

Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro-Konsultan Ginjal-Hipertensi

RS Mediros

 

Sumber : Sinar Harapan

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment