Masalah :
SAYA ibu empat anak berusia 53 tahun. Sudah setahun ini saya berhenti haid (menopause) total. Sedangkan setahun sebelumnya kadang-kadang haid itu datang (tidak menentu).
Kegiatan seksual saya normal-normal saja, bahkan mungkin termasuk rajin. Karena itu, saya takut dibuka alat KB, takut hamil lagi walaupun secara medis tidak mungkin karena sudah berhenti haid. Ketakutan saya itu karena ada teman saya yang sudah setahun berhenti haid dan dibuka alat KB-nya ternyata hamil lagi.
Menurut Dokter, apakah saya harus membuka IUD atau diteruskan, sampai usia berapa tahun?
Terima kasih, Dokter Sofie yang terhormat.
Ny. Endang di Bandung Selatan
Jawaban :
Ibu Endang yang terhormat.
Ketakutan untuk hamil pada usia lebih dari 40 tahun memang sangat beralasan karena banyak risiko medis yang dapat terjadi baik pada ibu maupun pada bayinya. Beberapa risiko yang dapat terjadi pada kehamilan usia di atas 40 tahun, secara teoretis dapat ditanggulangi (misalnya hipertensi, diabetes, kelainan letak, perdarahan), namun risiko untuk mendapat anak yang cacat meningkat sekitar 4 kali lipat pada usia 40 tahun dan sampai saat ini belum dapat dilakukan intervensi.
Yang harus para ibu ketahui, di atas usia 40 tahun, seorang ibu meskipun kesuburannya mulai menurun namun masih tetap dapat hamil dan masih membutuhkan kontrasepsi (alat KB). Kehamilan di atas usia 50 tahun sangat jarang, data dari USA menunjukkan pernah ada wanita yang hamil sampai 9 bulan pada usia 56 tahun, sedangkan wanita tertua yang pernah hamil di UK ialah pada usia 54 tahun.
Ber-KB telah Ibu lakukan dengan baik, tapi masalahnya saat ini adalah kapan seorang wanita boleh menghentikan KB-nya?
Pada umumnya, seorang yang telah mengalami menopause (tidak haid berturut-turut selama minimal 1 tahun) tidak dapat hamil lagi, sehingga dapat menghentikan KB–nya apabila ia memakai KB IUD atau KB lain yang bukan hormonal (kondom/ istibra berkala / sanggama terputus). Usia menopause wanita Indonesia sekitar 46,9 tahun, sedangkan pada umumnya sekitar 99 % wanita telah menopause pada usia 55 tahun.
Apabila Ibu memakai KB hormonal (pil, suntik, susuk) dan tidak haid selama 1 tahun, meskipun usia Ibu di atas 40 tahun, belum tentu menunjukkan keadaan menopause. Untuk mengetahui apakah pemakai KB hormonal benar-benar menopause harus diperiksa kadar hormon FSH yang dapat dikonsultasikan pada dokter Ibu. Anjuran umum, bila wanita di atas 50 tahun memakai KB hormonal dan telah berhenti haid selama 1 tahun, dianjurkan tetap memakai KB-nya sampai 1 tahun setelah menopause.
Untuk wanita usia di bawah 50 tahun yang memakai kontrasepsi hormonal dan tidak mendapat haid atau haid-nya tidak teratur, dianjurkan untuk memakai dulu KB nonhormonal, dan baru boleh menghentikan KB-nya 1 tahun setelah menopause.
Kembali pada masalah Ibu, karena Ibu memakai IUD (bukan hormonal) dan telah menopause, Ibu dapat mencabut IUD-nya. Segera hubungi dokter Ibu untuk mengangkat IUD atau penjelasan lebih lanjut bila Ibu memerlukannya.
Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.
Sumber : Pikiran Rakyat Online
ASI Berdarah?
Dokter Sofie yang terhormat.
Saya (29) baru melahirkan tiga bulan yang lalu dan sedang memberi ASI kepada bayi saya.
Sebelumnya tidak ada masalah dengan pemberian ASI, namun beberapa hari yang lalu saya mengalami kejadian yang tidak biasanya. Beberapa kali ada darah menetes saat pertama-tama menyusui. Ketika baru-baru ini saya menyedot ASI saya ternyata yang keluar darah dengan jumlah yang cukup banyak, sampai 20 cc.
Saya sudah ke dokter umum, tetapi katanya beliau tidak bisa memberikan diagnosis yang akurat. Dokter menyarankan agar saya berkonsultasi dengan dokter ahli laktasi. Sekarang ini saya merasa sakit dari daerah dada menuju ke puting. Kenapa ya, Dok? Apakah kalau kejadiannya seperti itu, saya masih boleh menyusui?
Terima kasih sebelumnya.
Ibu Dadan di Bandung
Jawaban :
Ibu Dadan yang terhormat.
Syukur alhamdulillah Ibu telah memilih yang terbaik untuk bayi Ibu, yakni menyusui (memberi ASI), dan tetap berkeinginan menyusuinya meskipun mempunyai masalah menyusui.
Air susu berdarah memang hal yang jarang terjadi. Biasanya terjadi pada ibu yang menyusui pertama kalinya terutama minggu pertama, namun dapat juga pada ibu yang sudah menyusui bayi sebelumnya (bukan anak pertama).
Kolostrum berwarna merah jambu (pink) atau coklat kotor seperti darah tua adalah hal yang lebih sering terjadi dari hal yang dikemukakan oleh ibu (berdarah segar sekitar 20cc), demikian juga pada penyusuan berikutnya dapat terjadi air susu ibu berwarna seperti besi karat, karena itu disebut rusty pipe syndrome. Hal ini dapat disebabkan oleh perdarahan di bawah gelanggang susu, misalnya pada puting tenggelam (retracted nipple), puting lecet, atau yang lebih jarang lagi adalah dari pecahnya papiloma (pertumbuhan jinak pada puting susu).
Darah yang segar dan agak banyak harus dicurigai berasal dari intraductal papilloma yakni sejenis pertumbuhan jinak seperti kutil pada puting susu. Biasanya tidak teraba sebagai benjolan dan seringnya tidak menimbulkan nyeri. Perdarahan dapat terjadi karena gesekan baik oleh bra (BH) atau akibat menyusui. Seringnya, perdarahan ini berhenti sendiri dan tidak berbahaya untuk terus menyusui. Namun apabila perdarahan berulang, sebaiknya Ibu menemui dokter spesialis untuk meyakinkan apakah itu benar intraductal papilloma atau hal yang lebih serius.
Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.
Sumber : Pikiran Rakyat Online
Tags: Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Menopause, Pikiran Rakyat Onlline