Amazon.com Widgets

December 11, 2007

Hamil di Luar Kandungan

Masalah :

Dokter, saya ibu berputra satu usia 4,5 tahun. Beberapa bulan setelah melahirkan, saya ikut KB spiral dengan keluhan yang tidak terlalu mengganggu. Kadang-kadang keputihan.

Tepat dua bulan lalu, tidak seperti biasanya, saya telat menstruasi. Saya kaget karena didiagnosis hamil di luar kandungan dengan posisi spiral masih baik. Terus saya menyetujui untuk dioperasi dengan laparoskopi. Semuanya berjalan baik. Hanya, masih banyak hal yang sering menggelayut di pikiran saya.

Mohon dijawab ya dokter kegalauan-kegalauan saya.

1. Mengapa saya mengalami hamil di luar kandungan?
2. Apakah ada kaitannya dengan spiral saya?
3. Apakah keuntungan operasi laparoskopi dengan jenis operasi lain?
4. Kapan saya boleh hamil lagi?
5. Sebaiknya kami memilih jenis kontrasepsi yang mana?

Sebelumnya terima kasih atas penjelasan dokter.

Diani, Surabaya

Jawaban :

Kehamilan yang tidak berada di rongga rahim disebut kehamilan ektopik (KE). Lokasi paling sering KE adalah saluran telur (tuba falopii), baik di bagian tengah (istmika), di ujung saluran telur (ampularis) maupun dekat rahim (cornu). Walau jarang, bisa juga implantasinya terjadi di indung telur.

Terjadinya KE diduga karena ada penyempitan di saluran telur yang umumnya disebabkan infeksi. Setelah proses infeksi sembuh dan terjadi penyempitan saluran telur tersebut, hal itu bisa dilewati spermatozoon. Namun, saat terjadi pertemuan antara oozit dengan spermatozoon dan berkembang menjadi embrio, embrio tersebut gagal melewati saluran telur untuk kembali ke rongga rahim. Akhirnya, tumbuh di saluran telur tersebut. Apakah hal itu terkait dengan spiral, tidak ada bukti yang mengaitkan antara penggunaan spiral dan kehamilan ektopik secara langsung. Jika terjadi infeksi, memang spiral bisa berperan menjadi jembatan naiknya kuman-kuman dari bawah.

Pada kasus implantasinya di saluran telur, keterlambatan 2-4 minggu dari saat akan terjadinya menstruasi, umumnya saluran telur akan pecah. Selanjutnya, akan terjadi pendarahan di dalam rongga perut. Jika terlambat mendeteksi, akan terjadi kegawatdaruratan dan harus dioperasi secepatnya untuk menghentikan pendarahan.

Pada kasus Ibu Diani, mungkin pendeteksiannya cukup baik dan saluran telur belum pecah atau saluran telur sudah pecah namun tidak mengenai pembuluh darah besar. Hal itu dapat ditutup dengan bekuan darah dan operasinya bisa dilakukan keesokan hari.

Operasi dalam keadaan darurat harus dilakukan secepatnya. Umumnya dilakukan dengan laparotomi, yakni membuat robekan pada dinding perut bagian bawah, lebih kurang 5 cm. Selanjutnya, dicari sumber pendarahan dan dilakukan ligasi (pengikatan).

Jika kasusnya bukan termasuk kategori kegawatdaruratan, operasi laparoskopi bisa dijadikan pilihan. Keuntungannya, antara lain, risiko perlekatan lebih kecil, kosmetika lebih baik, penggunaan antibiotik lebih sedikit, waktu rawat tinggal di rumah sakit juga lebih singkat. Namun, yang memberatkan adalah sewa alat lebih mahal dan tidak semua rumah sakit memiliki peralatan laparoskopi.

Sekitar 2-3 bulan setelah operasi laparoskopi, Ibu Diani bisa hamil lagi. Sebaiknya Ibu tidak menggunakan alat kontrasepsi, tapi hamil dulu. Setelah itu, sebaiknya Ibu menggunakan alat kontrasepsi hormonal. Misalnya, pil atau suntik KB.

Dr. Budi Santoso SpOg

Sumber : Cendrawasih Pos dotcom

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

December 10, 2007

Mengidap Hiperthyroid, Hamil Muda

Masalah :

Dokter Budi Santoso, saya mau bertanya tentang hubungan penyakit yang saya derita dengan kehamilan saya. Saya menikah Agustus tahun lalu. Saat ini saya mengandung satu setengah bulan.

Sejak usia 22 tahun (saat ini usia saya 26 tahun), saya divonis menderita kelebihan hormon tiroid (hiperthyroid) karena saat itu saya sering berdebar-debar dan kadang-kadang diare. Kemudian dokter memberi obat PTU yang harus saya konsumsi terus-menerus hingga saat ini. Pemeriksaan T4 dan TSHs dalam batas normal. Hanya, setelah hamil, saya jadi waswas berkaitan dengan penyakit dan obat yang saya konsumsi.

Apakah PTU aman untuk janin saya, dokter? Apakah tidak menimbulkan kecacatan? Bagaimana rencana persalinan bayi saya? Mohon segera dijawab ya, Dok?

Alfa NJ, Surabaya

 

Jawaban :

Ibu Alfa, selayaknya Ibu Alfa dan keluarga mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan yang Mahakuasa. Sebab, penyakit hiperthyroid yang Ibu derita bisa segera diketahui dan telah mendapat pengobatan yang benar. Apalagi Ibu Alfa patuh mengonsumsi obat-obatan, terbukti hasil evaluasi rutin dari kadar T4 dan TSHs dalam batas normal (dalam keadaan hiperthyroid T4 tinggi dan TSHs-nya rendah). Dengan pengobatan yang baik itu pula, kesuburan Ibu Alfa tetap terjaga. Sebab, jika kadar hormon tiroid tidak terkontrol (T4 tinggi), proses ovulasi akan terganggu. Itu menyebabkan kondisi tidak subur dan susah hamil.

Dalam keadaan normal, kehamilan pun akan meningkatkan aktivitas kelenjar tiroid sehingga kebutuhan iodium (bahan dasar hormon tiroid) meningkat. Sebab, hormon tiroid diperlukan untuk pertumbuhan janin. Keadaan sebaliknya pada wanita hamil yang menderita hipothyroid, yaitu hormon tiroid rendah (T3 maupun T4-nya rendah) dan tidak mendapatkan penanganan yang baik selama kehamilannya, pertumbuhan janin akan terganggu. Dengan begitu, anak yang lahir nanti mengalami gangguan pertumbuhan, yaitu kerdil (cebol). Pengobatan pada kasus-kasus hiperthyroid dengan kehamilan, obat-obatan antithyroid ditujukan untuk mencapai T4 sedikit di atas normal, jangan sampai berlebihan hingga keadaan hipothyroid.

Kehamilan dengan hiperthyroid meningkatkan risiko komplikasi. Seperti, Pre-eclampsia, gagal jantung pada janin, pertumbuhan janin terhambat, dan kematian janin di dalam kandungan. Jika penanganannya baik dan benar, risiko komplikasi bisa ditekan, bahkan tidak terjadi sama sekali
PTU (propyltiourasil) salah satu pilihan untuk pengobatan hiperthyroid, selain golongan methimazole. PTU mencegah perubahan dari T4-T3. T3 merupakan bentuk aktif dari hormon tiroid.

Penggunaan PTU lebih disarankan untuk wanita hamil dan menyusui dibandingkan dengan golongan methimazole. Penggunaan PTU selama kehamilan perlu disesuaikan dosisnya. Karena itu, disarankan selama kehamilan, evaluasi terhadap T4, T3, dan TSHs dilakukan lebih sering, sekitar 2 minggu sekali. Penggunaan PTU cukup aman dan tidak menimbulkan cacat bawaan.

Jika tidak ada indikasi kebidanan untuk melakukan operasi caesar, sebaiknya persalinan dilakukan secara normal (pervaginam).
Demikian Ibu Alfa, semoga bermanfaat, jangan takut. Silakan Ibu kontrol secara rutin ke dokter spesialis kandungan dan dokter penyakit dalam terdekat agar kehamilannya dapat berjalan lancar dan selamat. Salam.

Dr Budi Santoso SpOg

Sumber : Cendrawasih Pos dotcom

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment