February 17, 2008
Bisakah Cuci Darah Dihindari?(1)
Tanya:
Bulan lalu, keponakan laki-laki saya, umur 20 tahun, merasa lemas dan suatu hari sesak napas. Ia segera dibawa ke rumah sakit di Jakarta Selatan dan ternyata menderita penyakit ginjal yang sudah parah. Kata dokter, kadar ureumnya sudah 385 dan kadar kreatinin 18. Ia harus segera menjalani cuci darah dengan mesin. Dokter menyebutnya Hemodialisis.
Kami sekeluarga sangat terkejut, sama sekali tidak menyangka ia harus menjalani cuci darah. Cuci darah dilakukan 3 kali seminggu, kondisinya berangsur baik. Dan dari hasil pemeriksaan USG, kedua ginjalnya sudah mengecil.
Anak ini pernah menderita penyakit ginjal pada umur 10 tahun, dengan kaki bengkak sedikit. Ketika diperiksa terdapat kelainan pada urin, tapi dikatakan dokter fungsi ginjal masih baik. Setelah satu bulan berobat penyakitnya dinyatakan sembuh.
Namun 10 tahun kemudian, penyakit ginjal tersebut tiba-tiba muncul dalam kondisi sudah sangat parah. Kami akui bahwa kami tidak pernah membawanya kembali ke dokter setelah dinyatakan sehat 10 tahun lalu.
Pertanyaan saya, apakah keponakan saya memang harus menjalani kontrol dokter secara rutin? Apakah cuci darah harus dilakukan seterusnya ataukah ada cara menghindari cuci darah?
Ny. S. Winata, Bogor
Jawab:
Ny. S. Winata yth, pertama-tama perlu diketahui terdapat bermacam-macam jenis penyakit ginjal, ada penyakit yang lokal di ginjal seperti misalnya Glomerulonefritis (GN) dan ada penyakit yang di luar ginjal tetapi pada akhirnya merusak ginjal misalnya penyakit diabetes, darah tinggi, kolesterol tinggi, dan sebagainya.
Saya perkirakan penyakit keponakan Anda adalah penyakit lokal pada ginjal, mungkin masuk dalam kelompok penyakit Glomerulonefritis. Ini hanya perkiraan karena data sangat sedikit.
Ada beberapa jenis penyakit GN, juga bermacam-macam sifat perjalanan penyakitnya. Ada yang langsung sembuh total, ada pula yang berlangsung kronis lama sekali atau juga perjalanan penyakitnya tidak terlalu lama sehingga kemudian ginjal menjadi rusak. Dalam perjalanan penyakit, pasien bisa merasa tidak apa-apa, namun kalau diperiksa urin nya dapat ditemukan kelainan misalnya proteinuria atau hematuria (terdapat sel darah merah yang lebih dari normal).
Walaupun tidak memberi gejala, penyakit ini berproses terus dan pada tahap di mana fungsi ginjal sudah rendah baru muncul keluhan-keluhan. Jadi memang pada contoh seperti ini pasien perlu melakukan kontrol rutin.
Perlu dipahami, apa pun jenis penyakit ginjal, pada tahap akhir dari semua penyakit tersebut ginjal akan menciut atau mengkerut (kecuali pada penyakit ginjal polikistik). Akibatnya, fungsi ginjal merosot drastis (Gagal Ginjal Tahap Akhir).
Apa yang terjadi bila fungsi ginjal rendah? Untuk menjawab ini perlu diketahui beberapa fungsi ginjal, yakni membuang ”sampah” atau produk-produk hasil metabolisme tubuh, membuang kelebihan cairan juga mineral.
Selain itu ginjal juga membuat hormon yang bertugas ikut memelihara darah merah dan kesehatan tulang, hormon ini berkurang pada ginjal yang rusak. Bila fungsi ginjal sudah sangat rendah, misalnya tinggal 5 persen, maka akibatnya sampah menumpuk, cairan menumpuk, mineral-mineral menumpuk, kondisi darah menjadi asam (asidosis), pasien mengeluh sesak napas, lemas, mual, darah juga berkurang (anemia). Sampah-sampah tentu saja terbentuk secara kontinu setiap waktu sehingga penumpukan ini membahayakan pasien. Untuk mengatasi ini maka diperlukan proses pembersihan darah misalnya Hemodialisis. Ada juga cara lain, Peritoneal Dialisis, cuci darah melalui ruang perut, misalnya CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis).
Bila ginjal menciut, fungsi ginjal yang rendah tidak mungkin ditingkatkan lagi, karena jaringan ginjal sudah berubah menjadi jaringan ikat (fibrosisi), maka tidak heran sampah-sampah dan bahan-bahan lain makin menumpuk. Dengan kondisi ini memang pasien memerlukan cuci darah yang terus-menerus.
Keponakan Anda agaknya akan menjalani cuci darah yang kontinu, oleh sebab itu kami sarankan agar mulai dirundingkan dengan seluruh keluarga untuk tindakan pencangkokan ginjal. Cangkok ginjal memerlukan dukungan dari seluruh keluarga. Mintalah kepada dokter untuk menjelaskan prosedur ini secara rinci kepada seluruh keluarga. Salah satu tujuannya adalah untuk mulai memilih donor ginjal dari keluarga.
Kalau sudah ada sukarelawan, maka dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium, USG, rontgen, dan sebagainya. Selama ini di kalangan masyarakat ada yang merasa takut mendonor ginjalnya. Padahal hal ini tidak perlu ditakuti karena donor yang cocok telah dikaji dari semua aspek, termasuk keamanan tubuh serta mental donor. Kalau tidak cocok, walaupun si donor berkeras mau menyumbang ginjalnya, tim medis pasti akan menolaknya.
Menghindari Cuci Darah
Pertanyaan bagaimana cara menghindari cuci darah adalah pertanyaan yang biasanya terlambat diajukan. Pertanyaan ini harus diajukan ketika seseorang pertama kali ditemukan berpenyakit ginjal yang mungkin menjadi kronis, kondisi ginjal masih baik. Atau ditemukan penyakit di luar ginjal seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit-penyakit yang sangat berpotensi merusak ginjal dalam perjalanan penyakitnya di masa mendatang.
Kontrol pemeriksaan dan pengobatan yang rutin dan sistematis dari dokter selama penyakit ginjalnya masih ada, pada dasarnya bertujuan untuk menghindari cuci darah. Masih sering dijumpai pasien tidak melakukan kontrol rutin karena tidak merasa ada keluhan atau gejala, padahal kelainan-kelainan dalam ginjalnya masih terus berproses.
Secara rutin, cuci darah dilakukan 2 – 3 kali seminggu, setiap kali antara 4 – 5 jam atau lebih. Jadwal yang disusun biasanya: Senin – Rabu – Jumat atau Selasa – Kamis – Sabtu, dengan frekuensi dua kali: Senin – Kamis, Selasa – Jumat atau Rabu – Sabtu.
Mengapa jadwal ini dilakukan? Setelah dicuci pada hari Senin misalnya, kadar sampah dan bahan lain akan turun. Namun karena sampah dan bahan-bahan lain terus diproduksi dalam waktu berjalan, maka kadarnya akan meningkat lagi. Kemudian dicuci lagi pada hari Kamis misalnya, bahan-bahan ini akan menurun kembali, demikian seterusnya.
Efektif atau tidaknya cuci darah ini diukur dengan pemeriksaan darah dan dihitung berdasarkan rumus URR (urea reduction ratio) dan KT/V. Target angka adalah sebagai berikut: bila hemodialisis dilakukan 3 kali seminggu maka target URR adalah 65 persen dan KT/V adalah 1,2. Bila 2 kali seminggu KT/V adalah 1,8. Bila cukup efektif maka dikatakan hemodialisis-nya adekuat.
Selain hemodialisis, pasien masih perlu ditambah obat-obat yang mengatur jumlah darah agar tidak berkurang, obat-obat yang menjaga kesehatan tulang, obat-obat tekanan darah tinggi, dan sebagainya. Diet perlu dijaga untuk protein yang bermutu, menghindari zat-zat fosfor dalam makanan, menghindari garam yang tinggi, menjaga jumlah cairan yang masuk.
Karena keterbatasan ruang maka penjelasan lebih rinci tentang Hemodialisis akan saya sampaikan dua minggu lagi. Semoga pertanyaan ibu sudah dapat terjawab semuanya.
Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro
Konsultan Ginjal-Hipertensi
RS Mediros
Sumber : Sinar Harapan
Tags: Cuci Darah (1), Dr. Nico A. Lumenta K.Nefro, Sinar Harapan






