Amazon.com Widgets

April 27, 2008

Ujian Nasional dan Ujian Moral

Oleh Sri Lestari

Ujian Nasional (UN) dilangsungkan secara serentak mulai Selasa (22/4) lalu. Melalui pemantauan yang dilakukan dalam pelaksanaan UN tersebut ditemukan adanya pelanggaran di sana-sini.

Pelanggaran terjadi baik pada tingkat siswa, guru, maupun kepala sekolah, seperti termuat pada harian  Republika  edisi Rabu (23/4). Membaca berita tersebut, penulis merasa tersentuh dengan ungkapan Mendiknas bahwa kejujuran dan integritas moral lebih penting.

Jika hanya mengandalkan nilai UN tinggi, kita menjadi bangsa yang tidak jujur. Menurut hemat penulis, ungkapan tersebut patut direnungkan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam proses pendidikan bagi generasi masa depan.

Selama ini muatan pendidikan di sekolah sangat mementingkan muatan informasi. Proses belajar yang terjadi di sekolah sering kali menjadi tereduksi sebagai upaya pemindahan pengetahuan semata dari guru ke siswa.

Tolok ukur yang digunakan untuk menilai keberhasilan proses pendidikan pun lebih didominasi oleh besaran angka-angka dan peringkat siswa di sekolah. Tolok ukur itu di satu sisi dapat membuat  siswa termotivasi berprestasi lebih baik dengan belajar lebih giat. Akan tetapi, dapat pula menjerumuskan siswa untuk menempuh jalan-jalan yang instan asal hasilnya baik, seperti mencari bocoran dan menyontek.

Seperti halnya yang terjadi dalam UN yang dilakukan setiap tahun. Kebocoran soal, jual-beli jawaban, pemanfaatan HP untuk mengirim jawaban soal UN, dan pelanggaran-pelanggaran lainnya masih saja terjadi. Sementara itu, dari sisi siswa, UN dipandang sebagai ujian yang sangat berat dan menentukan masa depan mereka.

Jadi, tak mengherankan bila menjelang UN banyak acara doa bersama yang digelar di sana sini. Dengan doa bersama tersebut, mereka berharap dapat lolos dari medan pertempuran UN dengan baik. Tapi, benarkah UN hanya menjadi ujian bagi siswa yang menghadapi soal-soal ujian nasional?

Ujian bagi orang tua
Semua orang tua yang anaknya mengikuti UN tentunya berharap agar anaknya dapat lulus. Harapan tersebut sangat wajar dan tidak salah. Maka berbagai upaya ditempuh oleh para orang tua agar anaknya dapat lulus UN.

Ada orang tua yang mengikutkan anaknya dalam les privat. Ada yang memasukkan anaknya ke lembaga bimbingan belajar. Berapa pun biaya yang harus dikeluarkan untuk tambahan-tambahan belajar tersebut, orang tua akan berusaha memenuhinya.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara orang tua menyampaikan harapannya pada anak? Apabila orang tua menyampaikan dalam bentuk tuntutan 'kamu harus lulus', dan disertai pula dengan tekanan, maka tidak mengherankan tindak kecurangan terus terjadi.

Penyampaian harapan dan tuntutan saja pada anak tidaklah cukup. Dalam menyampaikan harapan, selayaknya orang tua juga menyampaikan nilai. Nilai inilah yang menjadi pedoman dan standar anak dalam berperilaku ketika menempuh ujian nasional.

Misalnya, orang tua berpesan pada anak untuk bersikap jujur dalam mengerjakan ujian, mandiri, atau tidak bertanya pada teman ketika sedang mengerjakan. Yang paling penting lagi adalah kesediaan orang tua untuk menerima hasil apa pun yang diperoleh anak setelah anak bertindak jujur sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan.

UN juga menjadi ujian bagi guru. Melalui hasil UN para siswanya, guru dapat mengevaluasi proses pembelajaran telah mencapai tujuan atau tidak. Apabila guru telah melaksanakan tugasnya seoptimal mungkin, maka standar UN yang dipatok tinggi tidak perlu dirisaukan. Kalau para siswanya belum banyak yang dapat mencapai standar nilai UN, maka PR gurulah untuk menemukan metode pembelajaran yang lebih tepat dan menyenangkan.

Tetapi, kenyataan di lapangan berbicara lain. Ketika standar kelulusan dalam UN ditingkatkan, muncul reaksi-reaksi kurang setuju karena dianggap memberatkan siswa. Ketika UN berlangsung, masih ada guru, bahkan kepala sekolah yang belum mematuhi aturan yang telah ditetapkan dalam prosedur UN.

Hal ini menunjukkan bahwa kesediaan guru untuk menaati aturan yang berlaku dan kesiapan untuk menerima konsekuensi negatif, yakni banyak siswa yang tidak lulus UN, masih kurang memadai.

Padahal, dalam ilmu psikologi, ketaatan seseorang terhadap aturan yang berlaku termasuk dalam unsur untuk menilai integritas seseorang. Jadi, bila masih terjadi pelanggaran di tingkat guru, kita dapat membayangkan bagaimana integritas guru tersebut.

UN yang telah menjadi tradisi tahunan dalam dunia pendidikan kita, sebaiknya dijadikan sebagai ajang untuk menguji integritas moral kita. Sejauh mana kejujuran dijunjung tinggi selama proses berlangsung dapat menjadi miniatur integritas moral, baik integritas moral siswa, guru, maupun orang tua.

Integritas moral siswa dapat tecermin melalui perilaku jujur dalam mengerjakan soal-soal UN dan tidak berupaya mencari-cari celah untuk mendapatkan bocoran soal maupun jawaban. Bila integritas pada siswa telah ada, tentunya para pengawas ujian tidak akan kerepotan mengawasi dan menegur siswa yang melakukan pelanggaran.

Integritas pada siswa dapat dibangun dengan menumbuhkan kesadaran bahwa berperilaku tidak jujur merugikan diri sendiri maupun orang lain. Integritas moral guru dapat tecermin melalui sikap guru yang menghargai kejujuran siswa dan mau menegakkan aturan yang ditetapkan dalam prosedur pelaksanaan UN dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian dapat terwujud kondisi yang kondusif bagi siswa untuk mengerjakan soal-soal UN.

Integritas moral orang tua dapat diungkapkan melalui sikap yang lebih mengedepankan sikap jujur anak dalam mengikuti proses UN daripada nilai yang tinggi tetapi diperoleh dengan cara yang tidak jujur. Akhir kata, ujian nasional bagi siswa dapat menjadi sarana untuk menguji integritas moral kita.
 
Jadi, perhatian terhadap UN jangan semata-mata difokuskan terhadap angka-angka yang diperoleh siswa. Namun, juga tetap memperhatikan proses yang telah dilakukan oleh siswa selama ujian berlangsung.

Sri Lestari, Staf Pengajar Fakultas Psikologi UMS. (Republika Online)

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://jawabali.com/pendidikan/ujian-nasional-dan-ujian-moral-793/trackback

Related Entries

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.