May 13, 2008
Tipisnya Kekitaan
Seabad Kebangkitan Nasional menjadi begitu penting bukan karena "angka 100" atau sebutan "satu abad" yang spektakuler atau yang mewakili kurun waktu dan umur yang cukup panjang. Ia begitu penting karena makna hakikinya -yaitu lahirnya "kekitaan" (we-ness) di tengah kehidupan nyata hamparan luas orang yang kemudian disebut bangsa Indonesia- sedemikian vital untuk mensyarati survival bangsa Indonesia kini dan ke depan. Keterpurukan kontemporer bangsa ini berakar dalam tipisnya, bahkan tiadanya, kekitaan.
Memperingati seabad Kebangkitan Nasional berarti menyadari betapa penting dan niscayanya setiap pemimpin dan warga bangsa Indonesia menumbuhkembangkan kembali kekitaan secara bermakna, sekaligus menipiskan egoisme, egosentrisme, sektarianisme, diskriminasi rasial, dan dikotomi antagonistik, "kita dan bukan kita" atau "kita dan mereka yang bukan kita".
Lihatlah, korupsi yang merupakan biang keladi ketidakefisienan negara dan pemerintahan, memorosi pemiskinan rakyat, dan mengakari keterpurukan bangsa, sesungguhnya berakar dalam tipisnya kekitaan dan kuatnya egoisme serta egosentrisme. Kondisi itu mendorong pejabat atau siapa pun yang memiliki kesempatan menggunakan uang dan kekuasaan, untuk memikirkan diri sendiri saja dan melupakan serta mengabaikan nasib orang-orang lain.
Uang dan kekuasaan lalu hanya digunakan untuk memuaskan nafsu diri sendiri (membeli dan mendapatkan apa pun untuk diri sendiri; memperkaya diri sendiri; mengamankan jabatan diri sendiri, dan sebagainya).
Tipisnya kekitaan dan kuatnya sektarianisme serta kuatnya dikotomi antagonistik "kita dan bukan kita" atau "kita dan mereka yang bukan kita", mengakari kolusi (kongkalikong mencari untung antara orang-orang yang merasa sebagai "kita" dalam arti sempit dengan menafikan kekitaan yang sejati, yaitu kekitaan bangsa Indonesia). Kolusi itu menguntungkan "kita" yang sangat sempit, mengorbankan "kita" yang sejati (kita bangsa Indonesia).
Yang terakhir, tipisnya kekitaan dan kuatnya sektarianisme, diskriminasi rasial, dan dikotomi antagonistik "kita dan bukan kita" atau "kita dan mereka yang bukan kita", mengakari nepotisme (kongkalikong mencari untung antara orang-orang satu sekte, satu kelompok, satu kekerabatan, mungkin pula satu keluarga, satu suku, satu ras, dan sebagainya, yang jelas merugikan "kita" yang sejati, yaitu kita dalam makna bangsa Indonesia).
Tipisnya kekitaan dan kuatnya sektarianisme serta diskriminasi rasial juga menyumberi praktik-praktik ameritokratik, yaitu segala perwujudan perilaku dan kebijakan yang tidak menghargai setiap individu berdasarkan kemampuan, bakat, inteligensi, jasa, dan prestasi yang real. Praktik ameritokratik itu dilandasi pertimbangan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Akibatnya, penempatan orang-orang di tengah susunan kehidupan bangsa ini kacau balau: orang-orang yang sesungguhnya tidak mampu menjalankan suatu tugas penting, dipaksa menjalankan tugas itu, sementara orang-orang yang sesungguhnya sangat mampu menjalankan tugas penting itu, tidak diberi pekerjaan, atau dibiarkan bekerja di tempat lain yang tidak tepat dengan kemampuan, bakat, dan inteligensinya.
Praktik ameritokratik juga menyebabkan orang-orang Indonesia yang sungguh sangat berbakat, mampu, dan memiliki inteligensi luar biasa untuk melaksanakan tugas penting di tengah bangsa ini, pergi ke luar negeri dan di sana bekerja untuk bangsa lain. Bukankah hal ini merupakan salah satu faktor penyebab penting keterpurukan bangsa ini kini?
Tipisnya kekitaan juga sangat memperlemah kekuatan bangsa ini untuk bersama-sama, bersatu padu, bahu-membahu menanggung beban dan menyelesaikan masalah-masalah bangsa. Tipisnya kekitaan mendorong warga bangsa ini bertindak sendiri-sendiri, menanggung beban sendiri-sendiri, tidak mampu berbicara bersama secara konstruktif untuk bahu-membahu menghadapi tantangan, menanggung beban, dan memecahkan masalah.
Acap, solusi terbaik untuk suatu masalah bisa didapatkan dari pembicaraan konstruktif antarwarga bangsa, atau dari kerja bersama yang harmonis dalam kekuatan jejaring konstruktif sesama warga bangsa. Namun, ketika kekitaan begitu tipis, pembicaraan dan kerja bersama konstruktif antarwarga bangsa itu tidak pernah bisa berlangsung. Yang lebih banyak terjadi hanyalah tindakan saling menyalahkan, saling menuding, bahkan baku hantam dan baku menyisihkan.
Maka ,tipisnya kekitaan justru melahirkan banyak percekcokan, pertikaian, perselisihan antarsesama warga bangsa, yang sesungguhnya sangat tidak perlu dan cuma menguras energi dan waktu. Hamparan luas warga bangsa ini dapat merasakan hal itu lewat paparan warta di media, baik media cetak maupun televisi.
Hampir setiap hari berita di halaman depan koran atau berita utama televisi adalah berita tentang pertikaian antarsesama warga bangsa Indonesia sendiri (pertikaian antarkelompok agama, perselisihan antarpengurus partai politik, tindakan kekerasan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain, dan sebagainya).
Seratus tahun Kebangkitan Nasional tidak banyak artinya jika hanya dirayakan dengan arak-arakan, wacana yang tinggi-tinggi, pidato menggebu, luapan emosi, dan slogan-slogan belaka.
Perayaan seabad Kebangkitan Nasional justru menempatkan bangsa ini pada posisi mawas diri total, dengan pertanyaan pokok: akankah orang-orang dan kelompok-kelompok di tengah bangsa ini terus bersikeras dengan egoisme, egosentrisme, sektarianisme, diskriminasi rasial, dan dikotomi antagonistik "kita dan bukan kita"?
Dr dr Limas Sutanto SpKJ(K) MPd, psikiater konsultan psikoterapi, wakil presiden Asia Pacific Association of Psychotherapists. (Jawa Pos Online)








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.