Amazon.com Widgets

August 8, 2008

Makna Global Isra Mi'raj

Oleh KH AN Nuril Huda
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

Isra Mi'raj adalah peristiwa yang terjadi sekitar 14 abad Hijriyah yang lalu. Saat itu Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Al-Quds. Lalu, dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk, malaikat, manusia, dan jin.

Semua itu ditempuh dalam sehari semalam. Peristiwa itu sekaligus sebagai mukjizat yang diterima Rasulullah SAW yang mengagumkan dan melebihi keterpanaan warga dunia terhadap jaringan telekomunikasi global.Kini globalisasi dan kemajuan dunia modern telah mempertemukan banyak manusia dengan segala kepentingan, ideologi, etnis, dan politik. Ini merupakan wilayah dan tantangan dakwah Islam yang tak dapat dihindari. Tentu saja tantangan ini harus direspons dengan dakwah yang bijaksana, simpati, santun, dan teladan yang baik.

Jika Islam disebarkan dengan caci maki, permusuhan, dan paksaan, maka Islam akan kehilangan rahmatnya dan dijauhi penganutnya. Era global yang ditandai dengan ledakan informasi telah menjadikan dunia ini sebagai kampung besar. Dengan teknologi informasi yang serbacanggih, tidak ada lagi sekat pemisah antara satu individu dan individu lainnya, di negara mana pun ia berada. Komunikasi yang terjalin tidak hanya dalam bentuk audio, tetapi juga audio-visual. Melalui sistem informasi jaringan, kita dapat mengakses berbagai informasi kapan dan di mana pun. Peristiwa demi peristiwa bisa kita simak secara live.

Semua sendi kehidupan manusia bisa kita ketahui, baik melalui media cetak maupun media elektronik. Koran-koran, majalah, buku-buku, radio, televisi, telepon, internet, dan jenis alat informasi lainnya, bisa kita gunakan dengan mudah untuk berbagai keperluan.Tantangan dakwah Kemudahan-kemudahan itu tidak hanya berdampak positif dalam membantu mempermudah aktivitas, tetapi juga berdampak negatif. Beragam kejahatan kriminal hampir terjadi di mana-mana. Globalisasi memberi ruang baru tindak kejahatan, seperti pencurian, penodongan, perjudian, pelacuran, perzinaan, pemerkosaan, minum-minuman keras, hingga penggunaan obat-obatan terlarang.

Kafe-kafe dan diskotek-diskotek yang menyajikan tarian erotis adalah bagian dari kemungkaran-kemungkaran yang mucul di era konsumerisme dan hedonisme ini.Ketika sebagian orang kena virus konsumerisme dan hedonisme, giliran sikap hidup berikutnya adalah permisif. Orang cenderung bersikap serbaboleh selama menurut pandangannya tidak merugikan pihak lain. Perilaku dan tindakan manusia tidak lagi mengacu pada norma baik dan buruk, layak atau tidak, sopan atau norak, menurut norma moral dan etika Islam.

Tetapi, yang menjadi ukuran adalah senang atau tidak.Dalam konteks seperti itulah lahir beragam perilaku dan tindakan yang oleh sebagian kalangan dipandang asusila dan amoral karena bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Merebaknya media-media yang berbau pornografi dan tontonan-tontonan pornoaksi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sikap hidup yang permisif. Orang tidak lagi malu atau tabu untuk menjadi foto model sebuah media massa dengan memperlihatkan kemolekan tubuh atau aksi panggung yang mempertontonkan goyangan erotis.

Fenomena inilah yang membuat sebagian kaum Muslim gerah dan terusik nuraninya untuk segera mengubahnya ke arah yang baik. Ia merasa lemah imannya dan berdosa apabila tidak bergerak atau membiarkan kemungkaran tersebut terus berlangsung. Kepedulian mereka akan moral anak bangsa masa depan memang patut mendapat acungan jempol. Maka, segala sarana yang menjurus pada kerusakan moral itu harus segera diberantas. Inilah yang menjadi tantangan dakwah.Sebagian Muslim ada yang cepat habis kesabarannya dan mereka ingin segera memusnahkan kemungkaran. Pentungan dan lemparan batu menjadi sarana yang paling mudah dan paling cepat untuk membasmi segala biang kerusakan moral.

Tak hanya gedung dan fasilitas perkantoran yang rusak, aparat kepolisian dan para demonstran juga luka berdarah ketika bentrok tak terhindarkan. Apakah memberantas kemungkaran dalam rangka dakwah dengan cara kekerasan merupakan cara terbaik dan efektif? Tentu saja tidak!  Dakwah globalDalam Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan dalam /nahi munkar. Pertama, memberi penerangan kepada orang yang hendak diubah perbuatannya. Adakalanya seseorang melakukan suatu kemungkaran itu dengan sebab tidak tahu atau kebodohannya sehingga apabila setelah diberi tahu, mungkin sekali ia akan meninggalkannya.

Kedua, melarang orang yang berbuat kemungkaran itu dengan memberi nasihat yang baik serta menakut-nakuti akan siksa Allah SWT. Ketiga, melarang dengan tegas, tetapi tetap harus menghindari kata-kata yang kasar (tidak sopan). Ini perlu dilakukan apabila dengan kelemahlembutan tidak membekas. Keempat, melarang kemungkaran dengan menggunakan kekuasaan. Cara ini dilakukan sebagai usaha terakhir.

Misalnya, dengan menggunakan tangan, di antaranya membuang arak, merusak alat yang digunakan untuk melakukannya yang dimiliki oleh orang yang berbuat itu atau menyingkirkan dirinya sehingga tidak dapat melakukan kemungkaran itu lagi.Dalam tahap keempat di atas, Imam Ghazali melegalkan melakukan perusakan, tetapi dilakukan oleh aparat keamanan negara. Semua kegiatan pemusnahan fasilitas kemungkaran itu juga harus berdasarkan pertimbangan hukum yang diputuskan oleh aparat yang berwenang. Oleh sebab itu, Imam Ghazali memberikan batasan-batasan kesopanan yang harus dipenuhi oleh seseorang yang melakukan nahi munkar.

Pertama, berilmu, ia mengetahui mana-mana kejadian atau peristiwa yang perlu dilakukan dan dilarang. Kedua,wara’, hendaklah melarang orang yang melakukannya dengan niat semata-mata untuk agama dan memperoleh keridaan Allah SWT. Ketiga, berbudi baik sehingga orang yang bertugas sedapat mungkin tetap menunjukkan sikap sopan, lemah lembut, dan ramah kepada siapa pun, terutama orang yang hendak diinsafkan kesalahannya. Mengenai sopan santun dan ramah dalam nahi munkar, terdapat satu kisah menarik yang dialami oleh Khalifah Al-Ma’mun.

Suatu saat ia kedatangan seorang demonstran yang menasihatinya dengan menggunakan kata-kata yang keras dan kasar. Khalifah itu dengan tenang berkata, “Bersikap lunaklah, wahai kawan. Sebenarnya Allah sudah mengutus orang yang lebih baik daripada kamu kepada orang yang lebih buruk kelakuannya daripada kelakuanku.” Orang yang dimaksud oleh Khalifah Al-ma’mun adalah Musa dan Harun ketika berdakwah kepada Fir’aun.Apabila kita menelusuri perjalanan dakwah para nabi, mungkin tidak ada yang paling berat tantangannya daripada yang dihadapi oleh Nabi Musa.

Mayoritas nabi-nabi, baik sebelum maupun sesudah Nabi Musa, mereka berdakwah kepada orang-orang musyrik, yang berarti mereka masih bertuhan dan kepada ahli kitab, seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Yang dihadapi oleh Nabi Musa adalah sosok yang justru mengaku sebagai tuhan. Tapi bagaimana dakwah Musa kepada sosok thaghut itu? Allah berfirman, “Maka katakanlah (hai Musa dan Harun) kepada (Fir’aun) dengan ucapan yang lemah lembut, barangkali ia suka ingat atau takut,” (QS Thaha [20]: 44).

Jika kemungkaran dibalas dengan perusakan, tentu saja tidak akan menyelesaikan masalah, malah mungkin akan timbul masalah baru. Ini karena kita hidup di negara hukum, maka segala hal yang berkaitan dengan pelanggaran hukum harus diselesaikan secara hukum dan oleh aparat penegak hukum. Jelas kita tidak bisa main hakim sendiri.  Makna global Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW adalah dakwah global yang mampu beradaptasi, bertoleransi, dan harmonisasi dengan lingkungannya. Dengan demikian, dakwah Islam dapat melahirkan pencerahan bagi umat dan bangsa.

Ikhtisar:
-Tantangan dakwah kini dan mendatang akan semakin berat.
- Ada banyak cara untuk mengubah kemungkaran, yang paling tinggi tingkatannya adalah dengan  menggunakan kekuasaan. [Republika Online]

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://jawabali.com/blog/makna-global-isra-miraj-890/trackback

Related Entries

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.