January 12, 2008
Ketika Jujur Tak Sama dengan Berani
Oleh Arif Fadilah *
Ketika jujur hanya menjadi cerita yang didongengkan dan dibuatkan prasasti pada sebuah bangsa, akan seperti apa bangsa itu ke depan? Hal-hal yang saya maksud adalah sebagai berikut. Sejak masih anak-anak, saya sering mendengar ucapan tentang kejujuran yang diungkapkan orang tua, guru, atau saudara yang lebih tua. Orang yang lebih tua mendorong agar saya dan anak-anak lain untuk jujur ketika mengerjakan sesuatu atau dalam menjawab apa yang ditanyakan kepada dirinya.
Contoh kalimat yang biasa keluar berbasis hasrat orang tua agar anaknya bersikap jujur, antara lain, "Nak, kalau ditanya guru di sekolah, kamu harus menjawab dengan jujur ya" atau "Nak, pada saat kamu sedang mengerjakan tugas atau ujian, kerjakan dengan sejujur-jujurnya".
Saat ini, ketika kita menjadi orang tua, kita juga berbuat hal sama. Kita mengajarkan kepada anak kandung atau anak didik kita tentang kejujuran atau berbicara jujur.
Harapan orang tua kepada anak-anaknya dan harapan kita kepada anak-anak kita intinya adalah ingin menanamkan keberanian kepada anak untuk mengatakan dan berbuat benar tentang sesuatu hal yang mungkin dapat atau tidak berimplikasi pada diri dan sekitarnya. Tetapi, dalam pengembaraan saya, saya mendapatkan pemahaman bahwa jujur itu tidak sama dengan "keberanian berucap". Mengapa? Sebab, menurut saya, keberanian berucap dapat menjadi sesuatu yang belum tentu jujur alias tidak jujur. Namun, ketika jujur juga berdiri sendiri tanpa keberanian berucap, itu sama dengan tidak jujur.
Coba kita cermati kata "dapat" dan "sama dengan". Kata dapat mengandung pengertian bahwa itu mungkin terjadi atau tidak terjadi, sedangkan pengertian kata sama dengan adalah setara atau tidak berbeda. Maksudnya?
Untuk dapat lebih jelas kita memahaminya, saya menyajikan perumpamaan berikut. Seorang kesatria penegak hukum negeri antah brata berkata dengan lantang bahwa dirinya akan bekerja tanpa pamrih, menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Namun, saat kesatria itu berhadapan dengan lingkungan keluarga penguasa negeri, dirinya tidak dapat melakukan sesuatu yang seharusnya dia kerjakan sesuai dengan hukum negerinya. Entah karena sungkan atau karena patuhnya punggawa kepada sang raja.
Dapat Diukur
Berdasar pengembaraan di antah brata itu, dengan berani saya merumuskan dan menjawabnya untuk si Pulan yang manis, "Jujur adalah sesuatu yang dapat diukur atau bahkan tidak dapat diukur dengan apa pun dan bila disampaikan dapat menimbulkan ’kesejukan’ tersendiri".
Meski begitu, terkadang kejujuran itu dapat mendatangkan sesuatu yang tidak enak atau bahkan menyakitkan bagi diri kita atau orang lain. Untuk dapat menilai sebuah kejujuran, barangkali hanya Tuhan dan nurani yang mengetahui.
Wajah Pulan yang manis berubah menjadi bingung, juga bapak ibunya yang sedang mendengarkan percakapan kami. Saya lalu mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia, cetakan 2005, "Pulan… ’jujur’ itu berarti lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus, dan ikhlas." Rupanya, kalimat terakhir itu agak lebih mudah dimengerti. Semua mengangguk dan tersenyum. Alhamdulilah.
Akan tetapi, lega saya setelah berhasil menjelaskan definisi tentang jujur tidak bertahan lama. Kembali saya termenung, betulkah sesuai antara kondisi dan konsep yang kita pahami? Saya lalu berangkat lagi pelan-pelan berjalan menuju negeri antah berantah.
Sakit
Ketika saya tiba di negeri yang sering saya kunjungi, saya dengar di negeri ini sedang mengalami wabah, tetapi saya tidak mengerti dengan jelas nama penyakit itu. Mungkin, sebagian besar masyarakatnya pun tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami gangguan.
Salah satu gejalanya adalah sering kata "kalau kita mau jujur" diucapkan para pejabat saat berpidato pada acara-acara tertentu atau ditulis para ahli/pengamat dalam berbagai opini yang berbicara tentang kondisi negerinya. Sekilas hal itu tampak lumrah, tetapi bila kita mau memperhatikan lebih seksama, akan tampak dua hal yang justru bertentangan dengan konsep "jujur" dan menunjukkan bagaimana situasi masyarakat antah berantah.
Pertama, untuk mengatakan sesuatu yang benar terjadi di masyarakat, mereka tidak berani mengungkapkan secara langsung. Itu menunjukkan masyarakat belum memiliki keberanian untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka masih sering mencari kambing hitam daripada mencari akar suatu masalah.
Kedua, hal tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat lebih senang dengan keadaan kepalsuan atau masyarakat negeri itu memang sengaja menciptakan kondisi penuh kepalsuan karena tidak siap menghadapi dunia nyata yang kadang membutuhkan kesabaran. Mereka lebih menyenangi beronani dan berbangga diri dengan kebodohannya.
Dengan begitu, terkadang mereka bangga bila bisa mengambil keuntungan dari orang lain dengan jalan menipu. Walaupun tanpa mereka sadari, mereka lebih tertipu lagi dan orang tersebut justru lebih untung dibandingkan dirinya.
* Arif Fadilah, peminat masalah-masalah sosial dan kemasyarakatan
Sumber: jawa pos dotcom








Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.