June 28, 2008
Episode Berikutnya setelah Lulus Unas
Hasil ujian nasional (unas) SMU diumumkan beberapa waktu lalu. Bagi anak-anak SMU yang sudah lulus Unas 2008 ini, episode edukasi selanjutnya yang hendak diikuti ialah berburu jagat perguruan tinggi. Terutama, yang berasal dari kalangan keluarga mapan atau setidaknya komunitas yang sudah menstigmakan sebagai "keluarga kuliah" (asal anak-anak bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi).
Dalam komunitas yang sudah menstigmakan sebagai "keluarga kuliah" tersebut, boleh jadi dari sisi kegairahan atau birahi edukasinya jauh lebih besar dibandingkan dengan keluarga mapan yang sibuk membesarkan dunia usaha dan berparadigma pragmatis. Sebab, dalam "keluarga kuliah", secara umum yang diprivilitaskan adalah memburu ilmu, menjaga keberlanjutan studi, dan pencerahan kecendekiaan.
Meski harus menjual barang-barang berharga atau gali lubang tutup lubang, opsi demikian dilakukan "keluarga kuliah". Di lingkungan keluarga itu, anak-anak pascalulus SMU terus dipicu dan dipacu untuk mencari perguruan tinggi yang disukai atau sejalan dengan minatnya. Mereka (anak-anak) diminta orang tuanya untuk tidak memikirkan soal darimana biaya yang diperoleh, tetapi disuruh "'bertualang" mencari dan memburu perguruan tinggi yang baik.
Persoalannya, yang sering kita temukan dalam perburuan perguruan tinggi tersebut, anak-anak atau keluarganya lebih tergelincir menempatkan identitas perguruan tinggi yang baik, identik dengan perguruan tinggi mahal atau berbiaya ''selangit". Perguruan tinggi yang meregulasi biaya besar masih dianggap masyarakat sebagai "garansi" kualitas dan penentu masa depan. Benarkah demikian?
Tentu saja tidak. Tidak ditemukan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perguruan tinggi mahal otomatis menghasilkan lulusan yang menempati strata sumber daya unggulan. Kalau sekarang banyak ditemukan elite eksekutif, legislatif, dan yudikatif, atau sosok yang terbilang berprestasi di level nasional dan internasional, berasal dari beberapa perguruan tinggi mahal, selain bersifat kasuistik, itu melalui perjalanan sejarah pergulatan hidup yang panjang (berliku-liku).
Bukan Mesin
Sejatinya, perguruan tinggi bukanlah mesin yang mencetak anak-anak didik menjadi "generasi instan" atau manusia-manusia yang mesti langsung bisa dipakai dan kapabel di bidangnya. Sebab, perguruan tinggi lebih dominan melakukan transformasi keilmuan teoretis, seperti membuat mahasiswa mampu memahami, mencerna, mendiskursuskan, dan meneliti suatu objek tertentu yang disandingkan dengan kemampuan keilmuannya.
Kesuksesan yang diraih lulusan perguruan tinggi di masyarakat memang tidak menafikan keilmuan teoretis, namun sikap tidak kenal lelah, dibingkai optimisme, dan kegigihannya dalam memperjuangkan obsesinya sangatlah menentukan. Prestasi di perguruan tinggi, apa itu yang murah atau mahal, barulah investasi awal yang memediasi perjalanan hidup setiap mahasiswa.
Tulisan Misbah El-Munir (2008) berjudul Belajar dari Manusia-Manusia Sukses membeberkan bahwa ijazah formal bukanlah penentu keberhasilan seseorang dalam meraih kesuksesan berkarir secara politik dan ekonomi, termasuk menempati posisi-posisi strategis di masyarakat, tetapi ditentukan "ijazah moral-psikologis" seperti kegigihan, perjuangan yang tak kenal lelah, optimisme yang terus menyala, dan tidak gampang dihinggapi frustrasi.
Duit barangali hanya bisa "membeli" dan memenangkan pertarungan awal. Tetapi, agenda sejarah pergulatan di masyarakat yang beragam tidak semua bisa "dibeli" dengan duit dan sebaliknya hanya bisa "dibeli" dengan kapabilitas dan moralitas diri yang ditunjukkannya.
Uraian tersebut sebenarnya bermakna kritik terhadap setiap pemburu perguruan tinggi mahal atau berbiaya ''selangit" supaya menghentikan atau setidaknya mengendalikan nafsunya. Perguruan tinggi berbiaya mahal bukanlah jaminan bagi anak-anak didik untuk sukses menuai masa depan secara cemerlang. Perguruan tinggi sekadar "jembatan" bagi anak-anak didik untuk memahami, mengasah, mentransformasi, dan menajamkah pisau analisis keilmuan. Kalau soal kesuksesan dalam bekerja dan berkarir lainnya, kapabilitas dan ketahanan moralitas dirilah yang lebih menentukan.
Sayang, masyarakat kita masih saja gampang digelincirkan atau "'dibohongi" oleh jagat perguruan tinggi, yang sering obral janji atau melakukan pembiasan informasi lewat brosur, tentang relasi antara mahalnya perguruan tinggi dan masa depan lulusan yang seolah dari perguruan tinggi mahal, masa depan mapan, seperti gampang meraih pekerjaan dengan gaji besar, bisa diperoleh.
Ironisnya lagi, kita masih sering memaksakan diri atau menciptakan "tirani" dalam diri sendiri, bukan mengukur standar kemampuan yang kita miliki. Kita menjerumuskan hasrat memasukkan anak ke perguruan tinggi yang meregulasi biaya mahal, yang biaya ini jauh melebihi kemampuan ekonomi (penghasilan) kita. Kita pun terkadang semakin tergelincir menciptakan "tirani" dalam diri anak-anak saat berkata "dengan biaya besar, kamu kelak akan menjadi orang besar".
Pernyataan tersebut membuat anak-anak bisa tersiksa secara psikologis. Sebab, mereka dibebani target keluarga atau orang tuanya dan bukan obsesi sendiri, yang menuntutnya menjadi "orang besar". Dalam ranah itulah, anak-anak terkerangkeng dalam pola kapitalisasi diri atau paradigma represi yang tentu saja menelanjangi minat, kecerdasan, dan ketahanan psikologisnya.
Di desa-desa dengan gampang kita menemukan, misalnya, orang tua yang rela menjual tanah demi membiayayi anak ke perguruan tinggi mahal. Ada di antara mereka yang memaksakan diri secara berlebihan. Misalnya, menjual habis tanah sawah atau perkebunannya demi memenuhi iuran masuk perguruan tinggi yang sudah mematok biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Langkah "radikal" yang dilakukan orang tua atau keluarga tersebut selayaknya perlu dipahami bukan sebagai kesalahan, tetapi sebagai harapan mulia bahwa sejatinya mereka sangat merindukan kehadiran generasi dari lingkungan keluarga yang bisa menjadi "orang besar" di kemudian hari pascalulus dari perguruan tinggi.
Sayang, sulit ditemukan pilar-pilar sosial-edukasi yang mengingatkan bahwa harapan mulia (menjadi "orang besar") tidak selalu harus dengan pengorbanan berlebihan atau "membeli" yang berharga mahal.
Biaya selangit masuk perguruan tinggi mahal seharusnya bisa digunakan untuk melatih (menerampilkan) anak-anak menggerakkan roda bisnis. Misalnya, membuka kios koran, kafe kopi, dan voucher pulsa, sambil berkuliah di perguruan tinggi yang harganya terjangkau dan "wajar".
Nadlifah Hafidz , editor buku dan peneliti masalah anak-anak dan perempuan . (Jawa Pos Online)







