October 12, 2008
Hari Kesehatan Mental Sedunia 10 Oktober
Oleh Nalini Muhdi
Psikiater, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cab Surabaya dan pengurus PDSKJI pusat
Aksi main gebuk seperti yang dipertontonkan sekelompok orang terhadap pedagang kaki lima penjual makanan-minuman di siang hari pada bulan Ramadan kemarin lantaran dianggap menggoda umat Islam yang tengah berpuasa -padahal, tujuan utama berpuasa adalah menahan diri dari godaan, termasuk tidak melakukan kekerasan- menambah daftar panjang catatan kekerasan di masyarakat.
Maraknya tawuran antarwarga, penguasa tiran yang tengah memamerkan kekuasaan dan hartanya, melambungnya kekerasan domestik, bahkan kekerasan yang dilakukan negara menyadarkan kita betapa kekerasan tengah mencabik-cabik kehidupan umat manusia.
Tayangan media, terutama televisi, sungguh punya andil. Kekerasan demi kekerasan dijejalkan ke memori pemirsa melalui berita yang kerap kurang selektif.
Demikian juga, tayangan kriminal plus teknis detail kejahatan menjadi media pembelajaran bagi individu yang rentan, kekerasan verbal-emosional berupa gunjingan atau hujatan terhadap individu lewat gosip selebriti -yang tak ada unsur pendidikan nyata, kecuali cuma menyalurkan keresahan pribadi- juga menjadi contoh buruk pemicu kekerasan.
Beberapa bentuk kekerasan memang bisa "diterima" oleh budaya dan nilai-nilai masyarakat. Merefleksikan masyarakat yang tidak mampu menyelesaikan permasalahan secara baik dan dewasa.
Belum lagi ''suara sunyi" dari rumah ke rumah, kekerasan dalam rumah tangga. Bayangkan, menurut survei yang dilakukan UNICEF di Asia, seperempat dari anak-anak Asia mendapat gebukan dari orang dewasa sebagai cara untuk menghukum. Tentu belum terhitung yang mendapat hardikan, bentakan, ancaman, atau kekerasan bentuk lain.
Selain itu, pasangan, terutama perempuan, yang mendapat perlakuan tak layak, bahkan keji dari para lelakinya. Lihat pula, para pembantu rumah tangga yang bekerja di luar negeri tak mendapat perlindungan maupun pembelaan adekuat dari pemerintah sendiri. Sungguh mengenaskan.
Juga Dilakukan Negara
Kekerasan bisa juga dilakukan negara (violence by state). Tengok pengangguran yang kian merajalela, anak jalanan tak tersentuh kesejahteraan, ketidakadilan, pembiaran masyarakat korban bencana Lapindo yang berlarut-larut.
Atau, tak menangani serius dan sistematis praktik penjualan bahan makanan yang membahayakan kesehatan: daging glonggongan, buah-sayuran berformalin, dan masih banyak lagi. Menunjukkan negara (baca: pemerintah) tak mampu melindungi rakyatnya.
Rasa aman dan nyaman dalam perikehidupan seakan barang langka. Padahal, perasaan tersebut adalah modal terbentuknya kualitas hidup bangsa yang menjanjikan.
Kekerasan lebih banyak menyeret umat manusia masuk lorong kegelapan. Menyisakan parut yang menorehkan gangguan selanjutnya. Ada yang dapat menutupnya lewat kebangkitan kembali yang lebih baik, namun banyak hanya menyisakan jejak gelap selanjutnya. Ketidakberdayaan.
Kekerasan kerap tampil lewat gincu warna-warni. Amat muram, atau menyilaukan mata. Meskipun, akibat fatal kekerasan didominasi peristiwa bunuh diri, pembunuhan, dan keganasan perang.
Dua yang terakhir pastilah mudah dibayangkan. Efeknya nyata. Namun, yang pertama, sering tak terbayangkan, tapi membuat terhenyak lantaran angkanya mendaki menuju titik kulminasi di hampir semua negara.
Tak pelak, deteriorasi sosio-ekonomi dalam menghadapi globalisasi dituding sebagai pencetus. Akibatnya, mereka tertimpa depresi yang tak tertangani.
Awal Oktober ini ekonomi dunia terguncang. Tak pelak akan mencetuskan gejolak psikososial, yang berbuntut ketidakseimbangan mental-emosional. Tapi, mereka yang tinggal di negara maju lebih beruntung lantaran penanganan menghadapi memburuknya kesehatan mental sudah dirancang secara layak oleh pemerintahnya.
Bagaimana di Indonesia?
Kekerasan bergandengan dengan beberapa faktor risiko: kemiskinan dan pengangguran, ketidakadilan, dampak media massa, terbatasnya akses sosial, urbanisasi dan industrialisasi, pendidikan berwajah compang-camping dan tidak merata, dan yang lain.
Sesungguhnya kekerasan adalah salah satu indikator tingkat kesehatan mental yang memburuk di masyarakat. Indikator itu bisa dilihat dari manifestasi perubahan perilaku dan kepribadian. Misalnya, perilaku kekerasan sendiri lebih banyak dilakukan individu yang punya dasar gangguan jiwa, yang sudah manifes atau masih tersembunyi.
Betapa bahaya bila individu seperti itu menjadi pemimpin negara, panutan umat, wakil rakyat, atau pengambil keputusan. Terus terang, gejala tersebut sudah bisa dirasakan.
Indikator lain dari memburuknya taraf kesehatan mental ialah meningkatnya angka kejahatan yang kian brutal, kenakalan remaja, penyalahgunaan zat berbahaya serta alkohol, meroketnya pelaku bunuh diri, kekerasan dalam rumah tangga, membeludaknya pasien yang mencari bantuan di institusi kesehatan mental (sayang di Indonesia masih terkendala stigma yang kental sehingga sulit dijadikan tolok ukur, lantaran angka kunjungan pasien hanyalah puncak fenomena gunung es).
Oleh sebab itu, sudah saatnya mental health dipandang sebagai salah satu bentuk penyelesaian masalah bangsa. Dalam hal ini, perlu menurunkan berbagai faktor risiko, memberikan sanksi tegas bagi pelaku kekerasan personal atau institusional (kekerasan tak bisa dijadikan pembenaran).
Selain itu, mencegah terjadinya gangguan jiwa di masyarakat yang berisiko meningkatkan perilaku kekerasan, atau melindungi mereka yang menderita gangguan mental dari penghakiman masyarakat, serta menggusur stigma yang masih mengakar. [Jawa Pos]







