January 26, 2008
Presiden yang Menggubah Lagu
Jaya Suprana
Di tengah kesibukan luar biasa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih mampu menyisihkan energi lahir-batin untuk menggubah lagu. Lagu yang digubah tidak hanya satu-dua, tetapi cukup banyak sehingga layak dan berhasil dialbumkan dengan judul Rinduku Padamu.
Sinisme menyambut karya Presiden VI RI ini mulai dari sekadar asumsi tebar-pesona, meningkatkan popularitas menjelang pemilu, sampai yang langsung menerkam dengan tuduhan SBY hanya mampu bikin lagu akibat tidak mampu memimpin negara.
Skeptis dan sinis
Salah satu ciri khas karakter bangsa Indonesia adalah sulit menghargai karsa dan karya bangsa sendiri. Mungkin akibat terlalu lama dijajah Belanda (sebenarnya VOC), bangsa Indonesia kehilangan rasa percaya diri hingga juga kehilangan kemampuan dan kemauan menghargai bangsa sendiri.
Jika sesama warga berkarya, skeptisme dan sinisme lebih mudah tampil ke permukaan ketimbang apresiasi. Apalagi, jika karya itu bersifat unik, lain dari yang lain, tidak sesuai dengan kemapanan kelaziman atau selera kolektif mayoritas publik yang sensitif, maka defensif terhadap sesuatu yang bersifat baru.
Pencalonan para pahlawan nasional, seperti RA Kartini hingga Soekarno, disambut skeptisme mereka yang sulit mendeteksi kepahlawanan sang calon. Banyak rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia bersifat perdana dicemooh mereka yang tidak mampu dan mau memahami makna inovatif dan kepeloporan.
Sesuatu yang bersifat baru senantiasa membentur demi menembus dinding bendungan kemapanan. Maka, karsa dan karya nyata SBY di bidang musik disambut skeptisme dan sinisme meragukan kredibilitas profesionalisme kepala negara. Seolah seorang kepala negara tidak layak, maka tidak boleh melakukan kegiatan di luar urusan kepemimpinan kenegaraan karena akan memerosotkan kinerja.
Mancanegara
Raja Thailand yang amat dihormati dan dicintai rakyatnya, Bhumibol Adulyadej, selain mahir meniup klarinet, juga asyik menggubah lagu. Lagu-lagu karya raja paling lama bertakhta di dunia masa kini itu dihargai, bahkan dibanggakan rakyat Thailand.
Perdana Menteri Inggris yang dianggap pahlawan penyelamat bangsa dan negara Inggris dari ancaman angkara murka Hitler, Sir Winston Sepencer Leonard Churchill, adalah penulis yang memperoleh penghargaan Nobel sekaligus pelukis andal.
Ketika pertama melihat karya-karya akuarel Churchill, terus terang saya tidak percaya bahwa semua itu karya insan tambun penggemar cerutu merangkap penulis buku-buku tak lekang dimakan zaman. Berbagai kemampuan terkesan tidak terkait urusan kenegaraan itu justru membentuk karakter dan sikap kepemimpinan Churchill yang gelegar pidato-pidato dahsyatnya berhasil mengobarkan semangat masyarakat Inggris untuk bangkit berjuang menghadang agresi Nazi-Jerman.
Salah seorang Presiden AS paling populer dan komunikatif adalah Ronald Reagan. Kelebihan kemampuan komunikasi kepala negara negeri adikuasa itu berasal dari pengalaman berkarya sebagai aktor film dan bintang iklan. Sama halnya hobi tiup saksofon Bill Clinton tidak merusak kredibilitas dan profesionalisme suami Hillary yang malah terpilih oleh salah satu polling sebagai Presiden AS terbaik di abad XX.
Kemasyhuran sebagai pianis legendaris amat mendukung perjuangan Jan Ignasy Padarewski hingga akhirnya pada tahun 1919 berhasil memproklamasikan kemerdekaan dan menjadi PM pertama Republik Polandia.
Vaclav Hafel dielu-elukan sebagai pahlawan demokrasi yang kemudian menjadi kepala negara pertama sekaligus penulis karya teater terbaik oleh masyarakat (kecuali para lawan politik Hafel) Republik Ceko!
Hirohito tetap dihormati rakyat Jepang hingga menjadi Kaisar Jepang terlama bertakhta meski dia seorang marina-biolog spesialis kepiting yang sama sekali tidak terkait kekaisaran.
Akibat beruntung menjadi presiden pada masa Orde Baru, tidak ada yang (berani) melecehkan hobi Soeharto bermain golf dan memancing. BJ Habibie sebagai Presiden III RI sempat menyelenggarakan pameran-tunggal fotografi karyanya sendiri.
Politis
Secara politis, apa pun yang dilakukan seorang Presiden, apalagi yang secara eksplisit tidak terkait langsung dengan urusan kepemerintahan seperti menggubah lagu, tentu bisa ditafsirkan ke arah negatif. Namun, sebagai komponis karya-karya musik yang telah dipergelar di panggung konser mancanegara (termasuk Carnegie Hall), tetapi belum sempat dialbumkan, saya cukup berhak menyatakan sebenarnya sungguh tidak mudah menggubah lagu apalagi sedemikian banyak hingga layak dialbumkan.
Maka, fakta bahwa Presiden RI mau dan mampu menggubah lagu sampai dialbumkan jangan diterawang dengan lensa teropong politis, tetapi diapresiasi sebagai suatu karya kesenian karsa peradaban dan kebudayaan. Bagi yang anti-Presiden, menggubah lagu tidak perlu khawatir sebab tidak ada paksaan untuk pro, tetapi sebaiknya juga tidak perlu mencemooh.
Jaya Suprana Budayawan Bukan Politikus
Sumber: Kompas
Tags: Jaya Suprana, KCM






