November 15, 2008
Pahlawan Versi PKS
Pengurus Presidium Nasional Masika (Majelis Sinergi Kalam) ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia)
Meski diprotes oleh NU dan Muhammadiyah, sepertinya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak akan menghentikan iklan politiknya yang membawa-bawa dua pendiri organisasi Islam terbesar itu, KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan. PKS merasa bahwa dua ulama besar itu sudah menjadi milik bangsa sehingga siapa pun bisa memiliki.
Namun, bagi sebagian kalangan NU dan Muhammadiyah, membawa-bawa dua tokoh itu berarti menyeret-nyeret organisasi yang didirikan pada wilayah politik. Padahal, masalah politik -khususnya bagi Muhammadiyah- merupakan masalah yang harus dijauhi.
Jauh sebelumnya, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan menyesalkan pemasangan KH Ahmad Dahlan sebagai pahlawan nasional sekaligus pendiri Muhammadiyah termuat dalam iklan politik (PKS). Menurut Din, pemasangan gambar KH Ahmad Dahlan merupakan suatu perbuatan yang tidak etis. Meski pahlawan nasional, KH Ahmad Dahlan, menurut Din, tidak bisa dilepaskan sebagai pendiri Muhammadiyah.
Lebih lanjut dikatakan, sejak 1971, Muhammadiyah memutuskan tidak masuk struktur politik mana pun. Atas kejadian itu, sikap PP Muhammadiyah sangat menyayangkannya. Iklan tersebut dikatakan sebagai kegiatan politik jangka pendek.
Hal yang sama diungkapkan tokoh muda NU mengenai iklan PKS yang menampilkan gambar pendiri NU KH Hasyim Asy'ari. Tokoh muda NU yang juga politikus PKB Ali Maskur Musa menuntut PKS meminta maaf terkait dengan iklannya tersebut. Generasi muda NU yang lain juga senada. Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Idy Muzayyad menilai PKS sengaja membiaskan pemikiran dan mengklaim tokoh NU. Padahal, pemikiran serta gerakan PKS dan NU berbeda. Dikatakan bahwa aliran PKS adalah wahabi, sedangkan Mbah Hasyim Asy'ari adalah sunni.
Protes dari NU dan Muhammadiyah, rupanya, oleh PKS seperti masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Dalam beberapa hari ini untuk mengirit biaya, PKS mengiklankan diri dengan menampilkan pahlawan-pahlawan itu langsung dalam satu durasi waktu saja, tidak seperti kemarin, misalnya, yang hanya Soekarno. Lebih hebat lagi dalam iklan kali ini, mereka juga menampilkan pemimpin Orde Baru Soeharto.
Ikon Partai
Nah, yang menjadi pertanyaan, mengapa PKS menampilkan dan "mengakui" pahlawan-pahlawan yang mereka memiliki atau menjadi ikon pada partai-partai yang besar. Ikon-ikon itulah yang selama ini mampu sebagai vote getter yang abadi. Soekarno menjadi ikon PDIP, KH Ahmad Dahlan meski bukan ikon PAN tapi pendulang suara terbanyak partai berlambang matahari ini adalah warga Muhammadiyah, KH Hasyim Asy'ari ikon PKB, Muhammad Natsir ikon PBB dan PPP, serta Soeharto adalah ikon Partai Golkar.
Dari sini jelaslah bahwa PKS ingin meraih hati konstituen partai-partai itu agar mau memilih PKS. Dengan menampilkan pahlawan-pahlawan tersebut, PKS ingin menunjukkan bahwa ikon-ikonnya dihargai dan dimuliakan. Kondisi itulah yang diharapkan sehingga dengan tidak sadar, pengagum Soekarno, misalnya, secara diam-diam akan melirik PKS. Bila itu terjadi, suara PKS akan semakin menggelembung.
Harus diakui secara strategi politik, PKS cerdas dalam menampilkan iklan politiknya. Namun, secara bagaimana mereka menghormati jasa para pahlawan, PKS tidak adil. Mengapa pahlawan-pahlawan yang ditampilkan hanya mereka yang menjadi ikon-ikon partai politik, mengapa pahlawan yang ditampilkan bukan pahlawan semacam Pangeran Diponegoro, Sisingamangaraja, Pangeran Antasari, Pattimura, Imam Bonjol, Hassanuddin, Teuku Umar, dan pahlawan-pahlawan lain.
Padahal, jasa-jasa mereka sama besarnya dengan pahlawan-pahlawan yang dijadikan iklan politik. Justru ada pahlawan yang ditampilkan oleh PKS masih menyisakan masalah dan dosa kepada republik ini. [Jawa Pos]







