Amazon.com Widgets

October 22, 2008

Fenomena Banci dan Anomali Kehidupan

Oleh Imam Mujahid
Dosen STAIN Surakarta, Sedang Studi S3 Program Studi Bimbingan Konseling di UPI Bandung

Maraknya kembali acara televisi yang menampilkan sosok kebanci-bancian pasca- Ramadhan seakan menafikan peringatan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada bulan puasa untuk tidak menayangkan acara yang berbau kebanci-bancian dengan lawakan yang cenderung porno pada seluruh stasiun televisi Indonesia. Sepantasnya kita semua introspeksi terhadap acara semacam ini bukan justru melanggengkannya.

Peran banci telanjur lekat menghiasi dunia hiburan pertelevisian di Tanah Air. Hampir setiap hari masyarakat disuguhkan pada peran banci dengan segala tingkah lakunya yang dianggap lucu dan menghibur. Imbauan berbagai pihak, utamanya pihak yang berwenang dan berkepentingan, pun perlu mendapatkan respons positif oleh pelaku seni dan dunia hiburan.

Imbauan moral KPI bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba tanpa sebab dan hanya mendasarkan pada momen Ramadhan yang telah berlalu, tetapi telah melewati proses penilaian panjang dengan memerhatikan masukan berbagai unsur, seperti pakar pendidikan, psikologi, sosial budaya, dan agama. Terlebih lagi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga independen yang mempunyai otoritas di bidang agama Islam juga mempunyai pandangan yang sama dalam menyikapi tayangan kebanci-bancian yang lebih banyak mengandung nilai mudharat ketimbang manfaatnya.

Ironis, banci yang pada awal kemunculannya dicemooh karena dipandang sebagai sebuah kelainan (abnormal) yang harus diobati berubah menjadi sosok yang mempunyai kelas tersendiri di dunia hiburan. Bahkan, kehadiran mereka sering kali menjadi sebuah keharusan. Tanpanya sebuah acara  akan hambar.

Lantas yang menjadi pertanyaan, apakah kehadiran peran banci semata bermula dari  tawaran dunia hiburan yang direspons positif oleh masyarakat ataukah murni sebagai upaya menyajikan realitas masyarakat yang sedang sakit? Kalau kita perhatikan dengan saksama, terkesan ada upaya memaksakan tren baru dunia hiburan yang bercorak kebanci-bancian untuk kepentingan kelompok tertentu, entah apa yang ingin dibangun.

Melihat begitu efektifnya media televisi dalam memengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat, maka penayangan peran banci tentunya juga akan menimbulkan pengaruh tersendiri di masyarakat. Pada dasarnya tayangan kebancian-kebancian disadari atau tidak akan merusak pemerannya sendiri dan masyarakat secara luas.

Banci bisa terjadi lantaran proses labeling. Seseorang yang diberi label banci, meski ia seseorang lelaki normal, lama-kelamaan ia akan berpikir mengenai banci dan terjadilah proses internalisasi. Jika mudah terpengaruh dan rapuh, bisa jadi dalam waktu yang tidak begitu lama ia akan berubah menjadi sosok banci yang sesungguhnya.

Dari sudut psikoanalisis, manusia lahir belum mempunyai gender. Seksualitasnya sama antara laki-laki dan perempuan. Gender akan ditentukan oleh lingkungan, manusia mengarahkan seksualitasnya menuju objek yang dianggap pantas dan tidak pantas.

Hal yang bersifat pantas atau tidak pantas sangatlah dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat yang terbangun, di antaranya efektif terbentuk  melalui media televisi.
Lebih jauh, penayangan peran banci akan berimplikasi negatif pada perubahan tatanan masyarakat walaupun saat ini proses anomali kehidupan yang merusak sendi-sendi kehidupan bangsa dengan berbagai variannya telah berlangsung.

Implikasi negatif di antaranya terbentuk melalui proses imitasi, di mana ada upaya masyarakat mendekatkan pada ciri yang menjadi tren di masyarakat. Terlebih lagi  apabila hal tersebut dapat meningkatkan status sosial, mengandung nilai lebih pada diri seseorang, serta menyebabkan diterimanya pada komunitas tertentu.

Keberhasilan aktor-aktor memerankan sosok banci tidak hanya menyukseskan karya seni yang dibawakannya. Namun, juga membesarkan pamornya yang berimplikasi pada ketenaran dan finansial. Hal inilah yang kemudian menjadi pendorong pelaku-pelaku seni untuk terus mengeksploitasi peran banci dengan mengabaikan dampak negatif di masyarakat.

Mental banci
Satu hal yang patut kita waspadai bersama saat ini adalah banci telah menjadi sifat dan mental yang meracuni masyarakat, bukan sekadar orientasi gender dan seksual. Sifat jantan yang telah dimiliki bangsa ini sejak berabad-abad lalu semakin menipis dan nyaris hilang.

Kita dapat melihat betapa rapuhnya masyarakat ketika menghadapi masalah. Mereka justru lari dari masalah bukan berusaha menghadapi masalah. Maka, tidaklah mengherankan angka kasus bunuh diri di masyarakat semakin meningkat pesat dengan berbagai variasi kasus keputusasaan.

Hal yang sama juga ditampakkan oleh para pemimpin bangsa ini yang sering kali bersembunyi di balik kegagalannya. Kisruh pascapilkada yang berlarut-larut di beberapa daerah menunjukkan betapa bancinya mereka dalam menerima kekalahan. Mereka tidak menampakkan sikap satria dan sportif yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin yang bermartabat.

Lebih tragis lagi, kita juga sering dipertontonkan dagelan-dagelan para pemimpin bangsa yang pintar bersilat lidah atas kesalahan hukum yang secara kasat mata nyata-nyata  telah mereka lakukan. Kita pun sering melihat betapa lihainya para pemimpin bangsa ini mencari kambing hitam atas kekeliruan dalam membuat kebijakan yang berakibat pada kesengsaraan rakyat.

Sikap-sikap tidak bertanggung jawab yang diperlihatkan para pemimpin bangsa ini pada hakikatnya buah dari mental banci yang melekat pada diri mereka. Tayangan-tayangan semacam ini pun sangat berbahaya apabila ditiru oleh masyarakat. Namun, berbeda dengan peran banci pada acara di televisi yang tidak layak dipertontonkan, tayangan ini justru harus dipertontonkan kepada masyarakat sebagai efek jera bagi para pelakunya dan shock therapy bagi mereka yang akan melakukannya. [Republika Online]

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

September 5, 2008

Fenomena Dakwah di Bulan Ramadhan

Oleh Imam Mujahid
Dosen STAIN Surakarta

Ramadhan selalu identik dengan kegiatan dakwah. Pada bulan yang penuh rahmat inilah umat Islam berlomba-lomba memanfaatkannya untuk kegiatan dakwah sesuai dengan kemampuan  yang dimilikinya, mulai dari dakwah yang dilakukan oleh  tenaga dakwah (dai) profesional sampai dai dadakan yang tampil karena tuntutan  keadaan dan lingkungan sekitar yang memintanya.

Fenomena dai dadakan  senantiasa menghiasi kegiatan dakwah di masyarakat dengan segala kelebihan dan kekurangannya, utamanya dakwah bil lisan. Hal ini dapat dimaklumi mengingat kebutuhan akan dai sangat besar, tetapi di sisi lain ketersediaan dai  yang ada sangat terbatas, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dari segi agama tidak menjadi persoalan sepanjang orang-orang tersebut telah memenuhi kualifikasi tertentu, minimal memiliki pengetahuan terhadap apa yang disampaikannya. Terlebih lagi dakwah merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan bagi seluruh kaum Muslim. Namun, tak berarti dapat dilakukan dengan seenaknya hanya untuk menggugurkan kewajiban.

Fenomena tahunan lain yang sangat mencolok adalah berbondong-bondongnya artis melaksanakan kegiatan dakwah. Tampak di permukaan pelaku dakwah musiman ini memiliki semangat luar biasa dalam melaksanakan kegiatan dakwah. Namun, satu hal yang sering kali tidak terpikirkan adalah sejauh mana efektivitas dakwah yang dilakukan? Apakah dakwah yang dilakukan para artis ini membawa dampak yang cukup baik bagi pencerahan umat? Ataukah  justru  menjadi bumerang  bagi kegiatan dakwah itu sendiri mengingat profesi artis identik dengan kegiatan yang bertolak belakang dengan dunia dakwah yang sarat dengan nilai religi?

Tontonan dan tuntunan
Menjadi persoalan tatkala dakwah hanya dijadikan tontonan yang berfungsi sebagai hiburan, mengabaikan unsur tuntunan yang seharusnya melekat pada diri pelaku dakwah. Dakwah menuntut keutuhan  pemahaman, ucapan, sikap, dan perilaku. Kalaulah hal itu terus dipaksakan untuk disajikan dengan dalih permintaan pasar, inti dakwah yang sesungguhnya, yaitu perubahan masyarakat ke arah perbaikan bersendikan nilai agama, akan menjadi  kabur. Memang dakwah yang baik sesuai kebutuhan masyarakat dengan menerapkan  metode yang dapat diterima masyarakat. Namun, tak berarti dalam berdakwah  hanya berpatokan pada selera pasar.

Pelaku dakwah harus berani melakukan terobosan yang mendidik dengan menghadirkan aktor-aktor dakwah yang dapat diambil teladannya dan jauh dari perilaku-perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Kita dapat belajar dari keberanian sutradara film Ketika Cinta Bertasbih, Hanung Bramantio, yang  mencoret nama artis ternama Saskia Mecca dari daftar pemain atas  sebuah kesalahan kecil yang dapat merusak secara umum pencitraan film dakwah yang digarap.

Dalam kegiatan dakwah semua unsur harus mengandung kebaikan karena sesuatu yang baik pastilah berasal dari jiwa yang bersih yang memancarkan kekuatan luar biasa untuk melakukan perubahan besar dalam masyarakat. Kita harus percaya masih banyak artis berhati dan berperilaku bersih. Kita pun juga harus memberikan apresiasi kepada artis tertentu yang  mau bergabung dalam dakwah, tentunya dengan komitmen  akan terus istiqomah menebar kebaikan, bukan hanya bersifat musiman yang dapat luntur di tengah jalan. Kita tidak tahu siapa yang telah diberikan hidayah oleh  Allah.

Penyajian dakwah dalam bentuk kegiatan seni harus dipahami bahwa seni hanyalah sebagai pemanis kegiatan dakwah, bukan sebaliknya dakwah sebagai unsur pelengkap dari kegiatan seni yang bersifat komplementer mengikuti  tren yang berkembang. Dengan demikian, tidak terjadi lagi pencampuran antara yang hak dan batil (talbisul haq bilbathil) yang bersumber dari budaya permisif yang berkembang di masyarakat.Sebenarnya saat ini masyarakat sangat mendambakan sajian karya seni yang bertemakan religi, bak seorang musafir yang sedang kehausan. Fakta membuktikan novel Ayat-ayat Cinta yang sarat dengan nilai dakwah karya Habiburrahman sangat laris di pasaran. Bahkan, ketika novel tersebut disajikan dalam karya film, masyarakat memberikan apresiasi luar biasa.

Sungguh sebuah keberhasilan yang patut diajungi jempol di tengah persaingan karya seni yang sangat ketat seseorang berani berlawanan arus dengan tema-tema  yang sudah mapan  di masyarakat, seperti tema pergaulan bebas dan kehidupan hedonis. Ketika masyarakat sudah muak dengan sajian yang tidak mendidik, di sinilah kesempatan para pelaku seni Muslim berkiprah dan mengeksplorasi semua kemampuannya dalam menghasilkan karya seni yang bernilai religi.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan terkait dengan penolakan dunia hiburan yang masih bermazhab hedonis dan materialistis. Dunia bisnis pun akan dengan tangan terbuka menerima karya seni bernuansa dakwah sepanjang semuanya dilakukan secara profesional dan dikemas secara baik. Kini saatnya para pelaku seni Muslim mulai melakukannya secara konsisten dan berkelanjutan, bukan hanya pada momen Ramadhan yang sifatnya musiman. Namun, tidak ada salahnya juga menjadikan bulan Ramadhan  sebagai momen untuk memulainya karena atmosfer yang terbangun pada bulan suci ini sangat mendukung  penerimaan masyarakat terhadap karya seni religi. Secara psikologis umat Islam sebagai komunitas  mayoritas sangat siap menerima  program-program religi  yang ditawarkan.

Akhirnya, semuanya berpulang kepada kita yang telah diberikan status oleh Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi ini untuk melakukan pembaruan (tajdid) diri menuju insan takwa. Sangat naif bagi kita sebagai hamba Allah yang telah diberikan satu bulan khusus untuk melakukan peningkatan  diri, tetapi tidak mampu memanfaatkannya secara optimal. Satu bulan inilah akan yang menentukan kualitas hidup kita pada bulan-bulan berikutnya. Hanya dengan menghidupkan dakwahlah semuanya akan kita raih. [Republika Online]

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment