June 2, 2008
Protes Harga BBM
Oleh Abdul Mongid
Meminimalkan Terjadinya Country Risk
Kebijakan pemerintah untuk menaikan harga BBM telah memicu protes luas. Bahkan, ada upaya pembangkangan para pegawai pemerintah untuk menjalankan program terkait kenaikan harga BBM. Pembangkangan itu nyata terlihat dari komentar para abdi negara, pengamat, dan DPR. Di sisi lain, gerakan mahasiswa menolak kenaikan harga BBM juga telah memicu demo besar-besaran di berbagai kota besar.
Demo mahasiswa yang biasanya elegan dan damai telah dinodai dengan sikap mahasiswa yang terkesan "brutal" dan menggangu ketertiban umum. Bahkan, yang menakutkan, ada kesan naiknya radikalisme mahasiswa dalam menyampaikan pendapat. Hati ini miris melihat mahasiwa yang terdidik, menutup mukanya dengan kain, dan melempari polisi dengan batu. Hati ini miris karena mahasiswa Indonesia telah terasuki sikap dan tindakan seperti "intifada" di Palestina.
Yang mengkhawatirkan ialah sikap polisi yang juga terpancing emosinya dengan melakukan tindakan yang sama radikalnya dengan mahasiswa. Kalau diperhatikan dan dikaji, mahasiwa dan polisi yang sering "head to head" ketika demo ternyata masih belum bisa menjaga sikap dan perilakunya seperti yang seharusnya. Mahasiswa harus menyadari, tidak layak polisi menjadi sasaran pelemparan karena mereka juga "bukan yang diuntungkan" oleh kenaikan harga BBM.
Menaikkan Contry Risk
Protes mahasiswa, sopir, pembangkangan pejabat negara, dan kekerasan polisi yang ditayangkan TV memicu demo di tempat lain. Tentu saja gambar "tawuran" polisi dengan mahasiswa, mahasiswa memblokade jalan, dan mogok para sopir angkutan umum tidak hanya dilihat orang Indonesia, tetapi juga telah menyebar ke berbagai negara. Yang menakutkan lagi, Federasi Serikat Pekerja BUMN juga mengancam mogok. Kalau mahasiswa dan sopir demo, wajar. Tetapi, mereka yang secara ekonomis beruntung, seperti pegawai BUMN, juga protes, pertanyaanya… ada agenda apa?
Kalau protes membuat Indonesia tidak stabil, sebenarnya ini seperti "menyulut api" di tempat yang mudah terbakar. Ini bisa menenggelamkan Indonesia ke permasalahan yang lebih serius. Amerika Serikat baru saja mencabut travel warning bagi warganya untuk bekunjung ke Indonesia. Tetapi, itu tidak ada manfaatnya jika protes harga BBM yang dilakukan makin brutal.
Kalau pembangkangan itu dipersepsi para investor bahwa pemerintahan saat ini tidak kredibel, implikainya sangat luas. Investor asing dan dalam negeri menjadi makin enggan masuk untuk menginvestasikan dananya ke Indonesia. Implikasinya terhadap ekonomi Indonesia serius.
Country Risk Indonesia tentu saja akan meningkat dan membuat Indonesia menjadi negara dengan tingkat kerawanan dan risiko yang tinggi. Akan dihindari untuk bisnis. Paling tidak, turis yang akan datang makin enggan ke Indonesia. Jadi, sebaiknya kita melihat protes atas kenaikan harga BBM dengan sangat waspada. Demikian juga, semua yang berkepentingan dengan agenda kekuasaan tidak memanfaatkan ini untuk tujuan jangka pendek mencari kekuasaan.
Seruan PKB agar dilakukan "impeach" ke pemerintah juga "ganjil". Presiden SBY-Kalla dipilih rakyat secara langsung. Impeach jelas tidak tepat dan tidak mendidik berdemokrasi yang benar. Biarkan publik menilai kebijakan pemerintah. Janganlah para politisi menebarkan ancaman yang malah membuat kehidupan bernegara menjadi ricuh, kontraproduktif, dan mengancam kestabilan nasional.
Di mana-mana di dunia memang terjadi protes kenaikan harga BBM. Di Inggris bahkan terjadi blokade oleh sopir truk menuntut harga BBM lebih murah karena sekarang satu liter mencapai 108 pences (Rp 17.500). Salah satu komponen yang menyebabkan harga BBM di Inggris tinggi adalah pajak BBM. Tetapi, protes yang dilakukan kalangan perguruan tinggi dan LSM di Inggris bukan memblokade jalan atau perusakan, tetapi mengajukan petisi ke parlemen.
Protes dengan petisi tentu lebih efektif kalau DPR kita memang mewakili kepentingan rakyat. Kalau protes dengan blokade jalan, menyerang polisi, atau kerusuhan jelas merugikan rakyat berkali-kali. Kalau protes kenaikan harga BBM dilakukan dengan memblokade jalan, masyarakat selain harus membeli BBM lebih tinggi, harus rela macet dan terganggunya urusan masing-masing. Artinya, masyarakat rugi dua kali.
Penyaluran BLT
Berkaitan dengan BLT (bantuan langsung tunai), memang ini bukan solusi mengatasi dampak kenaikan harga BBM. Namun, kalau kita perhatikan, ternyata terjadi kesenjangan persepsi yang lebar antara para bupati, camat, dan anggota DPR. Mereka menilai, BLT tidak mendidik dan terlalu kecil. Namun, fakta di lapangan berbeda. Masyarakat yang menerima BLT mayoritas menerima dengan senang hati. BLT yang dalam bentuk tunai juga berarti memberikan alternatif penggunaan yang lebih luas daripada kupon subsidi bahan pokok.
Jadi, kesannya mereka yang menolak adalah mereka yang memang tidak membutuhkan Rp 300.000. Sementara yang butuh sangat mengharapkan. Makanya, banyak warga miskin yang mengharap agar mereka yang belum terdaftar juga mendapatkan BLT. Sayang, bupati dan DPRD, tampaknya, acuh tak acuh saja atas tidak meratanya subsidi. Kalau perhatian terhadap masyarakat miskin, seharusnya mereka segera melakukan perubahan APBD untuk memasukan BLT daerah dalam APBD perubahan.
Karena itu, marilah semua memikirkan cara protes kenaikan harga BBM dengan perspektif "damai" , demokratis, dan tertip. Protes harga BBM yang tidak terkendali bisa menjadi pintu destabilisasi nasional. Kalau rasa aman hilang dari negeri ini, biayanya jauh lebih mahal daripada sekadar kenaikan harga BBM. Sekali lagi, yang boleh mengadili SBY-Kalla hanya rakyat, yaitu pada Pemilu 2009. If we vote for other guy, they lose. We, democracy, justice and fairnes win!
Abdul Mongid , dosen STIE Perbanas Surabaya. (Jawa Pos Online)







